Sumber berita: KOMPAS. N0 44 THN-54 JUMAT 10 AGUSTUS 2018

Sumber foto: The Business Times.com.sg

Nuklir Masih Ancam Dunia

Setelah 73 tahun pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki oleh AS, perang nuklir masih menjadi ancaman sampai hari ini. Oleh karena itu. upaya mewujudkan ’ dunia tanpa nuklir” harus menjadi komitmen bersama.

Nagasaki, Kamis Jepang memperingati 73 tahun serangan bom atom pertama di dunia, yaitu di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945, yang total merenggut sekitar 214.000 jiwa.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres hadir dalam peringatan yang berlangsung di Nagasaki, Kamis (9/8/2018). Dalam kesempatan itu ia mengingatkan bahwa ancaman perang nuklir sampai saat ini masih ada, 73 tahun setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.

Guterres menyatakan prihatin bahwa negara-negara yang memiliki kekuatan nuklir justru memodernisasi persenjataan nuklir mereka.

”Proses perlucutan terus melambat, bahkan nyaris berhenti. Di Nagasaki ini saya menyerukan agar semua negara di dunia melucuti persenjataan nuklir dan mempercepat prosesnya. Mari kita semua berkomitmen agar Nagasaki menjadi tempat terakhir di dunia ini yang menjadi korban bom atom,” kata Guterres.

Keprihatinan juga disampaikan Wali Kota Nagasaki Tomisiha Taue yang mendesak Pemerintah Jepang untuk berbuat lebih dan memimpin proses perlucutan nuklir di dunia.

Jepang merupakan satu-satunya negara di dunia yang pernah menjadi korban serangan bom atom. Namun, ironisnya, Jepang juga menjadi satu-satunya negara di dunia yang tidak menandatangani Traktat Nonproliferasi Nuklir. Alasannya, Jepang secara resmi tidak memiliki angkatan bersenjata sehingga negeri ini menggantungkan keamanannya pada Amerika Serikat yang merupakan negara dengan kekuatan nuklir.

Abe-Kim

Taue berharap Pemerintah Jepang segera menandatangani Traktat Nonproliferasi Nuklir dan memenuhi kewajiban moralnya untuk memimpin dunia menuju denuklirisasi. Jepang juga seharusnya bekerja lebih keras untuk mewujudkan denuklirisasi di Asia Timur Laut, yang melibatkan dua Korea.

Sejumlah laporan mengatakan, PM Jepang Shinzo Abe mempertimbangkan untuk bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam pertemuan internasional di Vladivostok, Rusia, pekan depan.

”Pada akhirnya, saya sendiri harus secara langsung bertemu dengan Kim Jong Un dan melakukan dialog untuk menyelesaikan isu nuklir, rudal, dan yang paling penting, masalah penculikan warga negara Jepang, dan kemudian membangun relasi Jepang-Korea Utara,” kata Abe.

Mengenai mengapa Jepang tidak menandatangani traktat nonproliferasi, Abe secara tidak langsung mengatakan bahwa Jepang memiliki tanggung jawab sebagai jembatan antara negara-negara berkekuatan nuklir dan tidak. ”Negara kita, yang memiliki prinsip (tidak berkekuatan nuklir), akan bekerja dengan tekun sebagai jembatan di antara dua kubu dan memimpin upaya komunitas internasional mengurangi persenjataan nuklir,” ujar Abe.

Hiroshima

Pengeboman di Hiroshima yang berlangsung 6 Agustus 1945 juga diperingati pekan ini di kota itu. Hiroshima menderita kehancuran yang paling parah dengan korban jiwa sebanyak 140.000 orang sewaktu pesawat-pesawat AS menjatuhkan bom-bom atom di sekitar pelabuhan yang menjadi pusat kekuatan militer Jepang. Pengeboman ini berujung pada berakhirnya Perang Dunia II setelah Jepang mengaku kalah.

Wali Kota Hiroshima Kazumi Matsui mengimbau dunia agar bebas dari senjata nuklir, di era ketika Presiden AS Donald Trump justru berjanji akan memodernisasi persenjataan nuklirnya. ”Jika masyarakat melupakan sejarah yang dialami Hiroshima, kita akan mengulangi kesalahan besar yang sama. Itu sebabnya, kita harus terus membicarakan Hiroshima,” kata Matsui.

Barack Obama merupakan satu-satunya presiden AS yang pernah mengunjungi Hiroshima pada tahun 2016.

(AP/AFP/REUTERS/MYR)

menu
menu