Sumber berita: KOMPAS, NO 064 THN 54 SENIN 03 SEPTEMBER 2018

Sumber foto: Nasional Kompas

Pemerintah Gandeng Jack Ma

BOGOR, KOMPAS — Pemerintah Indonesia mengajak pebisnis asal China, Jack Ma, untuk mengembangkan sumber daya manusia dalam bisnis rintisan. Harapannya, Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia berbakat untuk bekeija pada bisnis-bisnis rintisan ini, baik di Indonesia maupun ke negara-negara sekitar.

Diskusi untuk membuat semacam Jack Ma Institute di Indonesia muncul dalam pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (1/9/2018). Presiden Joko Widodo menerima Jack Ma di ruang Garuda Istana Bogor bersama Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, serta Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Presiden Joko Widodo menyambut hangat Jack Ma di Istana Bogor. Presiden bahkan sempat mengatakan sangat terkesan dengan Hangzhou, kota tempat kantor pusat Alibaba berada Pada 2016, Presiden Jokowi ke Hangzhou untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-20.

Presiden juga mengapresiasi Alibaba karena berinvestasi di Indonesia Presiden menyampaikan penghargaan atas komitmen Alibaba dalam sektor e-dagang dan ekonomi di Indonesia Jack Ma juga menghadiri penutupan Asian Games 2018 di Gelora Bung Kamo, Jakarta, Minggu malam.

Usul membuat Jack Ma Institute, seperti diungkapkan Rudian- tara seusai pertemuan, ditujukan untuk persiapan sumber daya manusia dalam bisnis daring dan usaha rintisan. Masalah sumber daya manusia dinilai masih belum sebanding dengan pertumbuhan ekonomi. Usaha-usaha rintisan yang sudah berlabel unicorn pun masih hams mencari sumber daya manusia dari negara lain. Hal lebih rinci dan teknis, ujar Rudiantara, dibahas Jack Ma dan beberapa menteri, Minggu (2/9) siang, di kawasan SCBD, Jakarta.

Potensi digital ekonomi Indonesia sangat besar. Sebab, pengguna internet di Indonesia salah satu yang terbanyak di dunia, yakni 93,4 juta orang, dan pengguna telepon pintar mencapai 71 juta orang. Karena itu, pemerintah menargetkan 1.000 techno- preneur dengan valuasi bisnis 10 miliar dollar AS dan nilai e-dagang 130 miliar dollar AS pada 2020.
Selain menyiapkan Jack Ma Institute, ujar Rudiantara,'pertemuan juga membicarakan kemungkinan memanfaatkan platform yang ada guna meningkatkan ekspor Indonesia ke China. (INA)

menu
menu