Sumber berita: KOMPAS. N0 59 THN-54 SENIN 27 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Industry.co.id

Momentum Positif Sidang IMF-Bank Dunia

YB Suhartoko
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan. Ekonomi keuangan, dan Perbankan. Unika Atma Jaga Jakarta

 

Riset berjudul "The Long View, How Will The Global Economic Order Change by 2050?” yang dikemu- kakan PricewaterhouseCooper (PwC) menyatakan Indonesia akan berada di peringkat ke-5 pada 2030 dengan estimasi PDB 5.424 miliar dollar AS dan peringkat ke-4 pada 2050 dengan estimasi PDB 10.502 miliar dollar AS berdasarkan metode perhitungan paritas daya beli (purchasing power parity).

Chief Economist PwC Inggris, John Hawksworth, mengatakan, China akan jadi kekuatan ekonomi dunia terbesar, disusul India, AS, dan Indonesia Pertumbuhan PDB dipenganjhi kemajuan teknologi, perdagangan internasional, dan investasi. Negara-negara yang saat ini menjadi kekuatan ekonomi dunia peringkatnya akan merosot drastis. Peringkat Jerman turun dari ke-5 (2016) menjadi ke-9 (2050) dan Jepang dari peringkat ke-4 menjadi peringkat ke-8.

Ketepatan prediksi PwC sangat dipengaruhi dinamika politik dan rezim pemerintahan serta bencana alam yang melanda suatu negara. Selain itu, kemampuan memanfaatkan momentum politik dan ekonomi dunia

Sidang IMF-Bank Dunia
Pada Oktober 2018, Bali akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan negara-negara anggota IMF-Bank Dunia. Pemilihan InIndonesia mengalahkan Senegal dan Mesir sebagai calon kuat lain. Suatu sinyal kepercayaan dunia yang semakin kuat terhadap Indonesia sehingga harus dimanfaatkan dengan baik.

Perhelatan besar ini akan dihadiri para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 189 negara anggota, para CEO industri keuangan terkemuka G-7, akademisi terkemuka dari G-24, dan perwakilan lembaga internasional, LSM, dan parlemen sebagai pengamat.

Akan ada sekitar 2.000 pertemuan yang menjadikan ini sebagai pertemuan terbesar di dunia. Perkiraan jumlah peserta yang hadir 12.500-15.000 orang.

Mengingat dalam kegiatan ini akan hadir banyak pemangku kepentingan di bidang keuangan, maka akan terdapat pula berbagai pertemuan lain, seperti pertemuan bilateral antamegara serta diskusi ekonomi dan keuangan, baik yang diselenggarakan IMF/ Bank Dunia maupun berbagai lembaga keuangan terkemuka dunia. Agenda yang diangkat secara garis besar adalah prospek ekonomi global, stabilitas sistem keuangan, kemiskinan, pembangunan, lapangan kerja, perubahan iklim, dan isu global lain.

Pesan utama yang akan disampaikan kepada dunia berkaitan dengan kesuksesan penyelenggaraan pertemuan ini adalah ’’Indonesia adalah negara yang reformed, resilient, dan progresif, sehingga mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Direktur Pelaksana IMF Christine pertemuan ini akan mempromosikan kondisi ekonomi dan potensi ekonomi di Indonesia dan, oleh karena itu, investor asing tertarik untuk berinvestasi di Indonesia

Skala pertemuan, peserta, dan agenda pertemuan akan memberikan manfaat besar bagi perkembangan perekonomian Indonesia Dalam jangka pendek pertemuan berbiaya Rp 800-an miliar telah menghasilkan akselerasi infrastruktur di Bali, seperti perluasan bandara, Lintas Bawah Ngurah Rai, penyelesaian patung Garuda Wisnu Kencana yang diproyeksikan jadi ikon wisata, dan pelabuhan wisata Benoa.

Ekspektasi pengeluaran dari semua peserta 'sekitar 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,35 triliun untuk akomodasi, pesawat, sewa kendaraan, paket makan malam, hiburan, suvenir, serta paket wisata.

Panitia penyelenggara juga menyediakan paket wisata di luar Bali, yaitu paket wisata Lombok, Pulau Komodo, Yogyakarta, Danau Toba, Tana Toraja, dan Banyuwangi. Ini berarti manfaat lebih luas dalam jangka pendek juga dirasakan daerah lain. Manfaat jangka pendek paling bernilai barangkali adalah publikasi dan promosi mengenai Indonesia karena ada sekitar 1.000 media yang meliput.

Sebagai perbandingan dampak positif yang diperoleh Peru sebagai tuan rumah sidang tahunan IMF-Bank Dunia 2015, menurut Oxford Business Group, adalah total kontribusi industri travel dan turisme terhadap PDB tumbuh 16,34 persen dan total kontribusi sektor travel dan turisme ke' penciptaan lapangan keija tumbuh 6,82 persen. Dengan skala pertemuan lebih besar, manfaat jangka pendek untuk Indonesia akan lebih besar dari Peru.

Manfaat jangka panjang
Manfaat jangka panjang berkaitan dengan sidang IMF-Bank Dunia 2018 adalah, pertama, kepemimpinan Indonesia dalam pembahasan isu-isu global: pembangunan infrastruktur, stabilitas sistem keuangan, penanganan ketimpangan, pembangunan SDM, keuangan inklusif. Kedua, dalam hal investasi dan perdagangan adalah pengenalan produk unggulan di pasar global dan pengenalan peluang investasi dan usaha di Indonesia.

Ketiga, promosi pariwisata dan penyelenggaraan kegiatan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke destinasi utama Indonesia. Keempat, transfer pengetahuan dengan menambah pengalaman dan membangun jaringan dengan komunitas internasional serta pembelajaran mengenai penyelenggaraan peristiwa besar skala internasional.

Momentum kesuksesan sidang IMF-Bank Dunia akan jadi pendorong pembangunan Indonesia dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Ke depan suara Indonesia akan kian didengar di tataran global. Kesuksesan pertemuan ini dan didukung dengan pembangunan infrastruktur di sejumlah daerah yang telah dilakukan pemerintah saat ini sebaiknya secara simultan diikuti investasi di sektor riil untuk menciptakan efek pengganda yang lebih besar.

 

menu
menu