Sumber berita: KOMPAS, NO 017 THN 54, SABTU 14 JULI 2018

Sumber foto: Republika.co.id

Partai Demokrat Intensif Jalin Komunikasi Politik

PILPRES 2019

 

JAKARTA KOMPAS - Partai Demokrat intensif menjalin komunikasi politik dengan partai lain. Langkah ini bagian dari penjajakan Partai Demokrat dalam menentukan posisi pada Pemilihan Presiden 2019.

Komunikasi ini, antara lain ditunjukkan Wakil Ketua Dewan Pemhina Partai Demokrat Agus Hermanto yang pada Jumat (13/7/2018) mengunjungi kantor Dewan Pengurus Pusat PDI-P di Jakarta. Dalam kesempatan ini, Agus diterima Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto.

Sebelumnya, pada Kamis malam, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan mengunjungi kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jakarta.

Setelah bertemu sekitar satu jam dengan Agus Hermanto, Hasto mengatakan, PDI-P dan Demokrat tengah berupaya membangun dialog untuk Pilpres 2019. ’’Kami juga membahas rencana adanya poros ketiga (selain poros Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019) oleh Partai Demokrat,” ujar Hasto.

Agus Hermanto membantah pertemuannya itu untuk menawarkan Agus Harimurti Yudho- yonp sebagai calon wakil presiden untuk Jokowi. ’’Yang kita bicarakan hanya secara umum, tidak secara khusus. Pembicaraan khusus itu akan dibahas di lain waktu,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Ju- liantono menyatakan tidak tahu persis, apakah saat bertemu Prabowo Syarif Hasan juga menyampaikan keinginan agar Agus Harimurti Yudhoyono jadi cawapres untuk Prabowo. ’’Soal siapa yang menjadi cawapres, tentu itu yang sedang dibahas. Kita percayakan pada Pak Prabowo dan ketua umum partai lain untuk memutuskan,” ujarnya.

Setelah Syarief Hasan menemui Prabowo, lanjut Ferry, akan ada pertemuan antara Prabowo dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Sementara itu, Koordinator Tim Pemenangan Gerindra di Pilpres 2019 Sandiaga Uno, semalam, bertemu dengan pimpinan PKS. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan, pertemuan itu bersifat tertutup.
Posisi penting

Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Ahmad Basarah menuturkan, wapres merupakan posisi yang sangat strategis karena tiga hal. Pertama, wapres akan menjabat menjadi presiden jika pada saat masa tugasnya, presiden meninggal atau diberhentikan. Kedua, wapres menjalankan tugas presiden jika presiden tugas ke luar negeri. Ketiga, wapres menjalankan tugas sehari-hari membantu presiden atau tugas-tugas khusus yang diberikan presiden.

Dengan pertimbangan ini, parpol pendukung Jokowi di 2019 akan mempertimbangkan kepentingan bangsa dan bukan kepentingan pribadi atau kelompok, saat menentukan cawapres pendamping Jokowi. Tingginya elektabilitas dan popularitas tak jadi satu-satunya parameter. Pengalaman, integritas, dan kompetensi juga dipertimbangkan dalam memilih cawapres pendamping Jokowi. (APA/SAN/E03/INA)

 

menu
menu