Sumber berita: KOMPAS, NO 027 THN 54, SELASA 24 JULI 2018

Sumber foto: KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Pekerja mengangkut tebu yang akan diolah di Pabrik Gula Madukismo, Bantul, DI Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Petani Makin Tertekan

Dua pekan terakhir, kalangan petani gula mendesak pemerintah menugaskan Perum Bulog menyerap gula petani hasil giling di pabrik-pabrik gula PT Perkebunan Nusantara. Para pedagang tak antusias membeli gula petani. Sebagai gambaran, harga acuan gula petani Rp 9.100 per kilogram. Namun, rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Perekonomian disepakati harga pembelian pemerintah Rp 9.700/kg.

Mengapa pedagang khawatir membeli gula petani dari hasil giling? Pedagang khawatir gula kristal putih (GKP) yang dibeli dengan harga Rp 9.700/kg akhirnya tak bisa dijual karena kondisi pasar terlalu banyak pasokan gula. Kekhawatiran yang sama dialami Bulog. Padahal, sebagai BUMN, Bulog tak boleh rugi.

Oleh karena itu, setelah dapat surat dari Menteri Perdagangan yang meminta Bulog menyerap gula petani, Menteri BUMN Rini M Soemarno ingin memastikan apa jaminan jika Bulog rugi. Salah satunya adalah penggunaan dana cadangan stabilisasi harga pangan (CSHP).

Pembayaran melalui dana CSHP itu pun tak mudah. Dana CSHP bisa cair jika kerugian Bulog dalam menyerap gula petani sudah diaudit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dari informasi yang ada, tunggakan dana CSHP yang perlu dibayar pemerintah ke Bulog pada 2017 sekitar Rp 1 triliun.

Persoalan besar adalah mengapa pedagang ataupun Bulog khawatir menyerap dan menjual gula dari tebu petani yang digiling di PG PTPN? Pasar disinyalir diserbu produk gula yang diproduksi dari bahan baku gula mentah (raw sugar) impor.

Gula mentah impor jadi bahan baku produksi gula rafinasi untuk memenuhi kebutuhan industri, yaitu industri makanan dan minuman. Gula mentah juga diproduksi jadi GKP. Gula-gula, baik gula rafinasi maupun GKP, disinyalir membanjiri pasar. Dari catatan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, pada semester I-2018, persetujuan impor gula mentah yang dikeluarkan 1,8 juta ton. Realisasi impor gula mentah semester I-2018 sekitar 1,5 juta ton.

Seberapa besar kebutuhan gula mentah? Mungkin, tak ada data yang akurat. Kapasitas terpasang pabrik pengolah tidak serta-merta bisa jadi acuan. Utilisasi pabrik biasanya jauh lebih rendah dari kapasitas terpasang.

Persoalan besar adalah mengapa pedagang ataupun Bulog khawatir menyerap dan menjual gula dari tebu petani yang digiling di PG PTPN?

Kementerian Perdagangan pernah menguji coba sistem lelang gula rafinasi untuk memonitor produksi dan kebutuhan gula rafinasi. Namun, kebijakan itu dihentikan sebelum diterapkan secara efektif.

Bisnis gula memang terkait dengan omzet triliunan rupiah. Dari total impor sekitar 3 juta ton per tahun dan asumsi harga Rp 7.000/kg, nilai impor gula mentah mencapai Rp 21 triliun. Di sisi lain, harga acuan gula di tingkat petani Rp 9.100/kg atau harga pembelian dari Bulog Rp 9.700/kg.

Artinya, selisih margin gula mentah dan gula produksi petani cukup tinggi. Oleh karena itu, tanpa tata niaga dan pembatasan atau pengawasan yang ketat terhadap perdagangan gula mentah impor, industri gula dan petani tebu akan semakin terus tertekan dari tahun ke tahun.

menu
menu