Sumber berita: KOMPAS. N0 42 THN-54 RABU 08 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kumparan.com

Kubu Djan Faridz Minta Islah

PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Upaya islah antara pengurus Partai Persatuan Pembangunan hasil Muktamar Jakarta yang dulu dipimpin oleh Djan Faridz dan PPP kubu Romahurmuziy sedang dijajaki. Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP hasil Muktamar Jakarta, Humphrey Djefnat, menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj, Selasa (7/8/2018), di Kantor PBNU, Jakarta, untuk membicarakan rencana islah itu.

Dalam pertemuan itu, Humphrey yang datang bersama Su- harso Monoarfa meminta Said Aqil untuk menjadi jembatan atau mediator islah antara kedua kubu PPP tersebut. Islah diharapkan bisa dilakukan setelah Musyawarah Kerja Nasional PPP kubu Muktamar Jakarta pada Oktober mendatang.

"Kami ini ibarat seorang anak yang sedang ada masalah dan datang ke bapaknya untuk minta ditengahi oleh bapaknya. Kami datang ke Ketua Umum PBNU ini sudah tepat. Kalau nanti Tuhan memberikan kekuatan luar biasa dan kami bisa bersatu, ini akan jadi langkah luar biasa dan akan ada perubahan politik dengan upaya ini,” ujar Suharso, mantan Wakil Ketua Umum PPP.

Said Aqil menyambut baik upaya positif PPP kubu Djan Faridz. Setelah Djan Faridz mengundurkan diri, Humphrey Dje- mat ditflnjuk sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP hasil nuktamar Jakarta

Al Quran mengajarkan, percuma hidup dalam organisasi masyarakat dan berpolitik atau bernegara, kecuali hal itu dilakukan untuk tiga tujuan, yakni menghilangkan kemiskinan, membangun kebaikan, dan menyolidkan masyarakat. Saya pernah menjadi mediator perdamaian antara Sunni dan Syiah di Irak, masak sekarang tidak bisa membantu islah PPP,” kata Said.

Perpecahan di tubuh PPP pun dinilai akan merugikan umat Islam. Apalagi, partai tersebut didirikan oleh para tokoh NU, seperti Bisri Syansuri, yang merupakan salah satu pendiri NU dan kakek Abdurrahman Wahid dari pihak ibu, serta Nyai Sholehah, ibu Gus Dur. "Islahnya PPP akan memperkuat demokrasi dan persatuan-kesatuan bangsa ini,” kata Said Aqil.

Humphrey tak menampik anggapan bahwa upaya islah ini juga merupakan bagian dari upaya elemen partai dalam menghadapi perkembangan politik nasional. Mengenai kemungkinan dukungan kepada calon presiden tertentu dalam Pemilu 2019, ia mengatakan, hal itu akan mengalir dan bergantung pada upaya islah yang dilakukan kedua belah pihak.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani mengatakan, pada prinsipnya pihaknya membuka diri terhadap islah. Bahkan, upaya islah itu sebenarnya telah berjalan sejak April 2016 ketika digelar muktamar di Pondok Gede.

’’Saat itu ada 46 pengurus di bawah Pak Djan Faridz bergabung dalam kepengurusan PPP di bawah Romahurmuziy. Sejak saat itu, proses islah terus meluas sampai ke tingkat daerah dan puncaknya adalah pada saat pencalegan untuk Pemilu 2019, sekitar 2-3 bulan lalu. Banyak pengurus dan jajaran yang tadinya di bawah Djan Faridz menjadi caleg PPP, baik di tingkat pusat maupun DPRD provinsi atau kabupaten/kota,” kata Arsul.

Arsul menilai, proses islah tidak rumit asalkan ada kemauan dari semua pihak untuk berdialog atau berdiskusi. (REK)

 

menu
menu