Sumber berita: KOMPAS, NO 347 THN 53, SELASA 26 JUNI 2018

Sumber foto: Sumber Foto: Kompas

Pasar Baja Nasional Dijaga

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah menyatakan komitmen menjaga pasar baja di dalam negeri. Hal ini untuk menyikapi dampak kebijakan Amerika Serikat terkait dengan pengenaan tarif bea masuk produk baja impor sampai 25 persen ke negara tersebut.

’’Kalau AS saja menjaga pasar, Indonesia juga perlu menjaga pasar,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai membuka The South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) 2018 Conference and Exhibition di Jakarta, Senin (25/6/2018).

Menurut Airlangga, tahapan langkah itu tergantung pada asosiasi karena seluruhnya harus terkait dengan praktik-praktik yang tidak menyalahi WTO (Organisasi Perdagangan Dunia).

’’Instrumen yang paling tepat, ya, pengenaan bea masuk antidumping,” katanya.
Impor baja China di negara-negara ASEAN, kecuali Indonesia, dinilai stabil. ’’Hanya Indonesia yang meningkat karena memang pasar besar ada di sini,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kebutuhan baja kasar nasional saat ini mendekati 14 juta ton. Pemenuhan dari dalam negeri berkisar 8-9 juta ton. Selebihnya diimpor antara lain dari China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan India.

Ketua Umum Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron and Steel Industries Association/IISIA) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan, antidumping bersifat korektif dan merupakan aksi setelah ada yang dirugikan. Prosesnya butuh waktu. ’’Harus ada kebijakan lain yang sifatnya antisipatif, bukan korektif. Kami memperjuangkan kebijakan impor yang fair bagi industri dalam negeri,” katanya.

Impor tidak dapat ditolak karena keterbukaan ekonomi Indonesia, selain kapasitas produksi dalam negeri. Namun, asosiasi meminta ketegasan pemerintah untuk hanya membolehkan impor produk-produk yang belum bisa dibuat oleh industri baja nasional.

Menurut Mas Wigrantoro, ekspor baja Indonesia ke AS relatif sedikit, sekitar 400 ton. Dampak langsung kebijakan AS terhadap Indonesia kecil. Hal yang menjadi persoalan adalah dampak tidak langsung, seperti penumpukan produk baja dari China atau negara lain yang sulit masuk ke AS. Persoalan muncul ketika kelebihan produksi yang terjadi kemudian menjadikan Indonesia sebagai pasar yang relatif mudah dimasuki. (CAS)

 

 

menu
menu