Sumber berita: KOMPAS. N0 41 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: INSAN ALFAJRI UNTUK KOMPAS | Sprinter Lalu Muhammad Zohri saat mengikuti Pengukuhan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (5/8/2018).

Menyalakan Motivasi demi Merah Putih

Bagi sebagian besar atlet Indonesia, tampil di Asian Games merupakan mimpi yang jadi kenyataan. Mereka bertekad memberikan yang terbaik demi bangsa dan keluarga.

Atlet senam trampolin Yudha Tri Aditya (28) semringah bisa mewakili Indonesia di Asian Games 2018. Dia kini memiliki kesempatan mewujudkan harapan almarhum ayahnya, Dadang Sumantri, supaya menjadi atlet yang mengharumkan nama bangsa.

Semua bermula saat Yudha kecil diajak Dadang menonton pertandingan olahraga dalam Pekan Olahraga Nasional 1993 di Jakarta. Yudha yang saat itu masih berusia tiga tahun duduk di pundak ayahnya sembari menyaksikan atlet bertanding.

”Kapan, ya, anak Bapak bisa menjadi atlet dan mengharumkan nama bangsa,” ujar Yudha menirukan ucapan ayahnya saat ditemui pada acara Pengukuhan Kontingen Indonesia untuk Asian Games di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (5/8/2018).

Tak lama setelah PON Jakarta, Dadang meninggal karena diabetes. ”Sampai sekarang, saya masih terngiang ucapan Bapak saat PON Jakarta itu. Alhamdulillah, dengan saya ikut di Asian Games ini, mimpi Bapak bisa terwujud,” kata alumnus Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, ini.

Agar tetap fokus menjalani latihan, Yudha pun rela melepas pekerjaannya. ”Waktu itu, saya minta izin kerja tiga bulan karena mau ikut Asian Games. Akan tetapi, pihak manajemen tidak mengizinkan dan saya harus memilih Asian Games atau tetap bekerja,” kata mantan karyawan salah satu taman hiburan tematik di Bandung ini.

Sejumlah atlet termotivasi untuk kembali mengulang prestasi yang pernah mereka raih. Atlet perahu naga Erwin David Monim (30), salah satunya. Atlet asal Papua ini merupakan anggota tim perahu naga yang menyabet tiga medali emas pada Asian Games Guangzhou 2010. Waktu itu, tim perahu naga putra meraih emas di nomor 1.000 meter, 500 meter, dan 250 meter. Itu merupakan tiga dari total empat emas yang diraih Indonesia di Guangzhou.

”Paling tidak, kami ingin mengulang lagi sukses tim dayung di Asian Games 2010 itu,” ujar Erwin yang berperan sebagai pengatur ritme dayungan.

Harapan serupa diungkapkan oleh pesilat Hanifan Yudani Kusumah (21). Dia bertekad menjadikan Asian Games ini sebagai ajang perbaikan prestasi. Di SEA Games tahun lalu, Hanifan hanya meraih perunggu.

”Insya Allah saya akan berusaha mendapat emas. Hal ini akan saya jadikan sebagai kado untuk ibu saya yang berulang tahun tanggal 14 Agustus nanti,” ucap pesilat yang turun di kelas C tanding putra (55-60 kg) ini.

Menjelang hari pertandingan Asian Games, atlet kurash Putu Wiradamungga Adesta merasa sedikit gugup. ”Saya mengatasi masalah gugup ini dengan melatih konsentrasi. Tiap atlet punya caranya sendiri. Saya melatihnya dengan membaca buku. Dengan membaca buku, pikiran pun jadi lebih tenang dan saya bisa lebih fokus dalam berlatih,” ujar atlet yang akrab disapa Desta itu.

Selain dengan membaca buku, Desta juga memotivasi dirinya dengan melihat sejarah Indonesia. Pada 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Kala itu, Indonesia menempati peringkat kedua klasemen umum perolehan medali.

“Dengan keterbatasan yang ada saat itu, Indonesia bisa berprestasi bahkan mendapat peringkat kedua. Kali ini, kita kembali jadi tuan rumah. Ini merupakan momen bersejarah yang ditunggu-tunggu, saya yakin dapat berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa,” tambah atlet berusia 26 tahun itu.

Lain lagi dengan atlet jujitsu. Atlet-atlet cabang bela diri itu diikutkan dalam seminar emotional spiritual quotient. Seminar tersebut merupakan program dari Pengurus Besar Jujitsu Indonesia untuk menjaga kondisi mental sekaligus sebagai sarana memotivasi atlet.

Simone Julia, atlet jujitsu kelas 62 kilogram, mengatakan, dirinya juga mendapat suntikan motivasi dari keluarga dan teman-teman. Elemen ini adalah salah satu inti dari kehidupan atlet yang mendorong mereka untuk terus berprestasi.

”Selain itu, saya juga ingin menjadi inspirasi untuk orang-orang Indonesia, terutama untuk wanita Indonesia,” lanjut Simone.

Sementara atlet bola basket saling memotivasi satu sama lain. Mereka memotivasi pemain yang tampil kurang baik atau melakukan kesalahan dengan saling mengingatkan kalau mereka tampil membawa nama negara Indonesia.

“Karena basket adalah olahraga tim, kami saling mengingatkan kalau kami terpilih untuk mewakili Indonesia. Semua pemain pasti ingin membela tim nasionalnya di ajang sebesar Asian Games. Kami ingin membuat Indonesia dan juga keluarga kami bangga,” ujar Arki Dikania Wisnu, anggota tim nasional bola basket putra.

Motivasi itu menjadi bekal mereka bersaing dengan atlet-atlet top dunia untuk memenuhi ambisi Indonesia finis di posisi 10 besar Asia dengan meraih 16-20 emas. (Insan Alfajri/Lorenzo Anugrah Mahardika)

menu
menu