Sumber berita: KOMPAS. N0 88 THN-54 RABU 26 SEPTEMBER 2018

Sumber foto: Kompas.id

Menaruh Beban di Sukarelawan

Kehadiran kelompok sukarelawan untuk memenangkan capres-cawapres pada Pemilu 2019 jadi makin krusial karena partai pendukung capres-cawapres juga harus berkonsentrasi menghadapi pemilu legislatif.

Pada Kamis (20/9/2018) atau tiga hari sebelum dimulainya masa kampanye .Pemilu 2019, tiga kelompok sukarelawan secara bersamaan mendeklarasikan dukungan untuk pasangan Joko Wido- do-Ma’ruf Amin. Mereka adalah Nusantara untuk Jokowi (N4J), Gerakan Simpatisan Jokowi (Gerasi), dan Relawan Jokowi-Kyai Ma’ruf Amin.

Hari itu, Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Maman Immanulhaq, bergeser dari satu acara deklarasi ke acara lain guna menghadiri deklarasi sekaligus mendata kelompok-kelompok sukarelawan yang menyatakan dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf.

Berdasarkan data Direktorat Relawan TKN, sudah ada 420 kelompok sukarelawan yang tersebar di semua provinsi. Kini, TKN masih terus menjaring sukarelawan karena pemenangan Jokowi-Ma’ruf pada Pemilu 2019 akan bertumpu pada gerakan sukarelawan yang lebih sistematis dan terarah.

’’Jumlahnya bisa bertambah lagi dan terus kami identifikasi.,” kata Maman.

Setali tiga uang, kelompok sukarelawan yang mendeklarasikah diri mendukung pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno juga mulai bermunculan di sejumlah wilayah. Salah satunya, Jaringan Relawan Prabowo-Sandiaga (Japras) yang dideklarasikan di Jakarta, Senin (24/9/2018). Dipimpin dua kader Partai Amanat Nasional (PAN), salah satu partai pengusung Prabowo-Sandiaga, yaitu Yahdil Abdi Harahap dan Soni Sumarsono, kelompok ini mengklaim memiliki lebih dari 500 sukarelawan.

Sekretaris Nasional Jarpas Soni Sumarsono mengatakan, Japras dibentuk sebagai wadah bagi kader partai dan masyarakat yang tak terakomodasi dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, tetapi ingin berjuang untuk memenangkan pasangan capres-cawapres itu.

Soni meyakini, Japras akan punya kontribusi penting untuk pemenangan Prabowo-Sandiaga. Apalagi, dengan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden yang digelar serentak pada Pemilu 2019, membuat partai tak dapat sepenuhnya diandalkan jadi mesin pemenangan capres-cawapres.

Menguntungkan partai
Ali Sya’roni, pendiri gerakan sukarelawan We Love Jokowi pada Pemilu 2014, merasakan ada perbedaan beban tugas bagi sukarelawan pada Pemilu 2019. Ali, yang kini mendirikan Gerakan Relawan untuk Demokrasi (Garuda) untuk mcndu kung Jokowi-Ma’ruf, mengaku dapat tugas dan beban lebih berat ketimbang pada Pemilu 2014.

Tugas itu, misalnya, dalam bentuk distribusi saksi di tempat pemungutan suara saat hari pemungutan suara. Sejumlah sukarelawan yang mendukung Jokowi-Ma’ruf mengusulkan agar pengerahan saksi diserahkan kepada sukarelawan, bukan partai. Dengan demikian, selain memastikan kemenangan Jokowi-Ma’ruf, kelompok sukarelawan juga memberi ruang gerak yang lebih luas bagi partai pendukung untuk mengurus diri sendiri. ’’Biar relawan saja yang turun tangan. Berbeda dengan partai yang juga harus konsentrasi di pileg, relawan hanya fokus pada memenangkan Jokowi,’’ ujarnya.

Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan Arsul Sani, yang juga Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, membenarkan, kehadiran sukarelawan kini lebih dibutuhkan ketimbang pemilu sebelumnya. ’’Memang, harus ada pembagian tugas karena ini pemilu serentak, di mana partai dan caleg juga harus memikirkan diri sendiri.” Partai justru merasa diuntungkan dengan keberadaan sukarelawan yang militan. Khususnya, di daerah yang bukan merupakan basis suara capres- cawapres yang didukung. Soni yang juga Wakil Sekjen PAN mengatakan, dengan adanya sukarelawan, di wilayah-wilayah rawan itu, para caleg partai bisa bebas mengampanyekan diri dan partainya sendiri. ’’Jika mereka (caleg) mengampanyekan Prabowo- Sandiaga (di daerah basis suara Jokowi-Mn'ruf), justru bisa jadi bumerang untuk partainya,” katanya

Partai juga memanfaatkan kehadiran sukarelawan untuk membantu memenangkan ca- leg-calegnya. Khususnya bagi partai yang tidak memiliki basis massa yang kuat di suatu daerah. Akhirnya, sukarelawan di daerah tidak hanya bertugas menggalang dukungan untuk capres-cawapres, tetapi juga untuk caleg dari partai-partai koalisi pendukung pasangan calon tersebut.

Relawan Garuda, misalnya, kata Ali, sudah sepakat membantu caleg-caleg dari tiga partai pendukung Jokowi-Ma’ruf di daerah, yaitu PDI-P, PPP, dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Dana
Dengan beban tugas yang semakin berat ketimbang pemilu sebelumnya, apakah gerakansukarelawan dapat pendanaan yang jelas dari pasangan calon serta partai pendukungnya?

Soni mengatakan, Japras akan bertumpu pada kekuatan setiap sukarelawan dan sumbangan dari simpatisan Prabowo-Sandiaga. Japras tidak akan menolak jika Prabowo-Sandiaga, badan pemenangnya, atau partai pengusungnya, ikut memberi bantuan.

Sementara Ali mengibaratkan gerakan sukarelawan seperti fenomena orang yang sedang jatuh cinta ’’Orang jatuh cinta itu akan bahagia jika orang yang dicintainya bahagia Jadi, ini bukan masalah mendapat dana atau imbalan. Dikasih dana syukur. Jika tak dikasih, kita cari sendiri,” katanya.

Pengajar politik di Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi, mengatakan, sukarelawan sudah berkontribusi signifikan sejak Pilpres 2014. Maka, tidak heran jika pada Pemilu 2019 mendatang sukarelawan kembali dilirik menjadi kekuatan utama. ’’Relawan dibutuhkan untuk menjaga stamina, dukungan, dan antusiasme politik kepada capres dan cawapres,” ucapnya.

Gerakan sukarelawan ini juga menyimpan potensi besar untuk pendidikan politik masyarakat. Ke depan, ujar Airlangga, sukarelawan bisa jadi gerakan yang mandiri dan independen.

Jika capres-cawapres lebih intens menyQsialisasikan program-program yang konkret dan tepat sasaran, masyarakat yang merasa aspirasinya sesuai dengan program dari capres-cawapres bersangkutan dengan sendirinya akan tergerak untuk menjadi sukarelawan.

Hal itu juga diharapkan bisa meminimalisasi potensi gerakan sukarelawan ditunggani kepentingan lain yang mengharap pamrih, baik dalam bentuk material maupun konsesi jabatan.(AGNES THEODORA/A PONCO ANGGORO)

 

menu
menu