Sumber berita: KOMPAS. N0 43 THN-54 KAMIS 09 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Presiden Ajak Ulama Perangi Fitnah

KEBANGSAAN

 

BOGOR, KOMPAS — Presiden Joko Widodo menepis sejumlah fitnah yang muncul ke publik. Hal ini sekaligus sebagai ajakan kepada para ulama untuk ikut memerangi fitnah yang membahayakan persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia

’’Aset terbesar bangsa Indonesia adalah persatuan dan kerukunan. Oleh sebab itu, saya selalu berpesan, marilah kita jaga ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam) kita. Kita jaga ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) kita. Karena ini adalah aset ■terbesar kita,” kata Presiden pada pidato pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8/2018). Presiden didampingi Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko.

Bupati Bogor Nurhayanti, Ketua MUI Kabupaten Bogor Ahmad Mukri Aji, Ketua MUI Jawa Barat Rachmat Syafe’i, dan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahur- muziy juga turut hadir dalam acara itu.

Presiden mengingatkan, Indonesia berpenduduk 263 juta jiwa dengan 714 suku dan 1.100 bahasa daerah. Masyarakat Indonesia dengan sistem demokrasi yang dianut, menurut Presiden, secara berkala akan melakukan pemilihan umum legislatif dan eksekutif
di berbagai level, mulai kabupaten dan kota, provinsi, sampai nasional. Untuk itu, cara-cara berkompetisi sehat dan menyejukkan harus dikembangkan, bukan cara-cara yang membahayakan persatuan bangsa, seperti fitnah.

’’Jangan sampai karena pilpres, pilgub, pemilihan bupati atau wali kota, setiap lima tahun, kita menjadi retak, tidak rukun, dan merasa tidak sebagai saudara. Ini kekeliruan yang harus kita luruskan. Ada pilihan presiden. Silakan, mau pilih siapa pun. Ini pesta demokrasi,” kata
Presiden.

Empat fitnah
Presiden kemudian menyebutkan empat fitnah yang selama ini ditujukan kepada dirinya Fitnah yang dimaksud berkaitan dengan isu Partai Komunis Indonesia (PKI), antek asing, membanjirnya tenaga kerja asing, dan anti-Islam.

Fitnah terhadap Presiden Jokowi yang kerap kali dimunculkan ke publik adalah dikait-kaitkan sebagai anggota PKI. ”PKI dibubarkan 1965. Saya lahir 1961. Masa ada PKI balita?” ujar Presiden disambut tawa hadirin.

Fitnah dan menjelek-jelekkan orang lain, menurut Presiden, bukanlah nilai-nilai ajaran Islam. Hal itu pun bukan adab dan budaya bangsa Indonesia. ’’Jangan sampai fitnah-fitnah seperti itu terus berkembang. Saya kira itu tidak baik untuk negara ini. Jangan sampai kita terjebak pada isu-isu politik. Ini penyebabnya adalah urusan politik. Ini dimulai dari situ. Jangan diterus-teruskan,” kata Presiden.

Sementara Mukri menyatakan, ulama ikut berperan dalam mendorong terpilihnya pemimpin-pemimpin yang baik dan kompeten sekaligus terus memberikan masukan konstruktif. Hal ini, antara lain, dengan cara melihat visi dan. misi kandidat pemimpin, mulai pemilihan kepala daerah hrrt^sa permru.

Bukan stempel
Mukri mengatakan, ulama terus mendoakan Presiden Jokowi tetap sehat walafiat dan terus demikian. Menurut Mukri, ulama mendukung dengan argumen karena Presiden Jokowi yang semakin mesra hubungan silaturahimnya dengan para kiai dan ulama dalam berbagai kesempatan.

’’Ulama bukan dijadikan stempel. Ulama bukan dijadikan menumpang lewat pilkada. Tapi, ulama juga ikut menengok dan melihat visi-misi seluruh kandidat Termasuk pada Pemilu 2019,” kata Mukri. (LAS)

menu
menu