Sumber berita: REPUBLIKA, NO 142 THN 26, SENIN 5 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIKA, NO 142 THN 26, SENIN 5 JUNI 2018

Pembangunan Ulll Dimulai

 
  

 

  • GUMANTrAWALIYAH

JAKARTA — Rencana pemerintah untuk menghadirkan perguruan tinggi Islam berskala internasional menemui titik terang. Proyek pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) akan dimulai Selasa (5/6) yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Joko Widodo (Joko- wi). Rencananya, Jokowi akan didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat melakukan peletakan batu pertama tersebut.

“Dijadwalkan peletakan batu pertama pembangunan UIII oleh Presiden. Lokasi pembangunannya di Ci- salak, Sukmajaya, Depok,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin di Jakarta, Senin (4/6).

Menurut dia, pembangunan fisik UIII menjadi tahapan lanjutan setelah Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pendirian UIII pada 29 Juni 2016.

Kamaruddin mengatakan, pembangunan UIII menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk membangun Pusat Peradaban Islam Indonesia (PPII). Selengkapnya, ada tiga pilar utama yang akan disiapkan dalam membangun PPII, yaitu Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Pusat Budaya Islam Indonesia (PBII), dan Pusat Pengkajian Islam Strategis (PPIS).

“UIII akan didesain dengan memberikan perhatian khusus pada kajian dan pengembangan peradaban Islam Indonesia,” ujar Kamaruddin.

Dia menilai, keberadaan UIII sa-

ingat strategis sebagai khasanah atau etalase Islam di Indonesia. Melalui UIII, mahasiswa luar negeri diharapkan dapat mengenal dan mempelajari Islam Indonesia yang relevan dan memiliki urgensi tinggi.

UIII akan mengenalkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin yang selama ini dianggap kurang tersampaikan ke dunia internasional. Dunia hanya mengenal Islam yang berkembang di Timur Tengah, bukan Islam Indonesia. “Karena itu, UIII sebagai lembaga pendidikan, strategis dalam mengenalkan Islam yang rahmatan lilialamin ini,” kata Kamaruddin.

Direktur Pendidikan Tinggi Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam Kemenag Arskal Salim menambahkan, kampus UIII akan dibangun di atas lahan sekitar 143 hektare. Beberapa bangunan yang disiapkan antara lain untuk layanan fasilitas akademik pokok, fasilitas akademik penunjang, serta fasilitas konservasi dan eksibisi kebudayaan.

“UIII nantinya hanya akan menyelenggarakan program pascasarjana Magister (S-2) dan doktoral (S-3). Sejumlah fakultas yang akan dibuka adalah Studi Islam, Humaniora, Ilmu Sosial, Sains dan Teknologi, Ekonomi dan Keuangan, Pendidikan, serta Applied dan Fine Arts,” kata dia.

Adapun untuk proses penerimaan mahasiswa baru UIII ditargetkan akan dimulai pada tahun akademik 2019/- 2020. Untpk tahun pertama, akan dibuka tiga fakultas, yaitu Studi Islam, Pendidikan, dan Ilmu Politik.

Arskal menyebut, peletakan batu pertama pembangunan UIII rencananya dihadiri juga oleh sejumlah duta

besar negara sahabat, pimpinan perguruan tinggi umum dan keagamaan, serta ulama dan tokoh masyarakat.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, pendirian UIII merupakan langkah mewujudkan kepedulian agar Islam yang senantiasa menebarkan kedamaian berkembang di dunia.

“Kenapa Indonesia saat ini sangat konsen mendirikan UIII, perguruan tinggi bersakala dunia? Karena, dengan agama orang bisa hidup saling menyayangi satu dengan yang lain dan bukan dengan agama kita hidup ber- pisah-pisah. Pemahaman inilah yang harus ditumbuhkan lewat perguruan tinggi,” ujar Menag.

Menurut Lukman, UIII akan disisi para guru besar terbaik di dunia dan sebagian besar atau 75 persen mahasiswanya berasal dari berbagai negara di penjuru dunia. Perguruan tinggi ini hanya akan memiliki program strata- 2 (S-2) dengan jumlah mahasiswa yang berkewarganegaraan Indonesia tidak lebih dari 25 persen. “Harapan kami, setelah menyelesaikan program doktoralnya, mereka bisa kembali ke negara masing-masing untuk menebarkan Islam yang moderat,” ujar Menag.

Lukman melanjutkan, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, yakni sekitar 87 persen dari total jumlah penduduk Nusantara, Indonesia bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara nilai- nilai Islam yang betul-betul memanusiakan manusia. “Karena itulah, kami di Kementerian Agama selalu mengusung moderasi agama, yaitu lawan dari ekstrem,” tegas Menag. ■ ed: eh ismait

menu
menu