Sumber berita: KOMPAS. N0 41 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: saint.trunojoyo.ac.id

Pembelajaran yang Tak Boleh Terulang

REFORMASI

 

JAKARTA, KOMPAS - Rangkaian peristiwa yang teijadi sebelum gerakan reformasi seyogianya menjadi pembelajaran bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia dewasa ini. Pembelajaran itu perlu dipetik agar sejarah dan kesalahan masa lalu tidak terulang kembali.

Menteri BUMN periode 1999-2004 pada Kabinet Gotong Royong di era Presiden Megawati Soekarnoputri, Laksamana Sukardi, mengatakan, sebelum teijadinya reformasi merupakan masa-masa sulit bagi Indonesia akibat berbagai krisis yang luar biasa. Pengalaman tersebut hendaknya jadi pembelajaran bangsa Indonesia masa kini dan masa depan.

’’Paling penting bagi kita adalah belajar dari sejarah supaya . kita tidak mengulangi kembali kesalahan-kesalahan yang sama,” ujar Laksamana saat memberikan sambutan pada peluncuran dan diskusi buku Di Balik Reformasi 1998, Catatan Pribadi Laksamana Sukardi, Senin (6/8/2018), di Jakarta

Laksamana berharap bangsa Indonesia mampu menjaga warisan yang diberikan dari gerak- . an reformasi 1998. "Warisan harus dijaga dengan baik karena kita sebagai bangsa telah mendapatkannya dengan biaya tidak murah,” ujar Laksamana.

Jatuhnya masa sebelum reformasi, ujar Laksamana, disebabkan domain ekonomi dan politik yang terusik. Pada domain ekonomi di antaranya terjadi pancasalah atau lima kesalahan. Mulai dari kesalahan tata kelola, kesalahan melihat atau tak adanya transparansi, salah kaprah atau intervensi politik, salah asuh atau pelemahan lembaga negara, hingga salah tafsir atau tak adanya kepastian hukum.

Selain Laksamana, hadir sejumlah pembicara lain yang membahas buku tersebut. Mereka adalah pakar ilmu politik Universitas Northwestern, Amerika Serikat, Jeffrey A Winters; peneliti politik Saiful Mu- jani Research and Consulting, Sirojudin Abbas; dan Kepala Pusat Peneliti Politik LIPI Firman Noor. Moderator Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas Tri Agung Kristanto.

Menurut Jeffrey, tak ada jaminan dalam proses demokrasi, termasuk proses yang dialami bangsa Indonesia pascarefor- masi. Dinamika yang dilalui tak serta-merta akan langsung sempurna, tetapi justru butuh tahapan atau langkah menuju perubahan lebih baik.

Reformasi sebagai bagian dari proses transisi demokrasi masih akan terus teijadi. Jeffrey mencontohkan sejumlah tanda yang menunjukkan Indonesia telah cukup matang dalam demokrasi. Misalnya, penyelenggaraan pemilu yang tepat waktu, kekalahan salah satu calon peserta pemilu tidak menimbulkan kegaduhan yang berkepanjangan, dan sistem politik yang sulit untuk memprediksi siapa calon pemenang pemilu.

Sirojudin menambahkan, transisi demokrasi memberikan pembelajaran pada proses politik yang lebih lunak. Pengalaman masa Orde Baru membuat orang-orang pemerintah kala itu kurang sensitif terhadap perubahan zaman. Hal itu karena kekuasaan cenderung personal. ”Ada situasi yang sulit untuk dihindari saat sebelum reformasi sehingga proses transisi demokrasi semakin keras dipeijuangkan. Hubungan pertemanan personal dalam dunia politik akan lebih erat dibandingkan kepentingan tertentu,” kata Sirojudin.

Bagi Firman, masalah pada masa itu hendaknya menjadi pengingat akan hakikat reformasi dan pembelajaran mencari solusi agar tak mengulang masa lalu kembali. (E01)

 

menu
menu