Sumber berita: KOMPAS. N0 51 THN-54 SABTU 18 AGUSTUS 2018

Sumber foto: SUCIPTO UNTUK KOMPAS | Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj diberi kejutan ulang tahun oleh panitia di akhir acara seminar berupa potong tumpeng yang diawali doa bersama,

Ormas Jadi Bandul Penyeimbang

JAKARTA, KOMPAS- Di tengah kontestasi Pemilihan Umum 2019, peran organisasi kemasyarakatan, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, semakin krusial sebagai bandul penyeimbang atau penengah untuk mencegah polarisasi yang tajam.

Sepekan terakhir ini, dua bakal calon presiden dan calon wakil presiden, yakni pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, rajin bersilaturahim ke pihak-pihak yang menjadi simpul masyarakat, seperti NU dan Muhammadiyah. Kamis (16/8/2018), Prabowo-Sandiaga bertemu dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Sebelumnya, Senin, Prabowo-Sandiaga bertemu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

Pertemuan dengan elite-elite seperti itu, menurut Sandiaga, akan tetap dilakukan. Hal sama dilakukan Prabowo. Sandiaga menyebut pertemuan itu untuk silaturahim, memohon doa restu, dan menerima masukan. ”Ini karena kami ingin pemilu damai dan sejuk. Boleh berbeda (sikap politik), tetapi tetap satu demi bangsa,” ujar Sandiaga Uno seusai peringatan kemerdekaan di Universitas Bung Karno, Jakarta, Jumat (17/8). Setelah dengan NU dan Muhammadiyah, pihaknya akan melanjutkan silaturahim dengan pihak lain.

Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan, pertemuan PBNU dengan Prabowo-Sandiaga bagian dari silaturahim membangun sinergi. NU secara struktural tak mendukung pasangan mana pun. Sebab, NU bukan partai politik. Soal dukungan elektoral dan kampanye pasangan calon bukan ranah NU, melainkan parpol.

”Tanggung jawab NU dari mandat didirikannya lembaga ini, yakni amanat keagamaan dan kebangsaan. Amanat keagamaan sebarluaskan Islam moderat dan toleran. Kebangsaan pastikan NKRI, Pancasila, konstitusi, dan kebinekaan terjaga,” katanya.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, Muhammadiyah tak berpolitik praktis, senantiasa aktif, bahkan proaktif sikapi persoalan. Namun, Muhammadiyah tak antipati dan tak menjauh dari politik.

Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies, Ayra Fernandes, menambahkan, ormas-ormas besar, semisal PBNU dan Muhammadiyah, idealnya tak berikan kesan dekat dengan salah satu pasangan capres-cawapres.

menu
menu