Sumber berita: KOMPAS. N0 42 THN-54 RABU 08 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Pihak Ketiga Bantu Akses Petani

PEMBIAYAAN

JAKARTA, KOMPAS — Para pelaku jasa pembiayaan di sektor pertanian mengalami kesulitan terkait data keuangan debitornya Oleh karena itu, selain mendampingi petani, mereka melibatkan perusahaan penyerap atau offtaker dan integrator produk pertanian untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Menurut sejumlah pelaku pembiayaan, data lahan, rata-rata produksi dan hasil panen, serta anggaran yang dilaporkan petani belum akurat. ’’Seharusnya aspek-aspek tersebut terekam dalam basis data yang dapat diakses dan dipertanggungjawabkan karena berpengaruh pada tingkat risiko pembiayaan,” ujar Head of Portfolio Australia Indonesia Partnersip (AIP) Mohasin Kabir dalam lokakarya yang diadakan Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro), di Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Solusinya, kata Kabir, pihaknya bekerja sama dengan perusahaan integrator dan offtaker dalam mendata produksi petani. Kemitraan tersebut diterapkan dalam’ program pembiayaan AIP yang bernama Savira.

Model bisnis serupa diterapkan oleh Aavishkaar dengan mekanisme berinvestasi pada perusahaan portofolio. Senior Investment Manager Aavishkaar Adi Sudewa menambahkan, pihaknya menyeleksi perusahaan-perusahaan yang mengajukan pinjaman modal dan mengecek keselarasan rencana bisnis dengan sektor agrikultur.

Pemantauan perusahaan portofolio tidak berhenti sampai pembiayaan. Aavishkaar juga mengevaluasi penggunaan dana dan mengontrol kualitas produk pertanian yang dihasilkan Hingga saat ini, ada dua program agrikultur yang tengah dibiayai secara tidak langsung oleh Aavishkaar, yakni di Sumatera Utara dan Sumbawa

Investasi pada program yang berorientasi pada agrikultur turut menjadi model pembiayaan Vestifarm Indonesia, salah satu pelaku pembiayaan agrikultur dengan sistem kumpul dana publik atau crowdfunding. Sejak didirikan pada 2017, ada 30 proyek pertanian yang dibiayai dengan kebutuhan dana berkisar Rp 500 juta-Rp 1 miliar per proyek.

Chief Executive Officer Vestifarm Dharma Anjarrah- man mengatakan, Vestifarm menerapkan rangkaian pembiayaan tertutup kepada petani dan dana diberikan pada penyelenggara proyek. Tujuannya pencatatan alur keuangan dapat terlacak dengan jelas. ’’Bantuan dana yang diterima petani dalam bentuk suplai pupuk, benih, dan modal barang pratanam,” ujarnya

Ketika panen, hasil disetorkan oleh perusahaan offtaker dan integrator lalu dibagi ke petani dan investor. Dharma mengatakan, tingkat pengembalian investasi dapat mencapai 10-20 persen dalam sekali masa tanam dan panen.

Mendampingi
Salah satu kurangnya akurasi dalam pendataan keuangan petani disebabkan oleh kebiasaan bertransaksi secara tunai. Menurut Chief Executive Officer PT Amartha Mikro Fintek Andi Taufan Garuda, transaksi tunai tidak melibatkan otomatisasi pencatatan keuangan dan peruntukannya
Oleh sebab itu, Taufan menurunkan tim yang mendampingi petani secara langsung. ”Tim ini akan mengedukasi petani dalam merencanakan pinjaman, mengelola keuangan untuk produksi dan rumah tangga, serta investasi,” katanya

Sebagai penyalur kredit usaha rakyat (KUR) terbesar saat ini, PT Bank Rakyat Indonesia(Persero) Tbk fokus pada pendampingan petani. Kepala Bagian Pemasaran Divisi Bisnis Kecil dan Kemitraan BRI M Fadly R mengatakan, BRI menyerap tenaga kerja di setiap kecamatan sehingga dapat mendekati petani secara psikologis. Selain memantau penggunaan pinjaman modal, pendamping juga dapat memberitahu kondisi finansial petani. Info itu jadi gambaran dan peringatan bagi BRI secara internal. (JUD)

 

menu
menu