Sumber berita: KOMPAS. N0 80 THN-54 SELASA 18 SEPTEMBER 2018

Sumber foto: Setkab.go.id

Pemilu Menjadi Kontestasi Prestasi

PEMILIHAN PRESIDEN

JAKARTA, KOMPAS - Presiden Joko Widodo menilai dukung- mendukung adalah hal biasa dan tidak dilarang dalam negara demokrasi seperti Indonesia Namun, hal terpenting dalam pemilu adalah kontestasi gagasan, hasil kerja, prestasi, dan rekam jejak tanpa sama sekali menggunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan.

Presiden Jokowi kembali mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden 2019 sebagai bakal calon presiden didampingi bakal calon wakil presiden KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB- NU). Calon peserta Pilpres 2019 lainnya adalah Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto didampingi bakal calon wapres, Sandiaga S Uno, yang mendapat dukungan Ijtima Ulama II dari Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama.

Jokowi mengungkapkan, Indonesia adalah negara demokrasi. Ada satu kelompok mendukung Prabowo-Sandiaga dan kelompok lain mendukung Jokowi-Ma’ruf adalah hal lumrah dan tidak dilarang dalam negara demokrasi.

’’Tentu ada kelompok lain yang juga memberikan dukungan, misalnya kepada Kiai Ma’ruf Amin. Ya, kita semua tahu bahwa Kiai Ma’ruf Amin adalah ulama besar, Ketua MUI, tidak bisa ditutup-tutupi, tidak bisa dipotong-potong. Memang faktanya seperti itu,” tutur Jokowi seteleh memberikan pembekalan kepada bakal calon legislatif

DPR Partai Persatuan Indonesia (Perindo) di Jakarta, Senin (17/9/2018). Acara ini dihadiri antara lain Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo, Sekretaris Jenderal Perindo Ahmad Rofiq, serta Ketua DPP Bidang Pertahanan dan Keamanan Perindo Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati.

Presiden mengingatkan supaya dukungan dilakukan secara sehat dan sportif. Selain itu, untuk mendorong kedewasaan demokrasi di Indonesia, masyarakat perlu diajak menguji ide, gagasan, dan program yang disampaikan atau telah dilaksanakan.

Hal itu dinilai penting sebab, kata Presiden, pemilu adalah kontestasi gagasan, kontestasi hasil kerja, kontestasi prestasi, dan kontestasi rekam jejak. Karena itu, tidak semestinya fitnah dan isu SARA dimanipulasi dalam Pilpres 2019.

’’Jangan sampai dipakai isu SARA, cara-cara fitnah yang saya kira tidak mendewasakan, tidak mematangkan demokrasi kita,” ujarnya.

Sebelumnya, saat berbicara dalam Lokakarya Nasional Bakal Calon Anggota Legislatif Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Minggu (16/9/2018), Prabowo menegaskan, pemilu merupakan salah satu representasi demokrasi. Pemilu bersih akan memberikan legitimasi rakyat kepada kandidat terpilih untuk menjalankan pemerintahan dengan optimal (Kompas, 17/9/2018).

Tidak terpecah
Ma’ruf pun yakin bahwa rakyat semakin dewasa dalam berdemokrasi. Dia optimistis, saling dukung dalam Pemilihan Presiden 2019 tidak akan sampai membuat ulama terpecah. Semua ulama memiliki hak memberikan dukungan kepada pasangan calon yang mereka pilih.

’’Jadi, untuk kita, Ijtima Ulama II tidak memberi pengaruh apa pun. Ini tidak akan menjadikan perpecahan. Silakan saja, Anda mau ke sana, mau ke sini, silakan,” kata Ma’ruf.

Sejumlah kiai pesantren, menurut Ma’ruf. sudah menyatakan dukungan tersebut. ’’Sebelumnya sudah ada pertemuan ulama besar. Ulama pimpinan pesantren. Kita sudah tenang karena kiai-kiai besar pesantren sudah mendukung Jokowi-Ma’ruf. Saya sudah keliling ke mana-mana, jadi sudah dapat jaminan,” ungkapnya. (INA/E21)

 

menu
menu