Sumber berita: KOMPAS, NO 033 THN 54, SENIN 30 JULI 2018

Sumber foto: DIDIE SW| KOMPAS

Neo-militeristik Sipil

Belakangan, jamak kita dengar dan temui—bahkan secara tidak sadar juga mempraktikkan—kata-kata seperti ”siap, siap laksanakan, siap salah, lapor, izin, izin bicara, monitor lokasi, siap instruksi, siap menerima dan menunggu arahan” dalam lingkungan sipil, terutama dalam relasi senior-yunior.

Kata-kata tersebut secara tak langsung mulai mendominasi ketimbang kata- kata yang relatif mencerminkan perilaku sipil, seperti ”oke, halo, baiklah, apa kabar, apa selanjutnya”, dalam relasi yang sama.

Fenomena militeristik dalam kalangan sipil ini cenderung kurang diperhatikan. Sebab, pada konteks yang sama, militeristik yang dimaksud tidak lagi identik dengan militeristik arus utama seperti penggunaan seragam ala militer, senjata, baris-berbaris, latihan militer, dan komando, meskipun militeristik sipil seperti ini masih kita jumpai. Jika diperbandingkan lalu diklasifikasikan, terlihat bentuk militeristik ini terbagi dua: hard dan soft. Fenomena ini menunjukkan tingkah laku sipil yang mengarah pada militeristik.

Sipil bergaya militer

Bentuk hard militeristik sipil ada pada segi aktualisasi dan simbolik, seperti penggunaan seragam ala militer, senjata, dan bentuk komando lainnya. Pembentukan pelbagai macam organisasi satuan tugas (satgas) yang berada di bawah payung organisasi masyarakat, sayap setiap partai politik, serta keberadaan resimen mahasiswa pada perguruan tinggi jadi bagiannya.

Dalam konteks ini, dapat kita asumsikan dan pahami bahwa pengaruh militer yang telah mendominasi sistem politik Indonesia selama tiga dekade lebih memberi pengaruh lahirnya karakter komando pada kehidupan masyarakat Indonesia. Sementara dari segi soft militeristik, kita hanya akan menemuinya dalam bentuk kata-kata seperti tadi. Dengan kata lain, ia ada pada pola komunikasi yang tak memainkan segi aktualisasi dan simbolik.

Infiltrasi militeristik dalam lingkungan sipil, terutama pada relasi senior-yunior, mencerminkan tengah gandrungnya gaya militer dalam komunikasi bagi beberapa kelompok sipil. Dalam bentuk komunikasi ini terdapat kealpaan komando layaknya militeristik yang konvensional, misalnya ketiadaan bantahan atau interupsi dalam komunikasi dan instruksi. Alhasil, meskipun berada dalam bentuk komunikasi, situasi dan atmosfer yang tercipta tidak seperti komunikasi militer pada aslinya, karena kealpaan komando tadi.

Gaya militer dalam komunikasi sipil terkadang atau cenderung mengarah pada basa-basi komunikasi semata dan juga style, gaya, seakan bentuk komunikasi tersebut mencerminkan ketegasan pada tiap-tiap pembicara. Pada titik ini, kita melihat telah terjadi pergantian kebiasaan komunikasi antara dua bentuk kata yang kita bahas pada awal tulisan ini.

Soft militeristik seperti ini seakan menjadi semacam neo-militeristik di kalangan sipil, mengingat ketiadaan paksaan, baik secara situasi maupun kondisi atas keterlaksanaan bentuk komunikasi seperti itu, pun tidak ada intervensi dari militer. Bentuk komunikasi seperti ini juga bukan pula dalam rangka memunculkan tertib komunikasi, tertib sosial dalam berkomunikasi, maupun cerminan jenjang posisi struktural dan kultural dalam masyarakat.

Jika diamati lebih jeli, mereka yang melakukan bentuk komunikasi soft militeristik ini belum tentu pernah bersinggungan dengan militer seperti halnya hard militeristik pada masa Orde Baru, terutama dalam konteks umur. Maka, pertanyaan berikutnya yang muncul, apakah soft militeristik ini bersifat inheren atau hanya berupa warisan kebudayaan masa Orde Baru?

Tesis inheren dan warisan kebudayaan memiliki antitesisnya masing-masing. Dikatakan inheren, akan menjadi paradoks dengan semangat masyarakat sipil dalam menentang otoritarianisme dan militerisme pada masa Orde Baru. Sementara jika dikatakan warisan kebudayaan, akan menjadi paradoks dengan semangat demokratisasi dan supremasi sipil pascareformasi.

Residu hegemoni militer

Akan tetapi, akan berbeda halnya jika kita memahaminya sebagai hegemoni yang masih tersisa. Hegemoni ini yang berpotensi mentransformasikan budaya militeristik dan hard militeristik ke dalam bentuk komunikasi. Mengapa bertransformasi ke dalam bentuk komunikasi atau soft militeristik? Sebetulnya sederhana: supremasi sipil dan demokratisasi dapat menjadi penolak jika transformasi yang terjadi justru berupa penguatan hard militeristik.

Militeristik dalam bentuk komunikasi ini kemudian melakukan penyesuaian dengan demokrasi dan situasi kontemporer. Penggunaannya cenderung mengarah pada style atau pada sesuatu yang tidak dipersoalkan oleh sipil itu sendiri. Kontekstualisasi pemakaiannya serupa dengan militer, misalnya ketika bertemu, ketika meminta arahan dan sebagainya, tetapi terjadi penyesuaian ala sipil. Model seperti inilah yang dimaksud sesuatu yang tidak dipersoalkan oleh sipil itu sendiri.

Fenomena ini tentu bukanlah suatu persoalan besar karena bukan berada pada ranah aktualisasi dan tidak ada intervensi militer di dalamnya sehingga tidak merusak tatanan supremasi sipil. Akan tetapi, fenomena ini menggambarkan bagaimana militerisme masih tumbuh dalam kalangan sipil. Otoritarianisme dan militeristik, yang dibangun selama tiga dekade lebih, tampaknya tidak sekadar dibangun dengan basis struktural, tetapi kultural, yang tersosialisasikan secara turun-temurun, sehingga menciptakan pola pikir militer yang begitu kuat dan menyentuh masyarakat akar rumput. Kontra-hegemoni menjadi solusinya meskipun membutuhkan waktu yang lama.

Hegemoni pada dasarnya bukan hanya memuat unsur dominasi yang menyertakan elemen pemaksaan, tetapi juga terdapat unsur kesukarelaan dan memengaruhi alam bawah sadar, seperti halnya sesuatu yang salah, jika diberikan secara terus-menerus akan menjadi benar.

Dengan demikian, wajar saja jika yang menjadi salah satu agenda paling krusial dalam upaya membangun demokrasi dan demokratisasi masyarakat pascaOrde Baru akan berkaitan erat dengan persoalan kontra-hegemoni kultural Orde Baru, terutama otoritarianisme dan militeristik yang tersosialisasikan secara kultural ke dalam kesadaran masyarakat sipil. Merekonstruksi proses hegemoni tersebut bukan hanya akan memberi penjelasan tentang cara kerja ideologisasi militerisme dalam kesadaran massa, tetapi juga efek domino dan ketahanannya.

Ikhsan Yosarie Peneliti Setara Institute

menu
menu