Sumber berita: KOMPAS, NO 036 THN 54 KAMIS 02 AGUSTUS 2018

Sumber foto: ArenaLTE.com

Menyambut Era 5G

TELEKOMUNIKASI

Amerika bagian utara bersiap memperkenalkan secara komersial layanan berteknologi 5G pada akhir tahun 2018. Mengutip telegeography.com, T-Mobile bakal menggelar jaringan seluler 5G di 30 kota di Amerika Serikat dan siap mendukung gelombang pertama ponsel pintar 5G awal 2019. Laporan Viavi Solutions menyebutkan, jumlah percobaan 5G hampir meningkat tiga kali lipat setahun terakhir, Asia Pasifik menyumbang 43 persen dari 72 uji coba secara global.

Gaung 5G dimulai sekitar 2009. Pada Desember 2017, mengutip The Verge, 3GPP (organisasi pengatur standar seluler) secara resmi merilis spesifikasi standar pertama 5G non-stand- alone new radio (NR).

Ada tiga dimensi untuk memudahkan memahami 5G, yakni latensi (tingkat keterlambatan pengantaran), kecepatan, dan kapasitas koneksi. Teknologi 5G mempunyai latensi 1 milidetik, kecepatan puncak 10 gigabyte per detik, dan 100 miliar koneksi. Kinerja tersebut tercapai karena 5G berjalan di spektrum frekuensi rendah.

Dengan karakteristik itu, teknologi 5G amat mendukung keterhubungan perangkat dengan internet. Huawei dalam laporan Global Industry Vision 2025 memprediksi 40 miliar perangkat pintar dan 20 miliar perangkat pintar rumahan akan saling terhubung.

Teknologi 5G bisa dikatakan ’’peradaban baru”. Ketika pengguna 2G beralih ke 3G lalu ke 4G LTE, dia bisa dikatakan upscalling atau ’’naik kelas” biasa. Sementara 5G menawarkan cara hidup ’’cerdas”.

Situasi Indonesia
Agar fokus menyambut teknologi 5G, sejumlah negara telah mematikan layanan seluler berbasis 2G. NTT Docomo Jepang adalah yang pertama mematikan 2G pada tahun 2011. Adapun operator di Korea Selatan pasca-peluncuran layanan 4G LTE tahun 2012. Di Asia Tenggara, tiga operator seluler Singapura menutup jaringan 2G pertengahan April 2017.

Bagaimana dengan Indonesia? Pengguna layanan seluler dan ponsel 2G masih cukup besar, berkaca pada data tiga operator telekomunikasi terbesar di Indonesia Hingga triwulan 1-2018, sebanyak 108,7 juta dari 192,8 juta total pelanggan Telkomsel, misalnya, tercatat sebagai pengguna data internet. Artinya, mereka bisa saja mengakses data internet dari ponsel pintar berteknologi 3G, 4G LTE, bahkan ponsel 2G. Sementara pengguna murni 2G diperkirakan masih 84,1 juta pelanggan. Situasinya tidak beda jauh dengan operator-operator lain.

Sebagai negara kepulauan, pemerataan infrastruktur telekomunikasi memang masih jadi permasalahan utama. Data Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) menyebutkan, sekitar 7.480 desa belum teijangkau sinyal telekomunikasi seluler.

Mahalnya investasi infrastruktur telekomunikasi diakui operator. Belum sampai menikmati pengembalian investasi, mereka harus bergegas mengikuti teknologi terbaru. Layanan 3G dianggap tak terlalu berhasil. Lalu lahir 4G LTE yang mulai dikomersialkan pertengahan 2015. Proyeksi salah satu operator, pengembahan investasi 4G baru akan terjadi 5-6 tahun ke depan karena sejumlah faktor, antara lain penghitungan belanja perangkat infrastruktur dan rendahnya harga data.

Kementerian Komunikasi dan Informatika tengah menyiapkan peta jalan 5G di Indonesia. Penyusunannya masih sejalan dengan pembahasan di kancah internasional, yaksi soal ketersediaan spektrum frekuensi. Namun, pemerintah bisa ambil bagian melampaui itu. Tak cukup spektrum frekuensi, dukungan perlu sampai ke urusan penyediaan fasilitas pelayanan publik, literasi, peraturan perlindungan data pribadi, hingga akselerasi pertumbuhan industri yang lebih baik (MEDIANA)

menu
menu