Sumber berita: KOMPAS. N0 44 THN-54 JUMAT 10 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/DEONISIA ARLINTA | Seminar bertajuk “Studi Pengembamgan Electrified Vehicle di Indonesia” yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (9/8/2018).

Pengembangan Mobil Listrik Perlu Komitmen

Pengadaan mobil listrik nasional merupakan hasil konsorsium dari lima perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Perwujudannya membutuhkan komitmen bersama semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga kalangan industri dan pemangku kepentingan lainnya.

TANGERANG SELATAN, KOMPAS – Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia kian meyakinkan. Inovasi terkait pengadaan mobil listrik dan sepeda motor listrik semakin nyata terwujud. Untuk itu, komitmen melalui regulasi percepatan kendaraan listrik semakin mendesak dibutuhkan, terutama mengenai insentif, pengurangan kendaraan berbahan bakar minyak, dan penggunaan komponen lokal.

Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Chaikal Nuryakin, menyampaikan, berbagai upaya perlu dipersiapkan pemerintah agar target produksi mobil bermotor listrik pada 2025 sebesar 20 persen bisa terwujud.

“Pastikan dulu insentif yang diberikan sudah tepat, sambil mengelola regulasi lain seperti reformasi pajak untuk kendaraan listrik dan dorongan agar harga kendaraan listrik lebih terjangkau,” ujarnya dalam dalam seminar bertajuk “Studi Pengembangan Electrified Vehicle di Indonesia” di Tangeran Selatan, Banten, Kamis (9/8/2018).

Ia berpendapat, komitmen pemerintah Indonesia harus benar-benar kuat dalam penerapan regulasi pengembangan kendaraan listik. Sebagai perbandingan, regulasi yang dinilai cukup kuat dari Pemerintah China, seperti pembebasan pajak kendaraan listrik dan subsidi bagi perusahaan pun belum cukup untuk mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Dari target, 5 juta penjualan mobil listrik pada 2020, baru 579.000 unit yang terjual pada 2017.

Regulasi yang dinilai cukup kuat dari Pemerintah China, seperti pembebasan pajak kendaraan listrik dan subsidi bagi perusahaan pun belum cukup untuk mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik.

Tantangan
Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) Sadjuga menilai, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam pengadaan kendaraan listrik.Tantangan tersebut antara lain, penerimaan dan kebiasaan masyarakat, kebutuhan insentif untuk pengembangan dan penelitian, produksi komponen mobil listrik, serta infrastruktur energi listrik yang belum memadai. Meski begitu, ia optimistis terhadap masa depan kendaraan listrik di Indonesia.

Salah satu hasil pengembangan kendaraan listrik yang sudah siap diproduksi masal adalah sepeda motor listrik “Gesits”. Kendaraan ini merupakan hasil pengembangan dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya bersama dengan PT Wijaya Karya Industri Manufaktur. Rencananya, proses produksi akan dimulai pada Oktober 2018 (Kompas, 6/8/2018).

Salah satu hasil pengembangan kendaraan listrik yang sudah siap diproduksi masal adalah sepeda motor listrik “Gesits”.

Selain itu, inovasi lain yang terus dikembangkan adalah pengadaan Molina atau mobil listrik nasional. Pengembangan dari mobil listrik ini merupakan hasil konsorsium dari lima perguruan tinggi, yaitu Universitas Indonesia (Jakarta), Intitut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), Universitas Sebelas Maret (Surakarta), dan ITS Surabaya.

Sadjuga menambahkan, komitmen pemerintah untuk mendorong pengembangan riset kendaraan listrik terwujud dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) Tahun 2017-2045. “Melalui program ini, perguruan tinggi ataupun lembaga penelitian yang mengajukan gagasan untuk pengembangan kendaraan listrik akan menjadi prioritas dalam pemberian insentif,” katanya.

Selain itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga turut mendukung pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Saat ini, BPPT telah menyiapkan fasilitas laboratorium pengujian kendaraan listrik, baik untuk keperluan penelitian maupun sertifikasi. Selain itu, pengembangan teknologi charging station dilakukan dengan memanfaatkan energi terbarukan.

Saat ini, BPPT telah menyiapkan fasilitas laboratorium pengujian kendaraan listrik, baik untuk keperluan penelitian maupun sertifikasi.

Direktur Pusat Teknologi Sistem Sistem dan Prasarana Transportasi BPPT Rizqon Fajar menuturkan, program yang telah dilakukan saat ini adalah pengadaan charging station, bus listrik, dan kereta listik. Untuk mobil listrik, motor listrik, dan sepeda listrik masih dikembangkan.

“Sejumlah inovasi dari perguruan tinggi tinggal diuji coba dan ditingkatkan kesiapannya agar layak ditawarkan kepada industri,” ucapnya.

menu
menu