Sumber berita: KOMPAS, NO 021 THN 54, RABU 18 JULI 2018

Sumber foto: Katadata.co.id

MINYAK DAN GAS BUMI: Keputusan Dipercepat untuk Beri Kepastian Investasi

JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah menjamin kepastian investasi hulu minyak dan gas bumi dengan mempercepat keputusan pengelolaan wilayah kerja sebelum masa kontraknya berakhir. Nasib 22 wilayah kerja yang habis masa kontraknya sampai dengan 2026 akan diputuskan tahun ini.

Kontraktor pemenang lelang dituntut meningkatkan eksplorasi untuk menambah cadangan minyak dan gas bumi di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengatakan, pemerintah masih membutuhkan dukungan investor untuk mengembangkan lapangan migas. Percepatan keputusan hak kelola wilayah kerja migas diyakini dapat memberi kepastian berinvestasi.

Sebaliknya, keputusan yang ditunda akan menimbulkan ketidakpastian yang kontraproduktif dengan upaya pemerintah menggenjot investasi.
’’Untuk 22 wilayah keija migas yang bakal habis kontraknya sampai dengan 2026, segera diputuskan tahun ini. Ini adalah upaya untuk menjamin kepastian investasi hulu migas,” ujar Ego seusai penandatanganan hasil penawaran tiga wilayah kerja migas kepada kontraktor, Selasa (17/7/2018), di Jakarta.

Dari 22 blok migas tersebut, terdapat Blok Rokan di Riau yang saat ini digarap PT Chevron Pa- sific Indonesia Saat ini blok tersebut termasuk blok penghasil minyak mentah terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 212.000 barrel per hari. Kontrak Blok Rokan akan berakhir pada Pemerintah masih membutuhkan dukungan investor untuk mengembangkan lapangan migas. 2021.Blok lain yang menghasilkan minyak dalam jumlah besar adalah Blok Cepu dengan produksi 209.000 barrel per hari.

Dampak positif
Direktur Eksekutif ReforMi- ner Institute Komaidi Notone- goro mengatakan, percepatan keputusan kelanjutan pengelolaan wilayah kerja migas berdampak positif pada investor. Rencana keija dan keputusan investasi bisa dilakukan lebih dini. Dengan demikian, penurunan produksi minyak dan gas bumi bisa dihindari.

’’Keputusan yang dipercepat akan memberi kejelasan bagi investor. Misalnya, sebuah kontrak blok migas diperpanjang, maka kontraktornya dapat segera melakukan investasi pengembangan lapangan atau peningkatan produksi lebih awal,” ujar Komaidi.

Sebaliknya, lanjut Komaidi, jika mendekati batas akhir kontrak belum ada keputusan apa pun dari pemerintah mengenai kelanjutan pengelolaan blok tersebut, maka dapat menimbulkan ketidakpastian. Rencana investasi bisa tertunda. Dampak paling buruk, produksi migas di lapangan itu bisa menurun.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, pihaknya mendorong kontraktor migas menggenjot eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru. Tanpa eksplorasi, cadangan tidak akan bertambah dan ketergantungan terhadap impor akan tinggi. Komitmen eksplorasi tertuang dalam penandatangan kontrak.

’’Untuk tiga wilayah keija migas yang ditandatangani, kontraktor berkomitmen melakukan studi geologi dan geofisika, termasuk survei seismik dua dimensi. Total komitmen investasinya 40,9 juta dollar AS,” kata Djoko. Ketiga wilayah kerja itu adalah Blok East Ganal di Selat Makassar, East Seram di Maluku, dan South East Jambi di Jambi.

menu
menu