Sumber berita: KOMPAS. N0 84 THN-54 SABTU 22 SEPTEMBER 2018

Sumber foto: Metrosulawesi

Politik Uang Kian Rawan di Pemilu

Para caleg pada Pemilu 2019 lebih memilih model kampanye dari rumah ke rumah daripada pertemuan akbar. Politik uang diduga akan lebih masif.

JAKARTA, KOMPAS - Para calon anggota legislatif akan mengutamakan pendekatan personal, seperti mendatangi satu per satu rumah pemilih, daripada mengumpulkan massa dalam pertemuan akbar pada Pemilu 2019. Namun, strategi itu berpotensi mendorong biaya politik makin mahal dan memperparah praktik politik uang karena interaksi calon dengan pemilih teijadi di ruang tertutup.

Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Alex Indra Lukman, Jumat (21/9/2018), di Jakarta, mengatakan, calon anggota legislatif (caleg) dan partai politik asalnya memang harus mencari strategi baru yang berbeda dari Pemilu 2014. Sebab, sifat pemilu serentak yang berbeda dan kontestasi akan lebih sengit pada Pemilu 2019 nanti.

Alex, yang berasal dari daerah pemilihan Sumatera Barat, merasakan sengitnya persaingan pemilu mendatang itu karena dapilnya bukan merupakan basis suara Joko Widodo, capres yang diusung PDI-P. Pada Pemilu

2014, Jokowi hanya mendapat suara 23,08 persen dibandingkan • dengan Prabowo Subianto yang mendapat 76,92 persen.

Oleh karena itu, ujarnya, caleg harus memutar otak mencari strategi lain untuk memastikan perolehan suara dan kursinya aman di wilayah-wilayah yang rawan itu. Alex sendiri akan lebih mengutamakan pendekatan personal dari rumah ke rumah dibandingkan dengan penggalangan massa lewat pertemuan akbar terbuka. Apalagi, Komisi Pemilihan Umum kini juga membatasi kampanye lewat pertemuan akbar dan media massa.

’’Ketika semua dibatasi dan dipantau oleh KPU, memang jalan satu-satunya bagi partai dan caleg adalah mendatangi langsung door to door, dari rumah ke rumah,” katanya.

Kendati demikian, Alex mengakui bahwa pendekatan personal seperti itu berpotensi membuat biaya politik semakin mahal. Sebab, caleg dan partai perlu mengeluarkan biaya operasional yang tidak sedikit untuk menerjunkan sukarelawan dan kader partai guna mendatangi setiap rumah di sejumlah wilayah.

’’Justru biayanya jadi lebih besar dan tak terukur. Kalau dulu kami kampanye lewat iklan media massa atau pertemuan akbar dan mendatangkan hiburan, itu lebih bisa diukur cosf-nya,” ujarnya.

Sulit diawasi
Tidak hanya itu, pendekatan dari rumah ke rumah juga berpotensi memunculkan ruang praktik politik uang yang semakin masif di Pemilu 2019. Kampanye menjadi sulit diawasi pihak luar karena pendekatan dilakukan secara personal dan tertutup di rumah-rumah warga.

’’Bukan tidak mungkin bisa teijadi transaksi setelah mendatangi setiap rumah tangga. Lalu, siapa yang mau mengawasi kalau dilakukan intensif di rumah- rumah?” katanya

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria mengatakan hal serupa Pendekatan personal menjadi lebih penting dan efektif untuk memastikan dukungan pemilih daripada penggalangan massa lewat pertemuan terbuka.

’’Tetap akan ada panggung-panggung hiburan, penggalangan massa, tetapi cukup yang wajar- wajar dan proporsional saja Akan lebih banyak dialog, diskusi, dan menyerap aspirasi secara personal,” katanya.

Untuk itu, barisan sukarelawan partai di setiap daerah akan dikerahkan untuk membantu caleg bersangkutan mendatangi pemilih dari rumah ke rumah. ’’Untungnya para sukarelawan itu hadir atas kesadaran masing-masing sehingga mereka dengan sukarela akan diturunkan ke lapangan dari rumah ke rumah,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Eddy Soeparno mengaku partainya akan lebih intens melakukan kampanye dialogis serta melalui media sosial dan media massa daripada pengerahan massa

’’Kita melihat dari gelaran sejumlah pilkada, model kampanye rapat umum itu gaungnya saja yang besar, tetapi imbasnya ke elektoral relatif rendah. Beda kalau door to door,” ucapnya. (APA/AGE)

 

menu
menu