Sumber berita: KOMPAS. N0 44 THN-54 JUMAT 10 AGUSTUS 2018

Sumber foto: AFP/PATRIK STOLLARZ , kompas.id| Bantaran Sungai Rhine di Duesseldorf, Jerman, Rabu (8/8/2018), mengering karena empasan gelombang panas.

Produksi Pertanian Turun

zurich, rabu Efek atas perekonomian akibat gelombang panas yang menerpa daratan Eropa dan sebagian Asia mulai terasa. Aneka langkah dilakukan oleh otoritas-otoritas sejumlah negara untuk mengurangi efek negatif yang muncul dari kejadian alam itu.

Harga gandum di Eropa naik mencapai level paling tinggi dalam empat tahun terakhir, di level 6-7 dollar AS per bushel. Adapun di pasar future di Chicago pada tengah pekan lalu terjadi kenaikan harga gandum ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Harga gandum giling yang diperdagangkan di Paris juga tercatat naik sampai 33 persen sepanjang 2018.

The Wall Street Journal melaporkan, harga bahan makanan ternak di sejumlah wilayah naik. Kenaikan harga gandum juga dapat membawa konsekuensi semakin mahalnya harga roti. Suhu panas dan kering secara tipikal menghambat pertumbuhan tanaman gandum sekaligus mengurangi kualitasnya.

Laporan Bloomberg pada Rabu (8/8/2018) menunjukkan kemungkinan Jerman tahun ini akan mengalami jumlah panen pertanian terkecil dalam 24 tahun terakhir. Suplai para petani lokal dikhawatirkan turun.

Seiring dengan terjadinya gelombang panas, produksi gandum oleh produsen kedua terbanyak di Uni Eropa itu sepanjang 2018 diperkirakan mencapai 36,3 juta metrik ton. Dari sisi volume, ada penurunan sekitar 20 persen dibandingkan dengan hasil panen pada tahun sebelumnya.

Asosiasi peternak Jerman, DRV, menyatakan, jumlah panen tahun ini diperkirakan mencapai level paling rendah sejak 1994. ”Panen gandum Jerman akan berada di bawah tingkat konsumsi domestik untuk pertama kalinya setelah beberapa lama tahun ini,” demikian pernyataan tertulis pihak DRV.

Setelah mengalami kelebihan pasokan dalam beberapa tahun, tanaman gandum pada 2018 mengalami gangguan akibat gelombang panas di sejumlah negara. Lahan pertanian yang terdampak berada di Rusia, Ukraina, Perancis, dan Inggris. Kondisi serupa dikhawatirkan terjadi di Australia, China, dan beberapa negara lain di Asia.

Gandum memasuki masa panen antara Juni dan September. Data teraktual menunjukkan ada penurunan volume. Dewan Gandum Internasional bulan lalu memperkirakan produksi gandum di Uni Eropa pada tahun 2018-2019 hanya mencapai 140 juta metrik ton. Angka itu turun dari 148,3 juta metrik ton seperti tercatat hingga Maret tahun ini.

Hasil ternak

Hasil peternakan, khususnya di Eropa, juga diperkirakan terdampak gelombang panas. Pemerintah Swiss, misalnya, mengerahkan angkatan udara untuk mengguyur air di kawasan peternakan. Sepanjang Selasa lalu, helikopter-helikopter militer Swiss menjalankan tugas tersebut.

Hal tersebut dilakukan setelah para peternak di Swiss mengeluhkan puluhan ribu ternak mengalami kehausan akibat kekeringan dan gelombang panas. Helikopter-helikopter memastikan pasokan air di Pegunungan Jura dan lembah Alpine sesuai kebutuhan.

Pemerintah Swiss akan memangkas tarif makanan ternak dan juga menawarkan pinjaman tanpa bunga bagi para petani. Mereka diharapkan tertolong di tengah kemungkinan hantaman terhadap hasil ternak akibat gelombang panas tahun ini.

Sementara itu, kekeringan di Irlandia membuat pendapatan peternak sapi perah kemungkinan akan berkurang setengahnya pada 2018. Hal itu dinyatakan Teagasc dari badan penasihat pertanian di Irlandia.

Di sejumlah negara di Eropa, salah satunya Inggris, pola tanam para petani juga dilaporkan berubah dalam beberapa tahun ini. Kekeringan meningkatkan harga makanan, sementara kebutuhan pokok mungkin akan berkurang pada musim gugur tahun ini.

Pada Juli, petani harus mengimpor selada untuk memenuhi kontrak dengan supermarket. Salah satu perusahaan kargo mengatakan telah mengimpor 30.000 lembar selada dari Los Angeles selama satu akhir pekan pada bulan Juli saja.

(REUTERS/BEN)

menu
menu