Sumber berita: KOMPAS. N0 45 THN-54 SABTU 11 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Nusa Bali.com

Membangun Bisnis di Layanan Pesan

INDUSTRI DIGITAL

 

Layanan pesan singkat dan pesan panjang tak lagi sekadar menjadi ajang lalu lintas pesan pribadi. Kini layanan pesan telah digunakan untuk mempromosikan produk. Yang terbaru, membangun bisnis berbasis data raksasa. Aturan privasi kembali ditantang untuk merijamin data-data pribadi tidak beredar dengan mudah.

Perusahaan digital berbasis media sosial juga mengembangkan layanan pesan untuk kepentingan korporasi. Jaminan keamanan yang andal menjadikan layanan pusat panggilan (call center) tak lagi hanya menggunakan komunikasi suara, tetapi juga menggunakan layanan pesan (messenger) media sosial yang'bersifat interaktif dengan konsumen.

Inovasi terbaru dilakukan Facebook dengan mengajak perbankan untuk bergabung dalam layanan pesan mereka, yaitu Facebook Mesengger. Facebook menawarkan kepada perbankan sejumlah layanan, tetapi meminta perbankan untuk membagi sejumlah informasi mengenai nasabah mereka Beberapa transaksi yang dimaksud adalah transaksi kartu kredit dan kondisi rekening milik nasabah.

Sebenarnya tak ada yang baru di layanan ini. Beberapa perusahaan, termasuk di Indonesia, telah menggunakan layanan ini meskipun sejauh ini belum digunakan untuk layanan perbankan seperti yang diinginkan Facebook. Beberapa korporasi sudah menggunakan layanan pesan itu. Diakui, layanan itu sangat memudahkan konsumen dibandingkan dengan harus menggunakan kontak suara atau surat elektronik.

Sebuah tulisan di The Wall Street Journal menyebutkan, jika perbankan memberikan data itu, Facebook bisa memberitahukan kondisi terbaru mengenai rekening kepada nasabah. Facebook juga memberikan alarm jika ada kecurigaan tindakan penyalahgunaan rekening. Facebook menjamin data itu tidak digunakan untuk promosi dan kegiatan lainnya. Facebook membantah jika disebut secara aktif mendekati perusahaan keuangan terkait dengan layanan itu.

Namun, sejumlah kalangan tetap meragukan jaminan keamanan informasi. Berbagai kalangan masih mempertanyakan privasi data mereka pascaskandal Cambridge Analytica, beberapa waktu lalu. Di sisi lain, Facebook yang harga sahamnya anjlok hingga 20 persen tengah berusaha mencari sumber pendapatan baru yang bisa menopang kineija finansial mereka.

Kita bisa memastikan data itu memang tidak bakal digunakan untuk kepentingan lain. Namun, sangat mungkin secara agregatif data itu akan melengkapi informasi profil pengguna Facebook. Data yang bersifat demografis dan perilaku kita di media sosial telah mereka miliki. Jika rencana itu dijalankan, Facebook komplet memiliki profil kita Sangat mungkin kelak Facebook mengembangkan layanan finansial sendiri.

Pengaturan keamanan data pribadi kembali ditantang oleh inovasi-inovasi perusahaan digital. Beberapa bank disebutkan telah mengundurkan diri dari pembahasan dengan Facebook. Mereka tidak ingin data nasabah ada di pihak ketiga yang pada ujungnya malah melanggar aturan privasi. Lebih dari itu, kepercayaan nasabah dipertaruhkan. (ANDREAS MARYOTO)

menu
menu