Sumber berita: INVESTOR DAILY, KAMIS 7 JUNI 2018

Sumber foto: INVESTOR DAILY, KAMIS 7 JUNI 2018

Mei, Harga Minyak Indonesia Tembus US$ 72,46 Per Barel

JAKARTA - Rata-rata harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Mei lalu tercatat naik US$ 5,03 per barel menjadi US$ 72,46 per barel dari posisi April US$ 67,43 per barel. Sejalan, ICP SLC juga naik signifikan dari US$ 68,39 per barel menjadi US$ 73,15 per barel.

Peningkatan ICP ini sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia. Pada Mei lalu, harga Dated Brent naik dari US$ 71,8 per barel menjadi US$ 76,93 per barel, Brent (ICE) meningkat dari US$ 71,76 per barel menjadi US$ 77,01 per barel, WTI naik dari US$ 66,33 per barel menjadi US$ 69,98 per barel, serta Basket OPEC meningkat dari US$ 68,43 per barel menjadi US$ 74,11 per barel.

Menurut Tim Harga Minyak Indonesia, peningkatan harga minyak mentah di pasar internasional disebabkan oleh beberapa faktor, yakni naiknya permintaan dan berkurangnya., stok. Publikasi OPEC pada Mei lalu memperkirakan permintaan minyak dunia diperkirakan naik 1,65 juta barel per hari (bph) menjadi 98,85 juta bph yang didorong menguatnya permintaan negara-negara maju dan perbaikan permintaan negara berkembang, terutama wilayah Asia dan Amerika Latin.

Selanjutnya laporan International Energy Agency (IEA) Mei lalu memperkirakan peningkatan permintaan minyak pada semester pertama tahun ini. Hal ini disebabkan oleh cuaca dingin yang teijadi di Eropa pada awal tahun ini, penambahan kapasitas petrokimia baru di Amerika Serikat, serta kondisi perekonomian global yang membaik.

“Di sisi lain, ada komitmen kuat negara-negara produsen minyak non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia dan anggota OPEC untuk mematuhi kesepakatan pembatasan produksi minyak (Perjanjian Wina) hingga mencapai 1,8 juta barel per hari, sebagai upaya mengurangi stok minyak global yang tinggi,” kata Tim Harga Minyak Indonesia dalam keterangan resminya,

Rabu (6/6).

Harga minyak, tambah Tim Harga Minyak Indonesia, juga dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar atas potensi tergang- gungan pasokan minyak akibat gejolak geopolitik. Keputusan Amerika Serikat untuk keluar dari peijanjian pembatasan senjata nuklir yang diteken pada 2015 serta memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran, berdampak negatif pada prospek pertumbuhan permintaan minyak mentah Iran.

Tak jauh beda, pengenaan sanksi tambahan bagi Venezuela setelah terpilihnya kembali Pres iden Nicolas Maduro, berpotens semakin menurunkan pasokar dan ekspor minyak mentah ne gara tersebut. Padahal, pasokai dan ekspor minyak Venezuel. telah anjlok hingga sepertig dalam dua tahun terakhir.

‘Terakhir, peningkatan akt fitas kilang pengolahan AS da Asia dengan tingkat pemai faatan mencapai 90% dari kap sitas kilang,” tutur Tim Harg Minyak Indonesia, (ayu)

menu
menu