Sumber berita: KOMPAS, NO 006 THN 54, SELASA 3 JULY 2018

Sumber foto: tribunnews

Persiapan Haji Dimantapkan

Pemberangkatan 204.000 anggota jemaah calon haji reguler dimulai pada 17 Juli. Proses imigrasi mulai tahun ini akan dilakukan di embarkasi Tanah Air untuk memudahkan jemaah.

JAKARTA, KOMPAS - Dua pekan menjelang dimulainya peittbe- rangkatan jemaah calon haji ke Tanah Suci, Kementerian Agama dan instansi terkait fokus melakukan persiapan di dalam negeri. Finalisasi administrasi dan fasilitas terus dibenahi, termasuk dokumen keimigrasian berupa paspor dan visa jemaah serta kesiapan embarkasi.

’’Secara keseluruhan, persiapan sudah hampir mencapai 100 persen. Tinggal finalisasi, baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat berbicara di depan tim Media Center Haji (MCH) tahun 1439 H/2018, di Jakarta, Senin (2/7/2018).

Mulai 17 Juli nanti, 204.000 anggota jemaah calon haji reguler Indonesia akan mulai diberangkatkan secara bertahap melalui 13 embarkasi. Dijadwalkan, jemaah calon haji kelompok terbang (kloter) pertama mulai masuk asrama haji pada 16 Juli. Selain aspek administrasi, yang juga intens ditangani Kementerian Agama dan instansi mitranya saat ini adalah pembentukan kloter serta pemantapan manasik.

Mulai tahun ini, mayoritas proses imigrasi untuk jemaah calon haji yang dulunya dilakukan di bandara Arab Saudi akan dilakukan di embarkasi di Tanah Air. Upaya memindahkan proses imigrasi dari Arab Saudi itu sudah dirintis sejak tiga tahun lalu. Menurut Lukman, terjadi persoalan setiap kali jemaah calon haji tiba di bandara Madinah atau Jeddah. Pemindaian 10 sidik jari, biometrik (mata), dan wajah bisa memakan waktu hingga empat jam sehingga berpotensi melelahkan jemaah.

’’Anda bisa bayangkan, saat jemaah tiba di negeri orang, mereka diharuskan mengikuti proses imigrasi. Terhadap 450 orang dalam satu kloter, proses itu bisa mencapai empat jam. Dengan kondisi usia jemaah sudah banyak yang sepuh, itu bisa menguras stamina mereka,” kata Lukman.

Atas lobi yang intens dengan Kerajaan Arab Saudi, pihak imigrasi negara itu akhirnya memindahkan sebagian besar proses imigrasi itu ke embarkasi. Tentu saja, menurut Lukman, Kemenag menjamin embarkasi dan bus yang mengangkut jemaah di bandara keberangkatan steril sesuai standar keimigrasian. ”Di situlah komprominya. Yang dilakukan di bandara Jeddah ataupun di Madinah hanya verifikasi dengan satu sidik jari saja,” kata Lukman.

Kemenag juga meningkatkan layanan katering bagi jemaah. Tahun ini jemaah akan menerima 75 kali layanan katering selama di Arab Saudi. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 60 kali. Rinciannya, 40 kali makan di Mekkah, 1 kali di bandara, 18 kali di Madinah, dan 16 kali saat fase puncak haji di Arafah-Muzdalifah- Mina.

Direktur Bina Haji Kemenag Khoirizi Dasir menyatakan, pengurusan dokumen haji terus dikebut, disertai penyiapan kompetensi bagi petugas haji, salah satunya pembekalan khusus bagi petugas MCH. Tim tersebut merupakan bagian dari sekitar 800 petugas haji secara keseluruhan. Tim MCH diharapkan menggali, mengolah, dan menyampaikan informasi yang obyektif, komprehensif, dan konstruktif seputar penyelenggaraan ibadah haji.
(NAR)

menu
menu