Sumber berita: KOMPAS, NO 002 THN 54, JUMAT 29 JUNI 2018

Sumber foto: istimewa

PILKADA 2018: Media Sosial Memberi Pengaruh Signifikan

JAKARTA, KOMPAS — Media sosial memberi pengaruh signifikan dalam persaingan politik di Pilkada 2018. Aktivitas tokoh politik dan mesin partai politik yang masif di dunia maya mampu mendongkrak raihan suara calon kepala daerah.

Direktur PoliticaWave Yose Rizal menyatakan tidak terkejut dengan hasil pemilihan gubernur di sejumlah provinsi besar, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Pasalnya, perolehan suara itu merepresentasikan besaran aktivitas mesin partai politik pendukung, para tokoh politik pendukung, dan para calon kepala daerah di internet, utamanya media sosial.
Ia mencontohkan, calon gubernur, seperti Ridwan Kamil di Jawa Barat dan Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, yang aktif berinteraksi di media sosial hingga bersedia merespons berbagai kritik terhadap mereka akhirnya menuai hasil di Pilkada 2018 berdasarkan hasil penghitungan cepat. Kemudian, peningkatan signifikan para calon kepala daerah yang diusung Partai Keadilan Sejahtera disebabkan masifnya mesin partai itu di media sosial.

’’Tokoh politik dan parpol terus menggenjot aktivitas di media sosial pada masa tenang. Dampaknya dipetik sejumlah calon kepala daerah yang selama ini justru tidak diperhitungkan dalam survei berbagai lembaga,” ujar Yose di Jakarta, Kamis (28/6/2018).

Yose menyatakan, pertarungan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara yang teijadi di media sosial menunjukkan pertarungan antara pendukung Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Pra- bowo Subianto jelang Pemilu 2019. Menurut dia, media sosial akan semakin memiliki peranan signifikan dalam Pilpres 2019.

’’Pengaruh media sosial akan semakin meningkat,terutama untuk pemilih pemula dan generasi milenial yang mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi,” katanya.

Menurun
Selama Pilkada 2018, menurut juru bicara Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Anton Setiawan, produksi dan penyebaran kampanye bernuansa hoaks dan ujaran kebencian cenderung menurun dibandingkan dengan Pilkada 2017. Iklim positif di dunia maya itu diharapkan bisa terus berlanjut hingga 2019. ’’Kami juga melihat mulai ada kesadaran dari masyarakat untuk tidak terpengaruh kampanye hitam di media sosial,” ucapnya BSSN bersama kementerian/lembaga terkait akan terus meningkatkan pemantauan di media sosial agar situasi sosial tak memanas jelang pendaftaran calon peserta Pemilihan Presiden 2019 pada Agustus mendatang.

BSSN juga tetap membangun edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran publik sehingga tidak mudah terpengaruh informasi bohong.

Kadiv Humas Polri Iijen Setyo Wasisto menambahkan, pihaknya mengedepankan pencegahan kepada pihak yang menyebarkan hoaks selama pemungutan suara Pilkada 2018. (SAN)

 

menu
menu