Sumber berita: KOMPAS, NO 033 THN 54, SENIN 30 JULI 2018

Sumber foto: Tribunnews

Polri Optimalkan Peran Pencegahan

TERORISME

JAKARTA, KOMPAS — Perluasan peran Kepolisian Negara RI di bidang pencegahan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme mulai dioptimalkan tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Selama akhir pekan lalu, sebanyak 13 terduga teroris ditangkap karena terkait jaringan teroris dan persiapan aksi teror di masa lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Polri Brigadir Jenderal (Pol) Mohammad Iqbal menjelaskan, operasi penangkapan terduga teroris itu dilaksanakan di Pekanbaru, Riau, dan Serang, Banten, pada Jumat (27/7/2018). Seluruh terduga teroris yang ditangkap, tambahnya, memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan pernah terlibat dalam perencanaan teror.

Di Riau, tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap lima terduga teroris karena memiliki hubungan dengan kelompok JAD di wilayah Riau dan Sumatera Selatan. Mereka adalah AHD, NSR, RSL, RH, dan MPA.

’’Kami akan berikan tindakan tegas kepada siapa pun yang berencana mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujar Iqbal di Jakarta, Minggu (29/7).

Sementara itu, delapan terduga teroris yang ditangkap di wilayah Banten ialah AS, NVR, AD, ARM, IDO, STO, SDR, dan JRM. Mereka adalah anggota kelompok JAD Banten yang pernah melaksanakan pelatihan paramiliter di Pulosari, Kabupaten Pandeglang, 22 Januari 2017. ARM pun ikut serta dalam perencanaan aksi teror pada akhir 2016 di wilayah Banten.

Dunia maya
Peneliti antiterorisme, Rakyan Adibrata, menilai, upaya pencegahan diperlukan karena karakter JAD, yang merupakan sel kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NTIS), berbeda dengan kelompok Jamaah Islamiyah awal tahun 2000-an. JI punya momen khusus untuk beraksi, sedangkan JAD beraksi atas instruksi pimpinannya di media sosial.

Atas dasar itu, pengamat terorisme, Al Chaidar, menganggap, tim Densus 88 Antiteror juga perlu meningkatkan pengawasan komunikasi sel-sel NIIS yang aktif di dunia maya. ’’Serangan teror sangat dipengaruhi seruan yang bersifat teologis sehingga media komunikasi perlu dicermati sungguh-sungguh untuk dapat mengantisipasi rencana aksi teror,” ujarnya (SAN)

menu
menu