Sumber berita: KOMPAS, NO 329 THN 53,SELASA 5 JUNI 2018

Sumber foto: KOMPAS, NO 329 THN 53,SELASA 5 JUNI 2018

Konsistensi BI Ditunggu

Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75 persen direspons positif. Rupiah menguat. Namun, pasar masih menunggu konsistensi kebijakan BI.

JAKARTA, KOMPAS - Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada bulan Mei mendorong penguatan rupiah. Sehari setelah BI menaikkan suku bunga acuan yang kedua kali pada dua pekan terakhir bulan Mei, rupiah menguat, meninggalkan kisaran Rp 14.000 per dollar AS.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, nilai tukar rupiah pada Senin (4/6/2018) Rp 13.872 per dollar AS. Nilai tukar ini menguat dari Kamis (31/5), yakni Rp 13.951 per dollar AS, dan Rabu (30/5) sebesar Rp 14.032 per dollar AS.

Saat ini, pasar menunggu konsistensi kebijakan BI.

’’Meskipun kenaikan suku bunga acuan membuat pasar modal tidak menarik lagi bagi investor, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS meyakinkan investor terhadap stabilitas ekonomi domestik,” ujar analis Narada Kapital Indonesia, Kiswoyo Adi Joe, di Jakarta, Senin.

Penguatan rupiah ini ikut mengerek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 6.000. Kemarin, IHSG ditutup pada
6.014,819 atau menguat 0,522 persen. Kapitalisasi pasar saham Rp 6.736 triliun. Namun, investor asing tercatat membukukan jual bersih Rp 40,479 triliun sejak awal 2018 hingga kemarin.

Untuk menjaga ihomentum positif level IHSG, kata Kiswoyo, emiten harus mampu menjaga kinerja positif mereka di tengah kenaikan suku bunga. Kendati tidak semua emiten terpengaruh, sebagian emiten yang mencari sumber pendanaan dari pinjaman bank atau penerbitan surat utang akan terbebani kenaikan suku bunga

’’Biasanya, surat utang emiten lama menggunakan patokan suku bunga tetap sehingga saat suku bunga berubah, bunga utang lama tidak terpengaruh. Lain halnya jika emiten sebelumnya menerbitkan surat utang atau meminjam bank dengan suku bunga berubah,” ujarnya.

Pada saat suku bunga naik, emiten bisa memilih sumber pendanaan lain, seperti penawaran saham terbatas. Perusahaan yang belum melantai di Bursa Efek Indonesia, menurut Kiswoyo, juga bisa mempertimbangkan

 

penawaran saham perdana

Sementara Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital Sekuritas, menyebutkan, kebijakan BI berdampak positif. Sebab, pasar tak lagi mengkhawatirkan depresiasi rupiah.

Meski demikian, Alfred menyampaikan, ada dua hal negatif yang bisa memicu kekhawatiran pasar modal. Satu, kenaikan suku bunga yang akan menahan laju pertumbuhan ekonomi. Dua, kekhawatiran biaya dana perusahaan dan emiten.

”Ini masih harus ditunggu, apakah perbankan ikut-ikutan menaikkan suku bunga kredit saat ada kenaikan 50 bps terhadap suku bunga acuan BI,” katanya.

Lebih lanjut Alfred menyampaikan, pasar menunggu konsistensi BI, terutama terkait perbankan yang diharapkan tak menaikkan suku bunga pasca-ke- naikan suku bunga acuan BI.

Atraktif

Pasca-kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 4,75 persen, perdagangan Surat Berharga Negara kembali atraktif. Hal ini terjadi seiring penguatan nilai tukar

 

rupiah terhadap dollar AS.

’’Dengan penguatan rupiah, pasar SBN jadi atraktif kembali. Ramainya transaksi SBN mendorong kenaikan harga SBN. Dengan kata lain, imbal hasil turun,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Ke- menterian Keuangan, Luky Al- firman, di Jakarta, kemarin.

Pada 31 Mei, imbal hasil tenor 10 tahun dan 5 tahun turun pada rentang 5-17 bps. Transaksi di pasar SBN per 30 Mei’ 2018, menurut Luky, masih mencatatkan penjualan bersih oleh investor asing senilai Rp 349 miliar. Namun, sehari pascakenaikan suku bunga acuan menjadi 4,75 persen, transaksi oleh investor asing mencatatkan pembelian bersih hingga mencapai Rp 6,27 triliun.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, posisi kebijakan moneter BI yang cenderung ketat akan memperbesar rentang antara suku bunga di AS dan di Indonesia. Hal ini akan membuat aset investasi dalam denominasi rupiah menjadi lebih menarik.

Selain dipengaruhi ekspektasi
kenaikan suku bunga BI, menurut Josua, apresiasi di pasar obligasi juga dipengaruhi masuknya aliran modal asing.

Sementara itu, pengembang listrik dari energi terbarukan ter-, kena dampak kenaikan suku bunga. Sebab, jika perbankan menaikkan suku bunga—mengikuti kenaikan suku bunga acuan— proyek pembangkit listrik energi terbarukan akan semakih sulit memperoleh pembiayaan bank.

Saat ini, dari 70 kontrak jual beli tenaga listrik energi terbarukan, sebanyak 46 kontrak kesulitan memperoleh pembiayaan.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air Riza Husni, suku bunga pinjaman secara otomatis akan naik dengan kenaikan suku bunga bank. Namun, selain masalah pembiayaan yang dihadapi pengembang, skema kontrak jual beli tenaga listrik yang lebih ramah lingkungan juga dibutuhkan pengembang.

Sementara PT Adaro Energy Tbk mengatakan tidak mendapat masalah dengan kenaikan suku bunga acuan. (DIM/LAS/APO)

menu
menu