Sumber berita: INVESTOR DAILY, RABU 6 JUNI 2018

Sumber foto: INVESTOR DAILY, RABU 6 JUNI 2018

PLTA, Tumpuan Masa Depan EBT di Indonesia

Oleh Agus Djoko Ismanto

^ Pesatnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah di Indonesia serta meningkatnya populasi penduduk yang diproyeksikan mencapai 271 juta jiwa pada tahun 2020 akan mendorong naiknya permintaan terhadap energi listrik hingga mencapai tiga kali lipat. Hanya saja, kenaikan permintaan pasokan listrik di Indonesia tidak mudah dipenuhi.

T

untutan masyarakat dunia terhadap energi ramah lingkungan harus menjadi pertimbangan prioritas dalam mendirikan satu pembangkit listrik. Masyarakat dunia bahkan menuntut agar pemanfaatan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, seperti minyak bumi, gas alam, dan batubara mulai dikurangi karena persediaannya yang semakin terbatas. Sebagai opsi, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia berupaya memanfaatkan sumber-sumber energi ramah lingkungan. Pilihan logisnya ada pada beberapa pembangkit seperti air, surya dan angin.

Meski tidak semudah membalikkan telapak tangan, Kementerian ESDM menyatakan realisasi investasi energi baru terbarukan (EBT) di kuartal pertama tahun 2018 berangsur naik mencapai 14,7% dari target investasi subsektor energi baru terbarukan dan konservasi energi sebesar US$ 2 miliar. Yang patut disyukuri dari pencapaian itu adalah masih terjadi peningkatan investasi dibandingkan tahun 2017 yang mencatat angka US$ 1,34 miliar.

Fakta ini menunjukkan beberapa hal. Pertama, adanya kesungguhan dan konsistensi pemerintah dalam menyediakan energi terbarukan. Kedua, naiknya investasi dalam per- olehan sumber energi terbarukan, meski belum optimal.

Beruntungnya, di tengah minimnya kenaikan dari sisi investasi, semangat pemerintah dalam menyediakan energi terbarukan masih berpengaruh pada dua sisi yang tidak terpisahkan, yaitu peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan masuknya investasi lain dengan terjaminnya ketersediaan energi.

Di sisi lain, data International Renewable Energy Agency (IREnA) mengungkapkan, sektor energi terbarukan mampu menciptakan lebih dari 500.000 lapangan pekerjaan di seluruh dunia pada tahun 2017, atau
naik 5,3% dari tahun 2016. Saat ini, angka tenaga kerja di industri ini mencapai 10,3 juta orang di seluruh dunia. Indonesia termasuk 10 besar negara yang terbanyak membuka lapangan pekerjaan pada sektor pembangkit listrik tenaga air bersama dengan Tiongkok, Vietnam, Iran, Pakistan, India, Rusia, dan Brasil.

Melihat tren global dengan sejumlah perbaikan dari sisi ekonomi dan lingkungan yang ada sekarang, Indonesia harus menjadikan energi baru terbarukan sebagai agenda nasional. Paradigma yang harus diubah adalah menjadikan energi baru terbarukan sebagai sumber energi utama dan bukan lagi energi alternatif. Bahkan, Global Wind

Energy Council (GWEO. lama ini menyatakan bahwa negara- negara di Eropa bakal menggunakan 100% energi terbarukan pada tahun yang sama.

Penulis juga sepaham dengan pernyataan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar baru-baru ini. Wa- men ESDM itu mengungkapkan bahwa pengembangan energi terbarukan harus disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia. Karena itu, peran aktif pemerintah kabupaten dan kota untuk melakukan pemetaan potensi energi terbarukan di daerahnya masing-masing menjadi sangat penting.

Kementerian ESDM mengungkapkan, setidaknya terdapat enam sumber daya EBT yang dimiliki Indonesia. Yaitu energi air, surya, angin, arus laut, bioenergi, dan panas bumi. Total potenSi keenam sumber daya tersebut diperkirakan sebesar 441,7 GW dengan kapasitas terealisasi hingga saat ini baru sebesar 8,89 GW atau 2% dari potensi.

Untuk mencapai EBT sebesar 23% dengan total daya 92,2 million tonnes of oil equivalent (mtoe) pada tahun 2025 dalam Peraturan Pre-
siden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), tentunya pemerintah tidak bisa beijalan sendirian. Diperlukan peran semua pihak termasuk swasta untuk mendorong percepatan itu. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk percepatan itu yaitu kepastian hukum, sumber daya manusia yang mumpuni, dan inovasi teknologi.

Terkait payung hukum, pemerintah Indonesia sudah memiliki road map pengembangan energi nasional melalui Kebijakan Energi Nasional yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 yang menargetkan bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23% pada 2025 dan 31% pada 2050.

Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional. Pada lampiran perpres, 2023 ditargetkan 45,2 GW menggunakan energi baru terbarukan, dengan jumlah terbesar pada hidro dengan 17,9 GW dan panas bumi dengan 7,2 GW, dan energi baru terbarukan lainnya sebesar 3,1 GW. Pemerintah Indonesia mengeluarkan PP 14 Tahun 2017 untuk mendukung kebijakan Presiden Jokowi membangun pembangkit listrik dengan total 35.000 MW dengan penggunaan energi terbarukan.

Terkait sumber daya manusia dan inovasi teknologi, Indonesia bisa belajar banyak dari negara-negara •-:Xrrn%nr*

EBT, seperti Kosta Rika, Tiongkok, Swedia dan Denmark. Korelasi pemetaan potensi dan inovasi teknologi EBT juga sangat penting. Data Kementerian ESDM menyatakan terdapat 11 wilayah prioritas pengembangan energi baru terbarukan yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Total potensi EBT sekitar 225 Giga Watt (GW). Data ini harus didukung oleh penguatan kajian oleh pemerintah daerah.

Belajar dari PLTA Batang Toru

Berdasarkan kajian, Sumatera Utara memiliki potensi EBT yang berasal dari panas bumi, biogas, dan air. Total potensi energi air di Sumut mencapai 2.500 MW. Saat ini, potensi yang dimanfaatkan baru berupa lima PLTA berkapasitas 950 MW dan tujuh PLTMH berkapasitas 54 MW.

Fakta yang menarik yakni hadirnya PT North Sumatra Hydro Energi (NSHE) untuk mendirikan PLTA Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. PLTA berkapasitas 4x127,5

 

MW ini, diharapkan bisa melayani beban puncak di provinsi ini. PLTA yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2022 itu ditargetkan untuk mendukung Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) 2018-2027 yang sebesar 56.024 MW.

Berbeda dengan kebanyakan PLTA yang telah dibangun sebelumnya, banyak hal yang bisa dipelajari dari PLTA Batang Toru. Keseimbangan antara teknologi hydro dan ramah lingkungan nantinya bakal diimplementasikan. PLTA Batang Toru akan menjadi model PLTA irit lahan menggunakan konsep Run of river Hydropower yang mampu memanfaatkan aliran air sungai tanpa perlu membangun bendungan yang menimbulkan daerah genangan luas (less land Hydro Electric Power Plant).

PLTA ini hanya membutuhkan 67,7 hektare lahan yang tergenang serta 24 hektare lahan lain di badan sungai. Tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang bahwa untuk membangun satu PLTA dibutuhkan ratusan hektare lahan untuk membangun waduk serta menyingkirkan banyak perkampungan masyarakat di sekitarnya.

Pemanfaatan lahan yang minim diuntungkan karena adanya tebing curam di sepanjang sungai yang membentuk cekungan tajam berbentuk huruf V sebagai titik pembangunan bendungan sangat menguntungkan. Kontur yang menguntungkan ini mampu menjaga lahan lain untuk tetap dipertahankan sesuai habitat aslinya.

Teknologi yang dipergunakan pembangkit ini memanfaatkan air sebagai penggerak turbin utama seperti yang sudah banyak diimplementasikan di negara-negara maju. Alhasil, karena pemanfaatan lahan yang irit, pembangunan PLTA Batang Toru tidak mengorbankan permukiman penduduk karena letaknya hanya memanfaatkan kawasan yang berdekatan dengan Sungai Batang Toru dan jauh dari

Selain itu, proyek ini berupa peaker yakni beroperasi saat teijadi beban puncak kebutuhan listrik. Selama ini untuk memenuhi beban puncak digunakan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Kehadiran PLTA Batangtoru akan menghemat pengeluaran Pemerintah dari belanja BBM hampir US$ 400 juta per tahun. Tak kalah penting, pembangunan PLTA Batang Toru juga membantu menjawab permasalahan pemanasan global dengan mengurangi emisi karbon sebanyak 1,6 Megaton C02 pada saat beroperasi.

Terkait tenaga kerja, pembangunan PLTA Batang Toru diperkirakan mampu menyerap kurang lebih seribu tenaga keija pada tahap pembangunannya. Selain itu, PLTA Batang Toru diharapkan mempertahankan tren pertumbuhan ekonomi Sumut yang berada di atas nasional.

Agus Djoko Ismanto

Senior Advisor Bidang Lingkungan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE)

menu
menu