Sumber berita: KOMPAS, NO 006 THN 54, SELASA 3 JULY 2018

Sumber foto: Tribunkaltim | ). PT Pertamina (Persero) menaikkan harga bahan bakar minyak jenis pertamax Rp 600, menjadi Rp 9.500 per liter di Jawa dan Bali per 1 Juli 2018. Kenaikan harga minyak dunia jadi pendorong kenaikan itu.

Konsumsi Berpotensi Naik

Kenaikan harga pertamax berpotensi menaikkan konsumsi premium. Hal itu menjadi langkah mundur bagi upaya mendorong pemakaian bahan bakar ramah lingkungan.

JAKARTA, KOMPAS - Kenaikan harga bahan bakar minyak jenis pertamax berpotensi membuat konsumsi premium meningkat. Hal itu akan menjadi langkah mundur terkait kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah perlu mengampanyekan pentingnya pemakaian bahan bakar ramah lingkungan secara masif.

Mulai 1 Juli 2018, harga pertamax naik Rp 600 per liter di sebagian besar wilayah di Indonesia. Di Jawa dan Bali, harga pertamax menjadi Rp 9.500 per liter. Sebelum kenaikan itu, konsumsi premium meningkat 23 persen menjadi 31.716 kiloliter per hari yang terjadi selama periode 31 Mei sampai 28 Juni 2018.

Pengajar pada Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti, Jakarta, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan, terdapat selisih harga signifikan antara premium dan pertamax. Saat ini, harga premium ditetapkan Rp 6.450 per liter. Selisih harga yang signifikan masih jadi pertimbangan konsumen untuk membeli bahan bakar.

’’Apalagi, ada kebijakan baru yang mewajibkan penyediaan premium di Jawa dan Bali yang diikuti penambahan kuota,” ujar Pri Agung, Senin (2/7/2018), di Jakarta.

Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal Ahmad Safrud- din mengatakan, peningkatan konsumsi premium menjadi langkah mundur upaya pemerintah mendorong pemakaian bahan bakar yang ramah lingkungan. Pasalnya, kandungan belerang premium mencapai 200 part per million (ppm). Padahal, mesin kendaraan terbaru mensyaratkan ambang batasi kadar belerang maksimum 50 ppm.

’’Selain itu, pemakaian BBM yang tak sesuai dengan kebutuhan mesin bakal merugikan konsumen. Sebab, selain menimbulkan emisi yang lebih tinggi, konsumsi BBM menjadi lebih boros 10-20 persen,” kata Ahmad.

Sebelumnya, pemerintah merevisi Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran BBM. Dengan revisi itu, Pertamina yang semula tidak diwajibkan menjual premium di Jawa dan Bali, kini wajib menyediakan premium.

Tercatat ada 571 stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) baru yang wajib menjual premium di Jawa dan Bali. Dengan revisi perpres itu, pemerintah menambah kuota premium tahun ini yang semula ditetapkan sebanyak 4,5 juta kiloliter menjadi 7,5 juta kiloliter.

Jaga harga
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan peraturan bernomor P.20/MEN- LHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, Kategori N, dan Kategori O.

Dalam aturan penggunaan BBM bagi kendaraan roda empat itu, RON minimal yang dipersyaratkan adalah 91. Adapun BBM jenis premium memiliki RON 88.

Hal berbeda disampaikan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Partai Golkar Eni Maulani Saragih. Ia meyakini kenaikan harga pertamax tidak membuat konsumen pertamax beralih ke premium. Sebab, pangsa pasar pertamax didominasi masyarakat mampu.

Pertamina beralasan, kenaikan harga pertamax disebabkan naiknya harga minyak mentah dunia yang saat ini rata-rata 75 dollar AS per barrel, berbeda jauh dengan asumsi APBN yang 48 dollar AS per barrel. Komponen harga minyak mentah dunia berkontribusi 93 persen terhadap harga jual BBM di Indonesia.

Pemerintah menyatakan tidak tinggal diam menghadapi kian tingginya harga minyak dunia Pemerintah mengupayakan harga tiga jenis bahan bakar, yakni premium, solar, dan pertalite tetap stabil.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, Senin kemarin, menyampaikan, pemerintah sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia agar harga BBM tetap stabil. Salah satu strateginya, menaikkan subsidi BBM.
Pemerintah melalui Kemente- rian Keuangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Kementerian Badan Usaha Milik Negara bahkan berencana menambah subsidi solar. Jika saat ini pemerintah mengalokasikan subsidi untuk solar sebesar Rp 500 per liter, ke depan direncanakan menjadi Rp 2.000 per liter.

Strategi lain yang disiapkan Pertamina menghadapi kenaikan harga minyak dunia adalah melakukan kontrak pembelian di awal. Dengan begitu, Pertamina bisa mendapatkan bahan baku minyak dengan harga yang sama saat kontrak dilakukan. Langkah terakhir yang disiapkan adalah menjual sebagian saham blok minyak bumi dan gas yang dimiliki. (APO/NTA)

menu
menu