Sumber berita: KOMPAS. N0 59 THN-54 SENIN 26 AGUSTUS 2018

Sumber foto: YouTubeYusril Prasetya | ilustrasi

Pendalaman Pancasila bagi Generasi Muda

Pendalaman Pancasila menjadi keniscayaan bagi generasi muda untuk memperkuat semangat nasionalisme dan keindonesiaan.

JAKARTA, KOMPAS - Semangat nasionalisme dan keindonesiaan generasi muda saat ini dinilai semakin luntur. Kondisi ini menjadi persoalan serius bagi masa depan bangsa. Untuk itu, pendidikan Pancasila yang memuat nilai kebangsaan perlu semakin ditanamkan kepada generasi muda Indonesia, terutama melalui sistem pendalaman materi.

Guru Besar Emeritus Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Driyarkara Franz Magnis-Suseno menilai, lunturnya nasionalisme pada generasi muda dipengaruhi budaya konsumerisme dan hedonisme yang saat ini kian marak. Budaya ini membuat generasi muda jadi kurang peduli pada kondisi sosial di sekitarnya

’’Nilai-nilai budaya dan agama yang seharusnya menjadi landas- an kuat bangsa Indonesia menjadi terganggu dengan budaya konsumerisme dan hedonisme. Kepedulian terhadap kaum yang miskin menjadi hilang. Itu gangguan terbesar saat ini,” ujarnya dalam konferensi pendidikan bertajuk ’’Mendidik Generasi Milenial dalam Bingkai NKRI dan

Bhinneka Tunggal Ika untuk Melanjutkan Kepemimpinan Nasional”, di Jakarta, Sabtu (25/8/2018).

Konferensi pendidikan tersebut merupakan rangkaian acara peringatan 15 tahun berdirinya Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Seusai konferensi, berlangsung pula peluncuran buku Bunga Rampai Pemikiran Guru dalam Pendidikan Kids Zaman Now dan pelatihan gratis bagi sekitar 1.000 guru sebagai upaya pendidikan penguatan karakter bangsa.
Pendidikan karakter

Franz menambahkan, nilai ke- bangsaan yang diberikan kepada generasi saat ini tidak cukup sekadar pemberian materi, tetapi harus lebih pada pendalaman materi. Pendidikan karakter menjadi salah satu hal yang harus diutamakan.

Karakter yang dimaksudkan adalah sifat menolak ketidakadilan, tidak menggunakan kekerasan, serta memiliki rasa tanggung jawab dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara

Hal lain yang juga ditekankan Franz adalah menjadikan generasi muda saat ini lebih jujur dan mampu menghormati orang lain dengan latar belakang yang berbeda-beda
Menilik sejarah bangsa Indonesia, lanjut Franz, pemuda dan pemudi itu punya peran besar dalam pembangunan bangsa Peran itu muncul mulai dari saat mendesak Soekarno agar segera membacakan proklamasi kemerdekaan, hingga memasuki masa reformasi.

’’Generasi muda bukan untuk memecahbelahkan bangsa, melainkan untuk memperkuat persatuan,” ujarnya.

Sementara Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Jakarta, Suyatno memaparkan, cara paling efektif menanamkan kembali nilai dasar Pancasila ialah melalui pendidikan, mulai dari pendidikan tingkat dasar sampai pendidikan tinggi. Selain itu, sistem pendidikan yang diterapkan amat memengaruhi pembentukan karakter seseorang.

’’Seperti yang pernah disampaikan Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata paling
ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia, kita bisa mengubah budaya perilaku masyarakat melalui pendidikan. Untuk itu, penanaman nilai NKRI merupakan kewajiban yang harus berlangsung dalam ekosistem di sekolah,” ujarnya.

Tenaga pendidik
Ia menekankan, kewajiban tenaga pendidik tak hanya mengajarkan mata pelajaran dan menuntaskan jam mengajar, tetapi juga memastikan nilai Pancasila dan kebangsaan bisa tertanam di setiap peserta didik. NKRI menjadi tujuan yang harus dicapai oleh sekolah dan sekolah menjadi wahana mencapai tujuan itu.

Ketua Umum JSIT Indonesia Mohammad Zahri menambahkan, mendidik anak bangsa dalam era milenial menuntut tenaga pendidik untuk senantiasa menghadirkan inovasi kreatif dalam seluruh proses pendidikan. Hal itu bertujuan agar peserta didik nyaman dan berbahagia di sekolah. Dengan demikian, nilai-nilai yang diajarkan bisa diterima dengan baik. (TAN)

menu
menu