Sumber berita: KOMPAS. N0 42 THN-54 RABU 08 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Pertemuan Informal Diduga Terjadi

KORUPSI PLTU RIAU-1

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah pertemuan informal antara pihak PT Perusahaan Listrik Negara, DPR, dan Blackgold Natural Resources diduga terjadi sepanjang proses perencanaan pembangunan PLTU Riau-1 hingga diraih kesepakatan penunjukan langsung. Aliran dana pun diduga tidak berhenti pada Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih.

Untuk kedua kalinya Komisi Pemberantasan Korupsi meminta keterangan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (7/8/2018). Setelah diperiksa lebih kurang selama delapan jam, Sofyan tidak banyak berkomentar. Ia hanya mengatakan, "Saya masih diperiksa sebagai saksi untuk Kotjo. Yang lain, tanya penyidik saja”

Sebelum menjalani pemeriksaan, Sofyan sempat berbincang serius dengan pemegang saham Blackgold Natural Resources, Johannes Budisutrisno Kotjo, saat bertemu di dekat ruang pemeriksaan. Kotjo diperiksa untuk Eni.

Pada pemeriksaan pertama, Sofyan pernah menjawab mengenai adanya sejumlah pertemuan dengan beberapa pihak, termasuk Menteri Sosial Idrus Marham yang saat itu masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar. Sofyan mengaku ada pertemuan yang dilakukan sambil bermain golf saat itu.

Juru Bicara KPK Febri DiaNsyah mengatakan, penyidik kemarin mendalami keterangan dari Sofyan terkait mekanisme kerja sama antara perusahaan BUMN tersebut dan pihak swasta yang ditunjuk. Pemeriksaan kali ini merupakan hasil penjadwalan ulang dari pemeriksaan sebelumnya pada 31 Juli lalu. ’’Pengetahuan saksi tentang pertemuan dengan pihak lain dan adanya aliran dana kepada pihak lain juga didalami;” ujar Febri.

Tidak hanya itu, Sofyan juga diklarifikasi mengenai dokumen-dokumen yang disita KPK saat menggeledah kantor PT PLN, rumah pribadinya, serta kantor dan rumah Kotjo. Hingga saat ini, pihak-pihak yang diduga terkait dalam pembahasan mekanisme kerja sama telah diperiksa sebagai saksi.

Kasus ini berawal dari penangkapan Eni dan Kotjo pada Jumat (13/7). Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap senilai Rp 4,8 miliar. Uang itu merupakan bagian dari commitment fee 2,5 persen dari nilai proyek 900 juta dollar AS atau setara Rp 12,8 triliun. Suap diduga diberikan Kotjo secara bertahap melalui staf ahli dan keluarga

Kotjo diduga menjembatani kesepakatan antara PT PLN dan Blackgold. Pada Januari 2018, Blackgold menerima letter of intent dari PT PLN untuk berlanjut ke penandatanganan power purchase agreement proyek PLTU Riau-1 berkapasitas 2 x 300 megawatt. Blackgold pun tergabung dalam konsorsium yang terdiri dari anak perusahaan PT PLN, yakni PT Pembangkitan Jawa-Bali, dan China Huadian Engineering. (IAN)

menu
menu