Sumber berita: KOMPAS, N0 008 THN 54, KAMIS 05 JULI 2018

Sumber foto: Islampos.com

Pedang Bermata Dua Media Sosial

TEKNOLOGI INFORMASI

Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir sementara aplikasi Tik Tok, Selasa (3/7/2018). Media sosial yang memungkinkan penggunanya membuat video pendek dengan kreatif itu dinilai tak ramah anak karena mengandung konten negatif, seperti pornografi dan pelecehan agama.

Sebelumnya sejumlah aplikasi pernah diblokir atau diancam diblokir pemerintah, seperti Vimeo, Reddit, Netflix, Telegram, hingga WhatsApp. Beberapa aplikasi itu diblokir hingga kini. Selain konten berbau pornografi, aplikasi itu dimanfaatkan untuk penyebaran paham radikal.

Aplikasi teknologi infor,masi, termasuk media sosial, ialah produk teknologi. Semua produk teknologi ibarat pedang bermata dua, bisa menguntungkan atau merugikan meski kemunculan efek buruk itu kerap tak disadari.

Gwenn S O’Keeffe dan Kathleen Clarke-Pearson dalam The Impact of Social Media on Children, Adolescent and Families di jumal Pediatrics, April 2011, menyebut media sosial bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi dan bersosialisasi, meningkatkan kreativitas, menumbuhkan kesadaran sosial, hingga mengakses sumber pelajaran.

Bagi remaja, media sosial untuk mengakses informasi kesehatan benar, terutama hal dianggap aib seperti soal kesehatan jiwa dan hal tabu seperti informasi kesehatan reproduksi.
Sebaliknya, media sosial bisa memunculkan soal seperti perundungan siber, pelecehan daring, sexting (mengirim, menerima dan meneruskan pesan, foto atau gambar mengandung unsur seksual), dan depresi.

Dampak buruk media sosial itu lebih rentan teijadi pada remaja dibandingkan dengan orang dewasa Remaja cenderung abai dengan persoalan privasi dan mudah tergoda iklan.

Di Indonesia, pada 2017, 40 persen warganya memakai media sosial secara aktif, tumbuh 34 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya (We Are Social dan Hootsuite, Digital in 2017). Sebagian besar di antaranya adalah remaja Mereka rata-rata menghabiskan 3 jam 16 menit per hari mengakses media sosial.

Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Mayke S Tedjasaputra di Jakarta, Rabu (4/7), mengatakan, bagi anak usia sekolah dasar dan remaja dampak media sosial bergantung pada konten yang diikuti. "Makin dini terpapar media sosial, pengaruh negatifnya lebih banyak berperan,” ungkapnya.

Repotnya, sebagian orangtua memfasilitasi penggunaan media sosial tanpa mengontrol dan memandu anak terkait mana yang layak sesuai usia. Sebagian orangtua bangga jika anak kecilnya bisa merekam video dan mengunggahnya ke media sosial.

Anak adalah individu belum matang. Pola pikir dan kondisi mental mereka berkembang. Padahal, kematangan berpikir dan mental itu memengaruhi pemahaman dan cara anak menanggapi informasi yang ada. "Konten yang tak sesuai usia anak membuat mereka gagal paham, memengaruhi perilakunya, hingga membuat anak jadi dewasa sebelum waktunya,” kata Mayke.

Orangtua berperan sentral dalam pemanfaatan media sosial dan gawai pada anaknya. Orangtua perlu membatasi dan mendampingi penggunaan gawai anaknya sejak mereka anak balita.

Pemblokiran oleh pemerintah jadi cara pengelola media sosial mengelola konten dan meminimalkan dampak buruk pada anak. Nyatanya, konten negatif kerap muncul di media sosial.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Rita Pra- nawati mengingatkan, "Filter terbaik media sosial ialah pengguna dan orangtua jika pengguna media sosial adalah anak-anak,” katanya Hal itu menuntut kearifan orangtua. Upaya kontrol itu percuma jika orangtua keranjingan media sosial. (MZW)

menu
menu