Sumber berita: KOMPAS, NO 328 THN 53, SENIN 4 JUNI 2018

Sumber foto: KOMPAS, NO 328 THN 53, SENIN 4 JUNI 2018

Pancasila Bukan untuk Menyeragamkan

JAKARTA, KOMPAS - Pemahaman tentang Pancasila secara utuh dan seragam membutuhkan advokasi lebih aktif di masyarakat Hal itu untuk menghindari perbedaan tafsir Pancasila yang bisa memicu konflik di masyarakat.

"Pemahaman atas Pancasila dan maknanya butuh kebulatan dan keseragaman. Jangan sampai teijadi salah tafsir ataupun kesewenang-wenangan penafsiran,” kata Deputi Ketua Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Sonny Suharsono dalam dialog lintas sektor dan lintas generasi bertema "Pancasila dan Kebinekaan: Beragam Bukan Seragam” di Jakarta, Sabtu (2/6/2018).

Sonny menjelaskan, makna Pancasila tertera di dalam empat visinya, yakni melindungi bangsa, mencerdaskan bangsa, menyejahterakan bangsa, dan ikut andil dalam menciptakan perdamaian dunia Adapun lima sila Pancasila tak berdiri sendiri, tetapi saling terkait.

’’Keseragaman memahami ideologi Pancasila tak berarti menyeragamkan masyarakat. Pancasila menghargai perbedaan cji masyarakat selama ideo

logi berbangsa dan beme- garanya satu,” kata Sonny.

Menghargai perbedaan

Presiden pertama Indonesia, Soekarno, merancang Pancasila dengan memikirkan keragaman di Nusantara. Pada pidatonya dalam Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, Soekarno menegaskan bangsa Indonesia tidak dibangun atas dasar kesamaan suku bangsa, agama, maupun golongan.

’’Bangsa Indonesia dibangun atas dasar kesamaan semangat dan cita-cita berbagai golongan itu untuk merdeka dari penjajahan,” ucap Sonny. Karena itu, Soekarno menyadari perbedaan di masyarakat merupakan kekayaan.

Perbedaan seperti agama bisa merupakan pengaruh dari luar Nusantara. Sonny menekankan, sejarah membuktikan bangsa Indonesia menerima aspek positif pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri Indonesia. Itu menjadi bukti nyata bahwa Pancasila amat memberi ruang kepada keragaman.

Pembicara lain, kandidat doktor bidang teologi dari Universitas Notre Dame, Amerika

Serikat, Lailatul Fitriyah, menjelaskan, perbedaan agama di Indonesia diibaratkan pagar bambu.

"Artinya, perbedaan itu saling memengaruhi yang kemudian melahirkan kekhasan bangsa Indonesia Perbedaan agama di Indonesia bukan tembok beton yang mengotak-ngotakkan masyarakat sehingga hidup dalam status quo tanpa interaksi,” kata Fitriyah.

Pengenalan kembali

Renny Fernandez, sutradara film yang juga hadir pada dialog itu, mengatakan, harus ada pengenalan kembali Pancasila kepada masyarakat. Pihak BPIP menilai, sejak era Reformasi teijadi defisit pemahaman Pancasila karena tidak ada lagi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila Akibatnya, teijadi salah penafsiran ideologi.

’’Libatkan generasi muda dari generasi milenial (kelahiran 1979-1992) dan generasi Z (kelahiran 1993-2010) dalam menyebarluaskan pemahaman Pancasila,” ungkapnya Generasi muda perlu diajak duduk bersama dan membahas arti Pa

casila dalam sudut pandang mereka

Setelah itu, menurut Renny, generasi muda bisa mengemas advokasi Pancasila dalam berbagai bentuk kreatif. Contohnya, pengenalan Pancasila melalui komik dan film. Bahkan, anak-anak muda yang memiliki kanal media sosial dengan banyak pengikut perlu dilibatkan.

Dialog lintas sektor dan lintas generasi tersebut diadakan Yayasan Cahaya Guru. Ketua YCG Henny Supolo mengatakan, dialog mempertemukan para pihak untuk membahas isu-isu di masyarakat.

Henny memaparkan, beberapa tahun terakhir teijadi kesalahpahaman pengertian Pancasila di masyarakat. Ada pihak yang mengatakan Pancasila menghendaki masyarakat Indonesia agar seragam dalam berpolitik maupun menjalankan kepercayaan.

"Padahal, yang diharuskan seragam adalah ideologinya. Dalam semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, sudah ditegaskan bahwa perbedaan di masyarakat menjadikan bangsa Indonesia sebagai suatu kesatuan,” kata Henny. (DNE)

menu
menu