Sumber berita: KOMPAS, NO 028 THN 54,RABU 25 JULI 2018

Sumber foto: KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA | Warga bergotong royong membersihkan sumber air mereka yang dilakukan secara rutin bersamaan dengan tradisi merti desa di Sendang Mudal, Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (24/7/2018). Saat musim kemarau, sumber air tersebut sangat vital keberadaannya untuk mencukupi kebutuhan hidup ribuan warga.

Petani Mulai Gagal Panen 25 Juli 2018

Kekeringan mengakibatkan sebagian tanaman petani gagal panen. Kekurangan air bersih juga melanda banyak desa di sejumlah wilayah.

TEMANGGUNG, Kompas Kekeringan dan krisis air di lahan pertanian mengancam tanaman palawija di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Selain menyebabkan sebagian tanaman gagal panen, tanaman yang bertahan hidup mengalami penurunan produksi.

Sarwadi, petani sekaligus Kepala Dusun Bendokuluk, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, mengatakan, separuh dari 3.000 tanaman cabainya mati karena kekurangan air. Akibatnya, hasil panen merosot drastis.

”Jika biasanya mendapatkan 70 kilogram (kg) hingga 1 kuintal cabai sekali petik, saat ini untuk satu kali petik, saya hanya mendapatkan 16 kg cabai,” ujarnya, Selasa (24/7/2018). Dalam satu kali musim tanam selama empat bulan, cabai bisa dipetik 15-20 kali.

Pada kemarau, untuk mengairi lahan, dia memanfaatkan air sumur di lahan. Ke depan, dia tidak tahu apakah tanaman cabainya bisa bertahan karena sumur di lahannya kini mengering.

Karena itu, dia membatalkan rencana untuk menanam tembakau di petak lahan lain. ”Tidak mungkin menanam tembakau karena lahan sudah mengering dan susah dicangkul,” ujarnya.

Sekretaris Desa Caruban, Wahono, mengatakan, karena minimnya ketersediaan air, sekitar 60 persen dari 150 hektar lahan di Desa Caruban dibiarkan kosong tidak ditanami.

”Daripada menanggung risiko gagal panen, banyak petani memilih mengosongkan lahan dan menunda kegiatan tanam hingga musim hujan tiba,” ujarnya.

Distribusi air bersih

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten dan Wonogiri mendistribusikan air bersih ke desa terdampak kekeringan akibat musim kemarau.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten Eko Pambudi mengatakan, 121 tangki air bersih dengan volume 5.000 liter per tangki telah didistribusikan ke 10 desa di empat kecamatan yang terdampak kekeringan sejak awal Juni. Empat kecamatan itu adalah Kemalang, Jatinom, Manisrenggo, dan Karangdowo. ”Setiap hari BPBD Klaten mendistribusikan 2-3 tangki air bersih,” kata Eko di Klaten, Selasa.

Air bersih diisikan ke bak-bak penampungan umum sehingga warga yang membutuhkan dapat mengambil setiap saat. ”Distribusi bantuan air bersih akan dilakukan hingga Oktober. Sesuai informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Oktober merupakan awal musim hujan,” katanya.

Kepala BPBD Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, sejauh ini BPBD Wonogiri mendistribusikan air bersih 20 tangki. Warga Wonogiri di daerah terdampak kekeringan telah memiliki kearifan lokal untuk memenuhi kebutuhan air bersih secara mandiri, yaitu menampung air hujan dan menabung untuk membeli air bersih.

Menurut Bambang, Pemkab Wonogiri melakukan upaya penanganan kekeringan, antara lain merevitalisasi embung dan telaga, mengoptimalkan pemanfaatan sumber air bawah tanah, serta memperluas jaringan pipa air bersih. Upaya itu mengurangi jumlah desa terdampak, dari 38 desa di delapan kecamatan pada 2015, menjadi 31 desa di tujuh kecamatan tahun 2018.

Tiga desa di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten, juga dilanda kekeringan 1,5 bulan terakhir. Bantuan air untuk warga belum mencukupi sehingga mereka harus memenuhi kebutuhan air sendiri.

Petugas Pusat Pengendalian Operasi dan Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Serang Nabela Yasir di Serang, Selasa, mengatakan, pihaknya telah menerima permintaan untuk menyalurkan air bersih ke tiga desa. Ketiga desa itu adalah Desa Lontar, Alang-Alang, dan Tengkurak. Sebanyak 638 rumah tangga yang terdiri dari 4-5 orang per rumah tangga terdampak.

Nabela mengatakan, bantuan air mulai disalurkan kepada warga Desa Alang-Alang, 40 km dari pusat Kota Serang. Dari pantauan, warga beramai-ramai datang ketika mobil tangki BPBD Serang sampai di desa. Sekitar 20 drum dan 10 jeriken antre di sekitar mobil tangki.

Sejumlah warga juga membawa ember dan gentong plastik. Air disalurkan bergiliran dengan selang. Nur Arifin (25), warga Desa Alang-Alang, mengatakan, warga sudah kesulitan air sejak 1,5 bulan lalu, tetapi mobil tangki BPBD Kabupaten Serang baru datang. Air yang diperoleh dari mobil itu hanya cukup untuk sehari. Selama ini, warga memenuhi kebutuhan air minum dengan membeli Rp 3.000 per jeriken ukuran 10 liter.

Sementara itu, petani keramba jaring apung (KJA) di Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai selektif menyebar benih ikan pada musim kemarau. Mereka hanya akan memelihara ikan yang tahan hidup dengan debit air terbatas, misalnya nila. Hal itu dikatakan Muhamad Hidayat Purnama (28), pemilik KJA di Desa Cikidangbayabang, Kecamatan Mande, Cianjur.

(EGI/RWN/BAY/SEM)

menu
menu