Sumber berita: KOMPAS. N0 59 THN-54 SENIN 27 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Pembuktian Kekuatan di Negeri Sendiri

JETSKI

JAKARTA, KOMPAS - Meski prestasi atlet jetski Indonesia berkibar di kancah dunia, tidak mudah membuktikan kekuatan saat berlaga di negeri sendiri. Dua bersaudara Sutan Aswar membuktikan, prestasi tertinggi harus dibangun bahu-membahu.

Jetski menyumbang emas ke-12 bagi Indonesia di Asian Games 2018 dari Aqsa Sutan Aswar pada nomor endurance runabout open di Ancol, Jakarta, Minggu (26/8/2018). Dari tiga babak, Aqsa mendapat nilai tertinggi, 1.143. Dia mengungguli Ali Allanjawi (Uni Emirat Arab, 1.127) dan Suphathat Footrakul (Thailand, 1.088) di urutan kedua dan ketiga.

”Ini pembuktian saya setelah gagal di nomor runabout limited,” kata Aqsa. Kegagalan itu membuatnya terpukul. Sebab, dia sempat memuncaki perolehan angka selama enam dari delapan putaran. Mesin jetskinya lalu mati sehingga tak bisa menyelesaikan laga.

Pada nomor terakhir, Aqsa tampil ngotot dan meraih nilai penuh, 400, pada babak pertama

Pada babak kedua dan ketiga, persaingan semakin ketat. Aqsa finis urutan ketiga pada putaran kedua dengan nilai 365, di belakang Allanjawi dan Kim Jin-won (Korea Selatan). Pada babak terakhir, dari 10 putaran yang dipertandingkan selama 35 menit, ia selalu berada di posisi dua di belakang Allanjawi.

’’Pada putaran terakhir, mesin jetski saya sempat bermasalah lagi karena air laut masuk,” ujar Aqsa. Saat itu mesinnya berjalan tersendat, tetapi tidak mati setelah digas lebih kencang.

Bahu-membahu
Kemenangan Aqsa tidak lepas dari upaya kakaknya, Aero. Di nomor itu, mesin jetski Aero mati pada babak pertama dan kedua sehingga tak bisa bersaing. Namun, pada laga final, juara dunia 2014 dan 2016 itu tampil maksimal. Selama 10 putaran, dia bertahan di posisi ketiga, sekitar 20 meter di belakang Aqsa, tidak jarang pula berdampingan.

’’Sebenarnya kalau mau, menyusul Aqsa bisa saja, tetapi tugas saya adalah mengamankan posisi Aqsa,” kata Aero. Ia harus memastikan adiknya di posisi tiga besar di babak ketiga untuk menjaga posisi teratas.

Menurut Aero, selama belasan tahun mereka berlatih dan bertanding bersama di luar negeri. Tidak ada kerja sama di antara keduanya, mereka bersaing untuk gelar individual.

’’Namun kali ini tidak, kami beijuang untuk Indonesia,” kata Aero yang menyelesaikan lomba di urutan kedelapan dari 10 peserta tersisa. Ketika laga usai dan Aqsa melakukan selebrasi di dekat garis finis, Aero mengarahkan jetskinya mendekati Aqsa. Mereka berdua menjatuhkan diri ke laut seraya berpelukan.

’’Saya sangat senang dengan keberhasilan Aqsa,” kata Aero.

Bagi keduanya, emas dari satu nomor itu dipersembahkan untuk kebanggaan seluruh masyarakat. Sebab, ini merupakan pertama kalinya mereka tampil mewakili nama bangsa di ajang mul- ticabang tingkat Asia. Cabang jetski pun baru pertama kali dipertandingkan pada Asian Games 2018. (KYR)

 

menu
menu