Sumber berita: KOMPAS. N0 41 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: DOKUMEN TNK | kompas.id|Komodo di Pulau Komodo.

Pulau Komodo Perlu Helikopter Pengawas

KUPANG, KOMPAS — Kawasan Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, butuh helikopoter untuk mengawasi 146 pulau dengan luas kawasan 173.000 hektar. Pengawasan melalui laut tidak cukup karena sarana kapal dan personel terbatas. Pengawasan Taman Nasional Komodo juga perlu melibatkan penduduk lokal dan diberlakukan ketat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu mengatakan, wilayah Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan kawasan yang sebagian besar berupa lautan dengan 146 pulau. Wilayah daratan seluas 603 kilometer persegi dari total wilayah kawasan 1.817 kilometer persegi.

Tahun 1991, TNK diakui sebagai situs warisan dunia dari UNESCO. Tidak hanya itu, 11 November 2011, New 7 Wonders menetapkan TNK sebagai salah satu pemenang, termasuk hutan Amazon di Brasil, Teluk Halong di Vietnam, air terjun Iquazu di Brasil, Pulau Jeju di Korea Selatan, sungai bawah tanah Puerto Princesa di Filipina, dan Table Mountain di Afrika Selatan.

“Itu berarti TNK butuh perhatian khusus dari pemerintah, termasuk mengadakan sarana dan prasarana pendukung, terutama pengawasan atas keselamatan, keindahan, serta pelestarian fauna dan flora di pulau itu. Sudah saatnya TNK memiliki helikopter, lengkap dengan fasilitas pendukung, termasuk alat pemadam kebakaran dari udara dengan menggunakan helikopter,” kata Jelamu.

Pengawasan melalui laut tidak cukup. Luas lautan 1.214 kilometer persegi dan luas daratan hanya 603 kilometer persegi. Dengan luas laut seperti ini, TNK butuh kapal pengawas lebih dari 50 unit. Jumlah kapal patroli saat ini tak sampai 20 unit. Di lain sisi, kondisi laut sering dilanda gelombang dan angin kencang sehingga sering mengganggu pelayaran. Kapal patroli yang dibutuhkan minimal 2-3 unit berbobot di atas 500 GT.

Kemudian, TNK butuh personel pengawas lebih dari 200 orang, sesuai luas kawasan TNK. Personel pengawas TNK pun harus bekerja sama dengan penduduk lokal sehingga mereka ikut terlibat mengawasi seluruh pulau dan laut.

Menurut Kepala Balai TNK Budhy Kurniawan, ada 277 spesies satwa di dalam TNK yang merupakan perpaduan hewan dari Australia dan Asia dengan 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptil. Ada 25 spesies hewan darat yang dilindungi, di antaranya komodo. Jumlah 25 spesies ini termasuk spesies langka dan terbatas penyeberannya.

Terdapat pula 252 spesies karang pembentuk terumbu di sana dan 1.000 spesies ikan. Keindahan terumbu karang ini memiliki daya tarik bagi wisatawan untuk menyelam atau berenang.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) NTT Abed Frans mengatakan, sebagai situs warisan dunia, TNK harus lebih ketat dikawal. Setiap pengunjung wajib disterilkan dari korek api, rokok, dan sarana lain yang mengancam lingkungan di kawasan TNK.

“Pengunjung tidak hanya diberi imbauan untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan kenyamanan kawasan. Mereka juga diberi pemahaman tentang status TNK sebagai situs warisan dunia dan sebagai peraih New 7 Wonders 2011,” kata Abed.

Ia meminta pemerintah jujur dan transparan mengelola kawasan TNK. Jangan ada upaya merusak citra kawasan TNK dengan menghadirkan perusahaan swasta yang membangun tempat peristirahatan, golf, dan rekreasi di dalam kawasan itu.

Selain itu, keamanan dan kenyamanan komodo juga hendaknya diutamakan. “Komodo itu pemberian dan hadiah Tuhan yang dihadirkan secara alamiah, bukan diciptakan manusia. Biarkan komodo hidup di alam bebas secara alamiah. Jangan membangun rasa nyaman, aman, dan kedamaian pengunjung di atas punggung komodo,” katanya. (KOR)

menu
menu