Sumber berita: KOMPAS, NO 016 THN 54, JUMAT 13 JULI 2018

Sumber foto: PressReader, kompas, Presiden Joko Widodo meninjau pameran usaha kecil dan menengah (UKM) yang menjadi bagian dalam peringatan Hari Koperasi Nasional Ke-71 yang digelar di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (12/7/2018). Pada kesempatan itu, Presiden meminta para pelaku koperasi memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk menarik perhatian konsumen dan memperluas pemasaran.

Koperasi Hadapi Kompetisi

Jumlah koperasi berkurang dari 212.570 unit pada tahun 2014 menjadi 152.714 unit saat ini. Kontribusi pada produk domestik bruto pun naik, tetapi koperasi perlu terus berinovasi.

TANGERANG, KOMPAS - Pertumbuhan koperasi di Indonesia dinilai cukup baik. Namun, perubahan zaman dan persaingan di era globalisasi sangat cepat Koperasi-koperasi di Indonesia perlu berinovasi dan memanfaatkan teknologi serta terus berkembang.

Berdasarkan data Kementeri- an Koperasi dan UKM, tercatat ada 152.714 koperasi yang benar-benar aktif saat ini. Jumlah ini berkurang dari tahun 2014 yang masih 212.570 koperasi. Pengurangan ini disebabkan pembubaran koperasi yang sudah tidak aktif.

Meski demikian, kontribusi koperasi pada produk domestik bruto nasional terus meningkat. Pada 2014, kontribusi koperasi hanya 1,71 persen dan pada 2016 sebesar 3,99 persen. Tahun 2018, kontribusi koperasi pada PDB mencapai 4,48 persen.

Peningkatan ini dinilai Presiden Joko Widodo cukup baik. Namun, bukan sekadar peningkatan, dia berharap terjadi ’’lompatan” dalam sistem ekonomi gotong-royong yang dimiliki Indonesia ini Dalam sambutannya pada peringatan Hari Koperasi Nasional Ke-71, di Tangerang, Banten, Kamis (12/7/2018), kepada para pegiat koperasi,

Presiden mengingatkan bahwa kemajuan teknologi, era globalisasi yang sangat terbuka, dan persaingan global dihadapi semua, termasuk koperasi. Presiden berharap koperasi- koperasi di Indonesia meniru koperasi-koperasi terbaik di dunia

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution serta Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga Presiden memberi dua contoh, Fonterra dan Ocean Spray. Fon- terra adalah koperasi yang dimiliki 10.500-an petani di Selandia Baru. Kini, Fonterra dengan berbagai produk susu dan turunan susu beromzet hampir 20 miliar dollar Selandia Baru per tahun. Fonterra juga mencakup 30 persen pangsa pasar produk susu dan turunan susu di dunia.

Adapun Ocean Spray adalah koperasi yang mengembangkan buah cranberry. ’’Dari awalnya hanya mengumpulkan buah dari petani dan menjualnya, lalu mengembangkan produk minuman jus cranberry, membuat kismis cranberry sampai saus untuk es krim Sekarang produknya menyebar ke seluruh dunia dan omzetnya miliaran dollar AS atau puluhan triliun rupiah. Produk- produk seperti ini kita punya banyak sekali,” tutur Presiden Joko Widodo.

Ada koperasi-koperasi di Indonesia yang dinilai mulai maju. Dua di antaranya adalah Kospin Jasa Pekalongan yang sudah masuk bursa dan Koperasi Sidogiri yang memiliki omzet lebih dari Rp 16 triliun per tahun.

Meski demikian, Indonesia tetap harus belajar dan meniru korporatisasi koperasi yang diterapkan di negara-negara lain. ’’Tiru, modif sedikit, dan kita melompat. Kita juga ingin perusahaan terbesar di Indonesia adalah koperasi,” tambah Presiden.

Teknologi
Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia Nurdin Halid mengatakan, revitalisasi koperasi memang perlu dilakukan. Koperasi dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitasnya dengan menerapkan teknologi digital. Akan tetapi, fokus pada pengembangan/promosi, dan pemasaran produk unggulan koperasi tetap menjadi prioritas.

Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Koperasi Suroto berpendapat, koperasi perlu mendapatkan perlakuan yang sama seperti pelaku usaha otonom. Dampaknya, koperasi dapat masuk ke dalam sektor bisnis yang strategis.

Sejumlah pelaku memiliki pendapat beragam tentang keberadaan koperasi. Kasbola (50), perajin tempe sekaligus anggota Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti)' Jakarta Selatan, berpendapat, layanan koperasi tempe dan tahu masih diminati karena menjamin ketersediaan bahan baku kedelai dan kemudahan mengakses dana simpan pinjam.

Wahyu Yuyun S, Manajer Kredit Union Bina Seroja, di Cawang, Jakarta Timur, berpendapat, koperasi harus mampu mengikuti zaman. Selain berinovasi mengikuti perkembangan zaman, koperasi juga tetap berorientasi menyejahterakan anggotanya.
(INA/JUD/E14/E02/E04)

menu
menu