Sumber berita: KOMPAS, NO 041 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: iNews.id

Konsumsi Jadi Penggerak

Pertumbuhan ekonomi triwulan 11-2018 sebesar 5,27 persen melebihi ekspektasi. Namun, konsumsi rumah tangga mesti diperhatikan karena ditopang pemerintah.

JAKARTA, KOMPAS - Perekonomian Indonesia pada triwulan 11-2018 tumbuh 5,27 persen dibandingkan dengan triwulan 11-2017. Produk domestik bruto pada triwulan 11-2018 sebesar Rp 3.683,9 triliun. Konsumsi rumah tangga menjadi sumber tertinggi pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, pertumbuhan konsumsi rumah tangga perlu diperhatikan. Sebab, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan 11-2018 ditopang pengeluaran pemerintah, terutama bantuan sosial (bansos) dan tunjangan hari raya (THR), serta pemilihan kepala daerah (pilkada) di 171 daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga pada triwulan 11-2018 tumbuh 5,14 persen, lebih baik dari triwulan 1-2018 yang sebesar 4.95 persen. Kontribusinya terhadap PDB 55,43 persen.

"Pertumbuhan konsumsi rumah tangga antara lain ditopang faktor musiman periode Lebaran, bantuan sosial, THR, dan pilkada Untuk bansos, realisasinya pada triwulan 11-2028 sebesar 27,19 triliun, naik 67,57 persen dibandingkan dengan triwulan 11-2017,” kata Kepala BPS Su- hariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (6/8/2018).

Suhariyanto menambahkan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III dan TV diperkirakan tidak sekuat triwulan 11-2018. Konsumsi rumah tangga bisa kuat jika ada yang menggerakkan, seperti meratanya serapan dan realisasi anggaran pemerintah, serta persiapan pemilu.

Laju Pertumbuhan Tahunan
Triwulan II, sejak awal tahun nance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2018 cukup mengejutkan karena melebihi ekspektasi.

Konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Namun, hal itu dikhawatirkan temporer karena didorong faktor musiman Lebaran, THR pegawai negeri sipil, pilkada, dan bansos.

"Belanja pemerintah memang besar-besaran. Konsumsi pemerintah triwulan 11-2018 tumbuh 5,26 persen, lebih baik dari periode yang sama 2017 yang minus 1,93 persen. Sayangnya, belanja itu bersifat konsumtif bukan produktif karena banyak dipakai untuk bansos, THR, dan pilkada,” ujarnya

Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Kantor Ekonom Bank Mandiri Dendi Ram- dani menambahkan, pertumbuhan konsumsi memang karena faktor musiman. Namun, peningkatan itu mengindikasikan daya beli dan kepercayaan konsumen yang mulai membaik.

Impor
BPS juga menyebutkan, impor menggerakkan pertumbuhan industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga Namun, impor yang melonjak menahan laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan 11-2018.

Pertumbuhan impor pada triwulan 11-2018 sebesar 15,17 persen, sedangkan ekspor 7,7 persen. Hal itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi dari sektor selisih ekspor dan impor minus 1,21 persen secara tahunan.

Sementara itu, investasi pada triwulan 11-2018 hanya tumbuh 5,87 persen. Investasi itu tumbuh lambat dari triwulan 1-2018 yang sebesar 7,95 persen.Menurut Bhima, peningkatan impor perlu dicermati. Proteksi dagang ke negara tujuan ekspor, fluktuasi harga minyak mentah dan sejumlah komoditas, serta pelemahan nilai tukar rupiah bisa menghambat kineija ekonom: hingga akhir tahun.

Pertumbuhan ekonomi disambut pelaku pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Senin, menguat 1,56 persen ke posisi 6.101,131.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, lonjakan IHSG terjadi bersamaan dengan rilis data pertumbuhan ekonomi triwulan 11-2018. "PDB yang membaik menambah daya tahan IHSG terhadap sentimen negatif globaL” ujarnya

Menteri Keuangan Sri Mul- yani Indrawati di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, menyatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan 11-2018 di atas perkiraan. Sebelumnya, Kemenkeu memperkirakan 5,17 persen.

Faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi triwulan 11-2018 lebih tinggi dari perkiraan, menurut Sri Mulyani, adalah laju konsumsi rumah tangga

"Berarti stabilisasi harga yang kita lakukan pada hari raya, bulan puasa dan libur panjang menimbulkan pengaruh yang bagus. Bergesernya panen serta THR dan gaji ke-13 (untuk pegawai negeri sipil) memberikan hasil positif,” kata Sri Mulyani.

Sementara untuk ekspor, menurut Sri Mulyani, pertumbuhannya tidak setinggi yang diharapkan. Adapun impor yang dalam perhitungan konsolidasi produk domestik bruto bersifat mengurangi ekspor, pertumbuhannya jauh di atas perkiraan. (HEN/DIM/LAS)

 

menu
menu