Sumber berita: KOMPAS. N0 59 THN-54 SENIN 26 AGUSTUS 2018

Sumber foto: economy.okezone.com | ilustrasi

Penguatan Pasar Domestik untuk Tarik Investor

MANADO, KOMPAS - Divergensi pertumbuhan ekonomi an tame- gara diperkirakan semakin lebar seiring peningkatan ketidakpastian global. Oleh karena itu, penguatan daya tarik pasar keuangan domestik harus konsisten dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan investor.

Berdasarkan Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II-2018, ketidakpastian global meningkat di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Perekonomian Amerika Serikat tumbuh kuat didukung konsumsi dan investasi. Adapun pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, dan China diperkirakan lebih rendah dari perkiraan.

Dengan perkembangan itu, bank sentral AS, The Fed, akan melanjutkan rencana kenaikan suku bunga acuan secara gradual. Sementara Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang (BoJ) cenderung menahan kenaikan suku bunga. Ketidakpastian global juga dipicu perang dagang AS dengan sejumlah negara.

Kepala Divisi Asesmen Ekonomi Makro Bank Indonesia Fadjar Majardi, akhir pekan lalu, di Manado, Sulawei Utara, mengatakan, pertumbuhan volume perdagangan dunia yang melambat akan diikuti penurunan harga komoditas, kecuali minyak. Risiko lain yang memengaruhi perekonomian global adalah kenaikan suku bunga acuan The Fed lebih agresif. Langkah The Fed diikuti respons kebijakan moneter sejumlah negara untuk mengimbangi pengetatan kebijakan moneter di AS.

’’Pelemahan nilai tukar akan terus terjadi seiring peningkatan ketidakpastian global. Namun, BI berupaya agar volatilitas pelemahan tidak ekstrem,” ujarnya

Depresiasi rupiah sejak awal tahun ini hingga Jumat (24/8/2018) sebesar 7,04 persen.
Fadjar menambahkan, dinamika global juga mengarah pada perang mata uang dan kebijakan moneter. BI menaikkan suku bunga acuan lebih awal menjadi 5,5 persen untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan memperbaiki defisit transaksi berjalan.

’’Selain imbal hasil yang besar, investor akan lebih memilih negara berkembang yang ekonominya stabil,” katanya.

Risiko
Ketidakpastian global juga meningkatkan risiko pembiayaan utang Indonesia. Moody’s Investor Service dalam keterangannya, Jumat malam, menyoroti struktur utang pemerintah yang rentan terhadap tekanan eksternal.

Disebutkan sekitar 41 persen dari total utang pemerintah dalam mata uang asing cukup berisiko di tengah ketidakstabilan nilai tukar. Kerentanan semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Penguatan nilai tukar dollar AS menyebabkan aksi jual pasar yang menambah tekanan terhadap rupiah.

Moody’s memprediksi rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara sebesar 13,4 persen pada 2018. Angka itu lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain yang memiliki peringkat kredit serupa, Baa, yaitu 8,2 persen.

Secara terpisah, ekonom dari Bank Pembangunan Asia (ADB) Institute Eric Sugandi mengatakan, pemerintah hendaknya memperlambat akselerasi utang. Risiko pembiayaan utang makin besar seiring depresiasi tukar rupiah terhadap dollar AS.

Eric menyarankan strategi sebaiknya difokuskan pada pembiayaan utang karena imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan cicilan semakin tinggi di masa depan. Selain itu, komposisi utang pemerintah dalam bentuk SBN dan pinjaman mesti dise- imbangkan. Saat ini utang didominasi dalam SBN yang lebih rentan terhadap gejolak nilai tukar rupiah. Sampai dengan akhir Juli 2018, total utang pemerintah Rp 4.253,02 triliun yang terdiri dari Rp 3.467,52 triliun dalam bentuk SBN dan Rp 785,49 triliun pinjaman.

Pasar saham
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini diperkirakan akan sangat dipengaruhi sentimen nilai tukar rupiah dan proyeksi inflasi. Jumat lalu, IHSG ditutup pada posisi 5.968,75 atau turun 0,24 persen.

Presiden Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai, kekhawatiran investor asing terhadap efek krisis finansial Turki mulai mereda. Sebab, Turki telah menerima bantuan finansial 15 miliar dollar AS dari Qatar.

’’Kabar positif ini berhasil mendorong mayoritas indeks di regional kembali berbalik,” katanya, Minggu (26/8/2018), di Jakarta.

Namun, Hans memperkirakan, pekan ini IHSG dan sejumlah indeks di pasar bursa regional berpotensi melemah. Sebab, pertemuan AS dan China gagal menghasilkan terobosan tarif impor. ’’Masih ada isu perang dagang dan pidato Gubernur The Fed soal suku bunga yang cenderung jadi sentimen penahan laju IHSG,” ujar Hans.
(KRN/DIM)

menu
menu