Sumber berita: KORAN SINDO, NO 4655 THN 32, KAMIS 7 JUNI 2018

Sumber foto: KORAN SINDO, NO 4655 THN 32, KAMIS 7 JUNI 2018

Mantan Ketua PT Manado Divonis6Tahun

JAKARTA - Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) menjatuhkan hukuman 6 tahun penjara terhadap terdakwa penerima suap yang juga mantan Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Manado Sudiwardono.

Dalam persidangan berbeda, terdakwa pemberi suap anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Golkar Aditya Anugrah Moha alias Didi juga dihukum dengan pidana penjara selama 4 tahun. Perkara Sudiwardono dan Didi ditangani majelis hakim yang terdiri atas Mas’ud sebagai ketua dengan anggota Hastoko, Haryono, Ugo, Muhammad Idris, dan MuhammadAmin.

Majelis hakim menilai, Sudiwardono terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah menurut hukum melakukan tipikor dalam delik penerimaan suap. Adapun Didi terbukti da- lamdelikpemberian suap. Uang suap yang ditransaksikan sebesar 110.000 dolar Singapura dari total komitmen fee (janji) sebesar 120.000 dolar Singapura. Uang suap diserahterimakan dalam dua tahap.

Pertama, sebesar 80.000 dolar Singapura diterima Sudiwardono dari Didi pada 12 Agustus 2017 saat mendatangi rumahnya di Perumahan Griya Suryo Asri G9, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Kedua, sebe
sar 30.000 dolar Singapura diserahkan Didi ke Sudiwardono pada 6 Oktober 2017 di Jakarta sebelum terjadioperasitangkap tangan (OTT)KPK.

Majelis hakim meyakini, uang suap tersebut digunakan untuk dua kepentingan pengurusan di tahap banding Pengadilan Tinggi Manado atasputu- san Pengadilan Tipikor Manado terhadap terdakwa Marlina Moha Siahaan selaku bupati Bo- laang Mongondow periode 2001-2006 dan 2006- 2011 dalam perkara korupsi. Marlina adalah ibu kandung Didi.

Kepentingan pertama untuk keringanan putusan bahkan hingga putusan bebas di tingkat banding dari vonis 5 tahun penjara di Pengadilan Tipikor. Kepentingan kedua agar Marlina tidak ditahan di tahap banding.

“Mengadili, menjatuhkanpi- dana penjara kepada terdakwa Sudiwardono selama 6 tahun ditambah denda Rp300 juta dengan ketentuan bila tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan,” tandas Ketua Majelis Hakim Mas’ud. “Mengadili,” lanjut Masiud,
“menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Aditya Anugrah Moha selama 4 tahun dan pidanadendasebesarRpl50juta dengan ketentuan bila tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan.”

Perbuatan Sudiwardono dan Didi terbukti sebagaimana dalam dakwaan kesatu dan kedua dalam dakwaan masing-masing. Dalam pertimbangan putusan, majelis hakim memastikan, dari uang suap tahap perta- mayangditerimaSudiwardono, sudah ada yang dipergunakan untuk beberapa keperluan dan kepentingan.

Di antaranya pembayaran utang, keperluan rumah tangga Sudiwardono dan istri, pemberian ke anak Sudiwardono bernama Tyas Susetyaningsih, untuk membayar cicilan mobil dan jaminan BPKB mobil, dan untuk akreditasi penjaminan mutu Pengadilan Tinggi Manado.

Dalam menjatuhkan amar putusan, majelis hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan bagi Sudiwardo- nodan Didi. Anggota majelis hakim MuhammadAmin menyatakan, hal-hal meringankan bagi Sudiwardono adalahberterus terang atas perbuatannya, menyesali perbuatan yang dilakukannya, dan belum pernah dihukum.

Pertimbangan memberatkan bagi Sudiwardono ada tiga. Pertama, tidakmendukungpro- gram pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN).

Kedua, Sudiwardono merupakan aparat penegak hukum atau hakim yang menduduki jabatan selaku ketua pengadilan tinggi sehingga seharusnya menjadi contoh yang baik para hakim dan aparat penegak hukum lain di wilayah kerjanya.

“Ketiga, terdakwa (Sudiwardono) mencoreng nama baik dunia peradilan di Indonesia,” tandas Amin. Pertimbangan meringankan bagi Didi adalah berlaku sopan selama persidangan, mau mengakui kesalahan dan menyesali perbuatan, dan masih memiliki tanggungan keluarga.

Yangmemberatkanadadua. Masing-masing tidak mendukung pemerintah yang sedang gencar memberantas korupsi dan dia sebagai anggota DPR tidak memberikan teladan yang baik kepada masyarakat.‎ Sudiwardono mengaku masihpikir-pikir atas putusan tersebut, sedangkan Aditya Anugrah Moha alias Didi mengaku menerima putusan.

Diamengakuikesalahandan

perbuatannya. Meski begitu Didi mengklaim apa yang dilakukannya untuk menjaga harkat dan martabat ibu kandungnya, Marlina. “Saya melakukan
guna menjaga harkat dan martabat ibu saya. Maka dari itu sa- yamenerimasegalakonsekuen- sinya,” tandasnya.

tsabirlaluhu


 

menu
menu