Sumber berita: KOMPAS, NO 014 THN 54, RABU 11 JULI 2018

Sumber foto: Gaikindo

Pelaku Usaha Tetap Optimistis

OTOMOTIF

JAKARTA, KOMPAS — Produsen otomotif masih mencoba optimistis di tengah kondisi perekonomian yang diliputi ketidakpastian. Para pelaku usaha di sektor otomotif tetap melihat prospek pertumbuhan hingga akhir tahun ini.

Ketua Umum Gabungan Jndustri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nangoi dalam konferensi pers pelaksanaan Gaikindo Indonesia International Auto Show 2018 (GILAS) 2018 di Jakarta, Selasa (10/7/2018), mengakui, tantangan yang dihadapi industri otomotif saat ini tidak ringan. Akan tetapi, optimisme harus tetap dibangun. ’’Positif walau berat,” katanya.

Yohanes Nangoi menambahkan, berdasarkan data Gaikindo, penjualan kendaraan pada semester 1-2018 sebanyak 555.000 unit. Jika kondisi ini berlanjut, penjualan pada 2018 diperkirakan 1,1 juta-1,2 juta unit atau meningkat tipis dibanding tahun lalu.

Industri otomotif Indonesia, kata Yohanes, saat ini menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar AS. Tantangan lain adalah pasar ekspor otomotif Vietnam yang ditutup. Meski demikian, ekspor otomotif Indonesia diperkirakan tumbuh dua angka pada tahun ini.
’’Mungkin berkisar 15-16 persen tahun ini meski Vietnam sudah tidak menjadi pasar mobil kita,” katanya.

Dalam pameran otomotif GILAS di ICE BSD, Tangerang, Banten, pada 2-12 Agustus mendatang, akan diluncurkan 40 kendaraan baru. Delapan pabrikan sepeda motor juga akan mengenalkan produk mereka di pameran itu.

Rizwan Alamsjah, Ketua Penyelenggara GIIAS 2018, mengatakan, kehadiran kendaraan terbaru dan kendaraan konsep mendorong pengunjung untuk memperbarui pengetahuan dan rencana kepemilikan kendaraan. ’’GILAS sebagai ajang yang ditunggu untuk mencari informasi terbaru dari industri otomotif membuat perhelatan seperti ini sebagai kekuatan pendorong yang memengaruhi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Kendaraan listrik
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono berpendapat, edukasi bagi konsumen mengenai kendaraan bermotor listrik merupakan hal utama. Sebab, kemauan pasar tidak bisa didikte, termasuk oleh kebijakan pemerintah.

Namun, ia meyakini, kendaraan bermotor listrik pasti terealisasi. Untuk itu, diperlukan regulasi agar harga dan layanan pembelian tetap prima. Sementara infrastruktur pendukung kendaraan bermotor listrik juga mesti disediakan.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Haijanto mengatakan, pemerintah melihat pengembangan kendaraan bermotor listrik tidak hanya terkait penurunan emisi karbon, tetapi juga mengembangkan industri otomotif di Indonesia. (MHD/NAD)

 

menu
menu