Sumber berita: KOMPAS. N0 42 THN-54 RABU 08 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Tempo.co

Prioritas Kenyamanan

Penjemputan kontingen Asian Para Games di Bandara Soekarno Hatta akan dimatangkan lewat serangkaian simulasi. Itu untuk menjamin kenyamanan atlet dan menjaga eitra bangsa.

 

TANGERANG, KOMPAS - Panitia Pelaksana Asian Para Games Indonesia atau Inapgoc mulai memeriksa kesiapan infrastruktur bandara dan melakukan simulasi penjemputan kontingen. Simulasi ditekankan pada alur penjemputan atlet-atlet berkursi roda Untuk menjamin kenyamanan seluruh kontingen, kecepatan bukan prioritas utama Asian Para Games akan berlangsung di Jakarta, 6-13 Oktober 2018.

"Waktu bukan prioritas utama kami. Yang penting bagi kami adalah kontingen, terutama atlet dan ofisial, merasa nyaman saat tiba di Indonesia Sebab, yang pertama dilihat setibanya di sini, kan, bandara dan pelayanannya,” tutur Ketua Inapgoc Raja Sapta Oktohari saat simulasi kedatangan atlet Asian Para Games di Bandar Udara Internasional Soe- karno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (7/8/2018).

Dengan memaksimalkan pelayanan di bandara, kontingen yang datang diharapkan merasakan kenyamanan tanpa terburu-buru untuk tiba di wisma atlet. Para relawan akan membantu pihak bandara untuk memenuhi kebutuhan atlet dan ofisial.

Skenario penjemputan
Inapgoc, kemarin, melakukan simulasi dua skenario penjemputan atlet berkursi roda di Terminal 2 dan 3.Skenario pertama adalah simulasi lawan arus (contraflow). Simulasi dilakukan dari pintu D6 Terminal 2 menggunakan sekitar 30 kursi roda didorong oleh pihak ground handling bandara dan sukarelawan. Rombongan kemudian melewati ruang tunggu ke- berangkatan dan gerbang pemeriksaan barang bawaan untuk menuju ke lift khusus penyandang disabilitas. Lift dapat menampung empat buah kursi roda dan pendamping.

Lift tersebut membawa rombongan ke bagian imigrasi. Para atlet tidak akan melakukan pemeriksaan dokumen di loket imigrasi umum. Mereka langsung ke ruang tunggu tenaga keija Indonesia di belakang gerbang imigrasi. Dari sana, mereka akan naik bus ke wisma atlet.
"Untuk proses imigrasi atlet, ketua kontingen dan ofisial akan mengumpulkan dokumen-dokumen atlet. Setelah itu, dokumennya diserahkan kepada petugas imigrasi. Jadi, para atlet tidak melewati loket umum agar aliran penumpang lebih cepat,” kata Direktur Kedatangan, Keberangkatan, dan Logistik Inapgoc Andrian to Soedjarwo.

Cara kedua yang disimulasikan adalah menurunkan penumpang dengan ambulift, kendaraan khusus untuk menurunkan penumpang pesawat yang menggunakan kursi roda Ambulift bisa menampung sekitar 15 orang berkursi roda Inapgoc belum mengetahui pasti jumlah ambulift yang akan digunakan.

Atlet kemudian menuju pintu kedatangan 4 menggunakan mobil berkapasitas empat kursi roda dan dua hingga tiga pendamping.

"Untuk sistem ambulift, atlet dapat dibawa ke pintu 2,4, atau 6 tergantung kebutuhan. Sementara untuk pesawat rombongan yang tiba di pintu lain, seperti pintu L 5, dan lain lain, rombongan akan kami jemput dan antarkan ke pintu 4. Dari pintu 4, para atlet akan turun menggunakan lift khusus,” ujar Senior Manager Terminal 2 Bandar Udara Internasional Soekamo-Hatta Erwin Revianto.

Untuk penjemputan di Terminal 3, simulasi dimulai dari pintu kedatangan 8, kemudian melewati tempat akreditasi dan imigrasi khusus, serta melewati antrean khusus Bea dan Cukai untuk mempercepat proses pemeriksaan dan pengambilan barang. Setelah itu, rombongan akan menunggu bus ke Wisma Atlet di pintu keluar.

"Khusus di Terminal 3, kami sudah koordinasi dengan pihak bandara, imigrasi, serta Bea dan Cukai agar menyediakan tempat khusus bagi kontingen untuk melakukan akreditasi, pemeriksaan dokumen, dan pengambilan alat atlet,” papar Andrianto.

Perkiraan waktu
Estimasi waktu dari kedatangan hingga ruang tunggu, lanjut Andrianto, dengan memperkirakan pengambilan bagasi dan pengumpulan dokumen atlet, proses penerimaan atlet di Terminal
2 dapat selesai dalam waktu sekitar 30 menit. Sementara proses di Terminal 3 dapat selesai dalam waktu 45 menit. ”Di Terminal 3 lebih lama karena memang jarak yang ditempuh atlet lebih jauh dibandingkan dengan Terminal 2,” ujarnya

” Untuk atlet yang tidak menggunakan kursi roda kami akan menyediakan golf cart untuk mempercepat proses penerimaan kontingen. Saat ini pihak bandara sudah menyediakan enam buah di masing-masing terminal. Kami sedang mengupayakan untuk menambah enam lagi di masing-masing terminal,” tutur Andrianto menjelaskan.

Menurut Okto, pihaknya akan kembali melakukan simulasi seperti ini sesering mungkin. Simulasi ini dinilai penting untuk memaksimalkan kineija pihak panitia dan bandara. (E08)

 

menu
menu