Sumber berita: KONTAN, NO 3349 THN 12, RABU 6 JUNI 2018

Sumber foto: KONTAN, NO 3349 THN 12, RABU 6 JUNI 2018

Lippo Karawaci Refinancing Utang

JAKARTA. PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berupaya mengelola beban utangnya melalui skema refinancing. Emiten properti Grup Lippo ini telah menerbitkan obligasi senior atau senior note US$ 75 juta dengan bunga 9,625% dan jatuh tempo pada 2020.

Penerbit surat utang ini adalah anak usaha LPKR, yakni Theta Capital Pte Ltd, yang berbasis di Singapura dengan skema penawaran private placement. LPKR telah meneken subscription agreement dengan Deutsche Bank AG Singapura selaku agen penempatan, serta beberapa investor yang memenuhi persyaratan untuk ambil bagian.

Presiden Direktur LPKR Ketut Budi Wijaya menjelaskan, seluruh dana obligasi digunakan untuk refinancing. "Obligasi ini sudah diterbitkan dan sudah closing," kata dia seusai rapat umum pemegang saham (RUPS) LPKR, Selasa (5/6). Dus, LPKR telah meraup dana US$ 75 juta atau Rp 1,04 triliun (asumsi kurs Rp 13.874 per dollar AS).

Mengacu laporan keuangan LPKR di kuartal 1-2018, tercatat utang usaha emiten ini mencapai Rp 1,18 triliun serta utang bank jangka pendek Rp 1,34 triliun. Secara total, liabilitas jangka pendek, termasuk utang dan’kewajiban lain, mencapai Rp 8,88 triliun. Kewajiban ini merupakan utang usaha dan utang jangka pendek dalam mata uang rupiah. LPKR juga memiliki utang mata uang asing dengan nilai total setara Rp 13,03 triliun.

Ke depan, LPKR akan mengurangi utang dengan fokus pada pengurangan aset melalui skema Dana Investasi Real Estate (DIRE), yang ditangani anak usahanya, Lippo Malls Indonesia Retail Trust. "Ada satu aset mal yang kami siapkan, namun tidak bisa kami disclose dulu. Namun kami targetkan kuartal empat sudah selesai," ungkap Ketut.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai, penerbitan obligasi dengan maksud refinancing jelas merupakan langkah kurang produktif. Sebab, hal ini akan menambah beban utang dalam jangka panjang.

Penerbitan obligasi lebih

bermanfaat dan bakal mendapat respons positif dari pelaku pasar apabila digunakan untuk ekspansi, bukan membayar utang. Padahal debt to equity ratio (DER) LPKR sudah besar, yakni 92,61%.

Nafan tidak bisa memberikan rekomendasi saham

LPKR. "Jika konsisten bergerak di atas Rp 360 atau bisa break ke Rp 400, baru investor bisa melirik saham ini dan mempertimbangkan untuk masuk," kata Nafan. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga LPKR masih berada di Rp 370 per saham. ■

menu
menu