Sumber berita: KOMPAS, NO 034 THN 54, SELASA 31 JULI 2018

Sumber foto: KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO | Sejumlah barang bukti yang ditunjukkan dalam jumpa pers mengenai praktik joki pada ujian masuk Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Senin (30/7/2018). Barang bukti antara lain berupa jaket, telepon seluler, adaptor, aki, dan pemancar sinyal.

Peserta Ujian Gunakan Joki

Praktik joki kembali terjadi di Yogyakarta. Peralatan yang digunakan pun canggih sehingga sempat tidak terdeteksi panitia. Tarifnya berkisar Rp 10 juta-Rp 150 juta per orang.

YOGYAKARTA, KOMPAS Sembilan peserta Ujian Masuk Bersama Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, menggunakan jasa joki berteknologi tinggi. Jawaban soal ujian itu diberikan secara jarak jauh setelah soalnya dipindai menggunakan pemindai yang dikendalikan dari jarak jauh pula.

Kepala Biro Akademik dan Admisi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Wahyu Widyaningsih mengatakan, panitia telah menyiapkan pencegahan digunakannya jasa joki dalam ujian masuk. Hal itu dilakukan dengan penggeledahan berlapis menggunakan pendeteksi logam.

”Kami sudah mengantisipasi. Meski ini fakultas baru, untuk fakultas kedokteran selalu ada (praktik joki) seperti ini. Dengan ditemukannya ini, kami ingin menunjukkan bahwa kami serius. Biarpun aturannya ketat, masih terjadi seperti ini,” kata Widyaningsih di Ruang Rapat Rektorat UAD Yogyakarta, Senin (30/7/2018).

Penggeledahan dilakukan dengan cara memeriksa tubuh dan barang bawaan para peserta.

Ternyata, tujuh peserta didapati memakai alat bantu pendengaran yang dipasang dalam telinganya. Alat itu terhubung dari jarak jauh guna memberikan jawaban soal.

Sementara itu, satu peserta lagi datang agak terlambat sehingga pemeriksaannya kemungkinan ada yang terlewat. Namun, Widyaningsih telah berpesan kepada para penjaga ujian untuk mengamati tingkah para peserta, terutama pada menit-menit awal pengerjaan soal.

”Ada peserta yang mengangkat-angkat kertasnya sehingga terlihat janggal. Ternyata, adatelepon seluler yang digunakan untuk memotret di jaket yang dipakainya. Peserta hanya tinggal menggerakkan kertasnya karena telah mendapat instruksi dari jokinya, pemotretan soal dilakukan dari jarak jauh,” ujar Widyaningsih.

Selain itu, peserta itu juga memakai seperangkat kabel yang terangkai sedemikian rupa yang disembunyikan di balik kerudungnya. Panitia juga menemukan aki dan pemancar sinyal di dalam tas yang ia bawa.

Penggeledahan juga dilakukan seusai ujian. Panitia menemukan kembali satu peserta yang menggunakan joki. Saat tasnya digeledah terdapat alat pemancar sinyal dan aki serta alat bantu pendengaran yang tertanam di telinganya. Para peserta yang berlaku curang langsung didiskualifikasi dari ujian dan berada dalam daftar hitam (blacklist) untuk masuk ke universitas itu. Peserta ini mengikuti ujian gelombang ketiga yang dilangsungkan pada Minggu (29/7).

Pihak universitas kembali menemukan barang bukti yang mengindikasikan praktik joki, Senin siang. Temuan itu berupa kerudung dan rambut palsu serta dua telepon seluler yang digunakan untuk berkomunikasi dan mengambil gambar. Barang-barang tersebut ditemukan di tempat sampah.

Kepala Bidang Administrasi dan Evaluasi Akademik UAD Yogyakarta Imam Azhari mengungkapkan, modus praktik joki itu beragam. ”Pemberian alat untuk menerima jawaban itu ada yang dilakukan persis sebelum masuk ke lokasi ujian, dikirimkan melalui paket, serta didatangi ke tempat peserta itu menginap atau rumahnya,” jelas Imam.

Terkait tarif joki, kata Imam, bervariasi. Ada yang 10 juta, ada pula 150 juta. Hal itu disesuaikan dengan alat yang digunakan. Semakin banyak alatnya, semakin mahal pula biayanya. Pembayaran baru dilakukan setelah peserta itu diterima.

Imam menjelaskan, pihak panitia ujian telah berusaha melacak jaringan para joki ujian itu. Namun, mereka gagal karena para joki langsung mematikan pemancarnya sehingga tidak dapat terlacak lagi.

”Menurut pengakuan para peserta, memang mereka diminta langsung membuang perlengkapannya begitu ada indikasi bahwa mereka sudah ketahuan menggunakan joki. Mungkin, ini yang membuat para joki itu tidak terlacak,” kata Imam.

Rektor UAD Yogyakarta Kasiyarno mengatakan, praktik joki ini sudah lama berlangsung. Namun, muncul kesan ada pembiaran dari pemerintah mengingat tidak ada payung hukum yang digunakan untuk memidanakan para joki itu.

Hal itu juga terjadi pada seleksi gelombang pertama untuk fakultas kedokteran pada April 2018. ”Waktu itu, dua joki tertangkap menggantikan peserta ujian,” ujarnya. (NCA)

menu
menu