Sumber berita: KOMPAS, NO 329 THN 53,SELASA 5 JUNI 2018

Sumber foto: KOMPAS, NO 329 THN 53,SELASA 5 JUNI 2018

Krisis Politik Italia

Pemilu Italia,

4 Maret 2018, menyisakan krisis politik. Kekalahan telak Partai Demokrat (kiri-tengah) dan Forza Italia (kanan-tengah) dalam pemilu telah mengubah lanskap perpolitikan Italia.

P

artai Demokrat yang sebelumnya memerintah hanya meraih 18,9 persen suara dari 46,5 juta pemilih, turun 6,5 persen dibandingkan Pemilu 2013. Sementara Partai Forza Italia di bawah Silvio Berlusconi hanya meraih 13,94 persen suara, turun 7,66 persen. Persentase suara dihitung dari kumulatif kursi parlemen Chamber of Deputies (630 kursi) maupun Senat (320 kursi).

Di pihak lain, dua partai politik meningkat perolehan suaranya secara signifikan. Five Star Movement (M5S) yang ’’populis” (antikemapanan) menjadi partai politik dengan perolehan suara terbanyak, 32,22 persen atau naik 6,62 persen dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Selain itu, Partai Lega (ultra-ka- nan) berhasil mengantongi 17,69 persen, meningkat 13,59 persen. Kemenangan kedua partai ini merupakan manifestasi ’’kemarahan publik” atas ekonomi yang stagnan, tingginya pengangguran, dan kehadiran ratusan ribu imigran pada pemerintahan sebelumnya.

Setelah dua bulan berunding, M5S dan Lega bersepakat membentuk kabinet koalisi dengan mengajukan Giuseppe Conte, seorang profesor hukum, sebagai calon perdana menteri Namun, rencana itu buyar setelah pada 27 Mei, Presiden Sergio Mattarella menolak pencalonan Paolo Savona, seorang ekonom, sebagai menteri perekonomian dan keuangan. Menyikapi ’’veto” Mat-
tarella ini, Conte mengundurkan diri sebagai protes.

Faktor Uni Eropa

Kini Italia menghadapi krisis. Masa depan hubungan Italia-Uni Eropa (UE) di simpang jalan.

Sebagaimana negara-negara UE lainnya, masyarakat Italia saat ini terbelah antara pendukung keanggotaan Italia dalam UE dengan mereka yang skeptis terhadap UE, bahkan menginginkan Italia keluar dari UE. Kemenangan M5S dan Lega mewakili aspirasi rakyat Italia yang skeptis terhadap UE. Argumentasi kelompok ink UE terlalu mendikte Italia dengan berbagai regulasi dan UE hanya menguntungkan Jerman dan Perancis. Ditambah lagi bantuan UE dalam penanganan masalah migran di Italia tidak mereka rasakan.

Penolakan Mattarella atas- pencalonan Savona, terutama disebabkan Savona dinilai berpandangan skeptis, bahkan anti-UE dan anti-euro. Dikhawatirkan, dia akan memelopori Italia keluar dari UE. Selain itu, pengangkatan Savona dinilai dapat melemahkan perekonomian Italia Dalam pernyataannya, Savona menyangkal tuduhan ini.

Terlepas dari orientasi politik dan ekonomi Savona, koalisi M5S dengan Lega memang menunjukkan tanda-tanda yang tak ramah terhadap UE. Mereka melakukan ’’kontrak politik” yang antara lain berisi kebijakan penurunan pajak, merenegosiasi keanggotaan dalam UE, pemulangan 500.000 migran ilegal, dan pengakhiran sanksi terhadap Rusia Bagi pihak yang pro-UE, tiga kebijakan terakhir dinilai membahayakan posisi. Italia dalam UE. Padahal, Italia merupakan salah satu pendiri European Economic Community dan pendukung mata uang euro. EEC merupakan cikal bakal UE.

Pergeseran pendulum politik di Italia dari negara pendiri UE jadi skeptis terhadap UE mendapat dukungan tokoh ultra-ka- nan Perancis, Marine Le Pen; pelopor Brexit, Nigel Farage; serta pembantu Presiden Trump, Stephen Bannon. Sementara Presiden Perancis Emmanuel Ma

 

cron memberi dukungan atas ke- putusan Mattarella menolak susunan kabinet Conte. Diduga, Mattarella ingin mencegah kemungkinan pemerintahan baru mendorong rakyat Italia keluar dari UE melalui referendum.

Guna mengatasi krisis politik, pada 28 Mei, Presiden Matteralla menunjuk Carlo Cottarelli, mantan pejabat IMF, untuk membentuk pemerintahan sementara. Tugas pemerintahan sementara antara lain mengajukan anggaran, mengusulkan pembubaran parlemen, serta menyelenggarakan pemilu. Di sisi lain, penunjukan pemerintahan sementara ini mendapat tantangan baik dari M5S maupun Lega Menurut pimpinan Lega, Matteo Salvini, Presiden Mattarella lebih mengutamakan kepentingan negara-negara Eropa ketimbang rakyat Italia. Sementara Luigi Di Maio, Ketua M5S, menyerukan pelengseran Mattarella.

Perlu dicatat, bila pemerintahan sementara memperoleh dukungan parlemen, maka pemilu dapat diselenggarakan awal 2019.Namun, jika mayoritas parlemen mengajukan mosi tidak percaya, pemilu akan digelar September 2018. Diperkirakan anggota-anggota parlemen dari M5S dan Lega tak akan mendukung pemerintahan baru Cottarelli. Begitu pula partai milik Silvio Berlusconi, Forza Italia Satu-satunya partai politik yang mendukung hanya Partai Demokrat.

Pemilu ulang akan menentukan arah politik Italia ke depan, khususnya terkait UE. Bila M5S dan Lega kembali memenangi pemilu, potensi Italia meninggalkan UE terbuka Roger Kohen, dalam tulisan di New York Times
(7/3), berpendapat Eropa terdi- kotomi antara paham demokrasi liberal pro-UE yang ditopang Pe- rancis-Jerman di bawah Macron dan Merkel dengan gerakan illiberal, seperti teijadi di Hongaria, Polandia, dan kini Italia.

Italia dan Uni Eropa

Kemenangan M5S dan Lega dalam pemilu Maret 2018 menandai semakin menguatnya fenomena populis ultra-kanan di Eropa Sebelumnya dukungan rakyat terhadap partai-partai populis ultra-kanan telah menguat di Perancis, Belanda Jerman, Austria, Swedia Norwegia Finlandia Denmark, Yunani, Spanyol, dan Swiss. Populisme ul- tra-kanarl yang naik daun merupakan ancaman keutuhan UE.

Bagi Italia, sebagai negara dengan tingkat perekonomian terbesar ketiga di UE, sesungguhnya masih memerlukan UE. Secara geopolitik, masa depan Italia berada di Eropa, bukan di benua lain. Persoalannya sekarang hanya bagaimana Italia dengan utang 2,7 triliun dollar AS (setara 132 persen dari GDP) secara konsisten mengikuti regulasi UE guna menghindari diterapkannya austerity measures sebagaimana Yunani. Bersama UE, Italia bisa membangun perekonomiannya.

Tampaknya, harga terlalu mahal bila UE yang dibangun sebagai reaksi atas robohnya Tembok Berlin dan runtuhnya sistem sosialisme di Eropa Timur harus bubar berantakan. Kini saatnya Eropa memperkuat integrasinya berlandaskan nilai-nilai yang dianut selama ini sekaligus mencari solusi atas meningkatnya ’’kemarahan publik” atas UE. Khusus bagi Italia, UE perlu lebih serius membantu Italia dalam mengatasi persoalan membanjirnya kaum migran, khususnya yang datang dari Afrika Utara

Meski akhirnya kabinet koalisi M5S dan Lega di bawah Perdana Menteri Conte terbentuk pada 1 Juni, tetapi tidak berarti Italia terlepas dari krisis politik. Hal ini disebabkan dalam kondisi Italia saat ini tidak akan mudah menerjemahkan janji-janji kampanye dalam realitas.

 

menu
menu