Sumber berita: KOMPAS. N0 54 THN-54 SELASA 21 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Tribunnews

Pemilihan Milenial

M Alwi Dahlan
Mantan Guru Besar Ilmu Komunikasi UI

 

Masyarakat tengah menghadapi tantangan pemilu yang luar biasa Tidak sekadar memilih anggota DPR atau menentukan satu dari 260 juta orang yang akan dipercaya menjadi presiden RI lima tahun ke depan, tetapi karena pemilihan ini akan menentukan perubahan masyarakat secara luas.

Tak lagi sekadar menyaring sejumlah nama yang telah dikenal, memilih pribadi dan kelompok orang atau partai yang disuka dan dapat dipercaya berdasarkan pengetahuan selama ini. Pemilihan umum yang akan menentukan perubahan kemasyarakatan Indonesia secara' luas ini akan berlangsung di tengah peralihan generasi yang rumit.

Generasi lama masih terbenam pada pola pikir yang belum berubah oleh dinamika zaman. Maka, istilah standar, kriteria idealisme, konsep, dan kemampuan lama menjadi semu. Lihat contoh Pilpres 2016 di AS.

Trump terpilih meski bertentangan dengan ukuran' konvensional. Ilmu, pengalaman, wawasan kepresidenan, ideologi, bahkan gaya hidupnya tidak sesuai dengan moral rakyat AS. Data dan prediksi polling dari semula gagal melihat bahwa dia yang akan menjadi pemenang.

Pemilu Indonesia

Di negeri kita, citra presiden juga berubah dari masa ke masa Di tangan seorang ahli kayu yang sederhana tetapi manis, presiden yang dulu berjarak kini jadi merakyat. Ia memang bukan pejuang yang pernah menyabung nyawa di medan perang. Ia juga tidak pernah satu kali pun memimpin partai nasional. Ia tidak membuat proyeksi teoretik kuantitatif rumit-rumit tentang masa depan, tetapi ia kerja dan kerja Suka atau tidak, dia adalah presiden kita

Pada pemilihan di tingkat daerah juga berlangsung dinamika yang tidak banyak dapat dijelaskan. Kemenangan dalam pil- kada serentak, beberapa, di luar prediksi pelbagai lembaga.

Masyarakat memang sedang melalui perubahan yang luar biasa Sementara peserta pemilihan ini akan jauh lebih luas, meliputi semua anggotanya tanpa kecuali, termasuk usia yang baru dewasa Yang muda usia inilah yang sebenarnya yang paling berperan. Secara nasional, 55 persen (70-80 juta) dari 193 juta pemilih 2019 akan berusia di bawah 35 tahun. Jauh di atas angka 30 persen pada Pemilu 2014. Bahkan, pemilih pemula saja kali ini akan mencapai 14 juta orang.

Dengan demikian, ini bukan hanya tantangan jumlah yang kuantitatif. Namun, lebih penting lagi, esensi kualitatitif yang multidimensional. Wawasan generasi muda ini berbeda dari seluruh penduduk, bahkan antarmereka, sehingga diberi julukan berbeda-beda: Generasi X, Gen Z, Millennial, Zaman Now.

Namun, secara esensial mereka adalah bagian dari masyarakat Revolusi Industri 4.0. Masyarakat gawai yang berjaringan digital. Wawasan, sikap, nilai, dan pengetahuan mereka komprehensif, rinci tetapi umum, global tetapi lokal, dan selalu berubah. Mereka itu dinamis.

Pilihan rumit
Mereka mungkin menghadapi pilihan yang rumit. Dari satu sisi, pemilu ini merupakan langkah yang kritis untuk menentukan kehidupan mereka yang masih jauh. Bukan hanya sepanjang masa jabatan presiden yang akan terpilih sekarang.

Dapatkah mereka mengolah esensi informasi sehingga berguna menjamin yang terbaik bagi mereka 10-15 tahun lagi? Mungkinkah mencari calon yang dapat mengembangkan kemampuan milenial ke depan?

Tuntutan ini akan makin pelik dipenuhi. Masyarakat dewasa kita makin tenggelam dalam permukaan gawatnya bergawai. Sementara Gen X ditantang oleh Revolusi 4.0 yang makin pelik dan dinamis. Dengan pengembangan IOT (internet of things), kedaulatan informasi, hak asasi baru bermunculan, seperti hak untuk dilupakan.

Perkembangannya begitu rupa seolah-olah tak akan tertangani sehingga dijuluki sebagai zaman pasca kebenaran (post truth), bahkan pasca insani atau manusia (post human). Istilah-istilah menarik, tetapi tidak mengubah keadaan.

Dengan kendala seperti itu, pemilih muda ini tengah terhambat mengubah masyarakat amatir demi masa depan mereka sendiri. Sebaliknya, mereka juga akan sukar mengharapkan masyarakat dewasa yang tengah berkuasa dan mapan untuk merombak keadaan.

Masyarakat amatir
Masyarakat dewasa memang juga bergulir, tetapi ke arah kehidupan yang makin amatir. Yang pokok dalam masyarakat seperti ini adalah tampilan, kesan sekilas, di atas permukaan, tercerabut dari inti dasar, menonjolkan tampak luar, tanpa keterkaitan fungsional.

Jika Gen Z tenggelam pada keterkaitan global yang makin meluas, generasi dewasa terikat pada interpretasi sempit, berakar jauh ke bawah, tetapi terlepas dari tantangan konkret

Bahkan, kalangan profesional yang seharusnya mengelola informasi dan tata kehidupan kita dalam berbangsa juga hanyut oleh buih-buih arus permukaan. Banyak yang berperan bukan karena kompetensi, melainkan latar belakang koneksi, seperti jasa kampanye, persahabatan, uang, kekerabatan, bahkan ikatan agama atau aliran keyakinan.

Jangankan memahami nilai manfaat serta hak milik warga negara, lembaga dan bangsa, atau menguasai dasar aturan pokok, tidak sedikit pelaksana negara yang tidak mengerti tanggung jawab profesional, etik dan moral.

Kecenderungan amatirisme malah sudah menyusup ke dalam fungsi-fungsi yang seharusnya terikat profesionalisme. Di bidang hukum, misalnya, ada pengacara yang mendustakan kebenaran dengan manipulasi fakta, seperti dalam kasus kecelakaan lalu lintas pura-pura sang mantan Ketua DPR

Peristiwa fiktif itu dirancang secara profesional guna menciptakan dan ’’menegakkan” peristiwa buatan. Ini masih ditambah lagi dengan pelecehan etik mulai dengan ’’surat sakit” dari dokter yang seharusnya profesional hingga akal-akalan dirawat di rumah sakit.

Dalam pelaksanaan pemerintahan, kasus pelanggaran profesi terhadap tolok ukur yang seharusnya ketat sekarang menjadi makin lazim. Malah, dilakukan oleh orang yang tepercaya dan dipilih, seperti terlihat pada banyaknya peningkatan kasus korupsi kepala daerah.

Anggaran amanat rakyat banyak dengan ringan dipakai untuk pribadi, kelompok, kekuatan politik, bahkan untuk kebanggaan semu material sekejap. Misalnya tas miliaran rupiah bupati yang pamer di luar negeri.

Penjenjangan karier, keahlian, dan jabatan disalip oleh tenaga yang meloncat entah dari mana yang dekat jajaran elite politik.

Menggelincir
Godaan ke arah amatir, bahkan muncul pada bidang yang dari dasarnya, justru dibangun untuk profesionalisme.

Di dunia akademi saja makin banyak penyandang doktor ganda, ada yang sampai 4 (empat) gelar. Padahal, setiap gelar itu seharusnya menunjukkan kemampuan puncak pada suatu keahlian keilmuan yang khusus, diberikan oleh otorita akademis tersendiri, sesudah melalui proses yang memakan waktu, dan matang.

Lebih tragis lagi, untuk segala ’’pengakuan” tersebut, seorang yang seperti itu memegang jabatan administratif memboroskan sumber daya nasional keahliannya.

Gelar, ijazah, akreditasi, pe-r nelitian, teori, diskursus, beda pendapat, dan banyak lagi adalah peranti profesionalisme. Namun, jika hanya dilakukan untuk sekadar syarat, dia berubah menjadi formalisasi menyesatkan, tolok ukur abal-abal yang menghambat perbaikan.

Apalagi pada dinamika informasi politik, seperti pemilu ini. Dalam masyarakat yang profesional, informasi yang selengkap mungkin menjadi dasar pengambilan keputusan yang terbaik bagi diri setiap pemilih.

Dalam masyarakat amatir, justru keadaan ini yang sengaja diputar balik dan dengan ’’bangga” dan besar-besarkan. Bahkan, dengan caci-makian personal. Malah sekarang oleh tim bayaran, seperti dilaporkan investigasi media asing minggu ini.

Apakah masyarakat kita akan makin terus bergulir, bahkan menggelincir, menjadi masyarakat amatir setelah pemilu? Apakah kita akan mempunyai legislator, bahkan presiden, yang amatir, yang akan mengelola kehidupan kita menjawab tantangan masa depan?

 

menu
menu