Sumber berita: KOMPAS, NO 026 THN 54, SENIN 23 JULI 2018

Sumber foto: Wacana info

Rasa Malu Kepemimpinan

Herry Tjahjono
CEO Sebuah Grup Perusahaan Swasta di Jakarta

Kepemimpinan tak akan pernah usang untuk dibahas. Sebab, perannya sangat sentral dalam organisasi apa pun, bahkan organisasi keluarga sekalipun.

Kepemimpinan juga sudah sangat banyak dibahas dari berbagai aspeknya; mulai dari kompetensi, pengalaman, kineija, hingga budaya Namun, yang sering dilupakan adalah sebuah fakta sederhana: di antara sekian banyak faktor penting itu menyelip faktor non-teknis yang justru jadi salah satu faktor terpenting, yakni rasa malu (kepemimpinan). Rasa malu ini sesungguhnya faktor dominan yang mewarnai ’’nasib” kepemimpinan seorang pemimpin, kineijanya, pengembangan dirinya, sikapnya dan pada gilirannya menentukan ’’nasib” organisasi dan pengikut yang dipimpinnya.

Michael Lewis (Shame: Exposed Self, 1995) dan Stephen Pattison (Shame: Theory, Therapy, Theology, 2000) secara relatif menjelaskan soal malu dalam kaitan dengan perasaan yang dialami Hawa seusai melanggar perintah Tuhan untuk tak makan buah kuldi di Taman Eden. Buah kuldi sebagai buah tentang pengetahuan baik dan jahat. Kisah itu juga akhirnya menuturkan tentang rasa malu Hawa tatkala sadar dirinya telanjang usai berbuat dosa, yaitu melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah kuldi. Artinya, sejak itulah Hawa (dan Adam) mulai memiliki rasa malu, yang pada gilirannya membentuk sejarah umat manusia.

Dua jenis rasa malu

Secara garis besar, terkait konteks tulisan ini, ada dua jenis rasa malu kepemimpinan. Pertama, rasa malu terhadap diri sendiri, bersifat internal. Rasa malu ini menentukan apakah seorang pemimpin memperlakukan kursi kepemimpinannya sebagai amanah atau ambisi. Pemimpin yang memiliki rasa malu internal akan memperlakukan kepemimpinan atau kekuasaanmu yang dipegangnya sebagai amanah.

Maka, jika dalam menjalankan kepemimpinan itu ia membuat kesalahan, kegagalan, keteledoran, dan kelemahan lainnya, sikap yang diambilnya adalah seperti Hawa: menutup aurat dan tubuh telanjangnya dengan pakaian (konon, dedaunan). Secara analogis, menutup aurat dan tubuh telanjang itu adalah mengakui kesalahannya, berani memikul tanggung jawab, memperbaiki diri dan muaranya adalah membentuk sebuah kerendahan hati.

Pemimpin yang memiliki rasa malu internal dan amanah biasanya terus tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan kepemimpinannya Sebab, ia punya rasa jengah pada dirinya sendiri ketika salah, lalu punya kerendahan hati untuk mengakui kelemahannya serta siap belajar memperbaikinya Sampai batas-batas tertentu, kita punya beberapa pemimpin yang termasuk memiliki rasa malu internal serta amanah.

Sementara pemimpin yang tak punya rasa malu internal biasanya akan memperlakukan kepemimpinan dan kekuasaan yang ia miliki sebagai ambisi. Pemimpin semacam ini tidak akan pernah mengakui kesalahan, apalagi meminta maaf. Dia akan memanipulasi semua hal untuk pembenaran diri. Kita paham betapa banyak pemimpin semacam ini di negeri kita Baginya yang terpenting memenuhi ambisi pribadi. Dia tak punya rasa malu bahkan atas dirinya sendiri. Dia tak pernah jengah pada dirinya ketika melakukan berbagai kegagalan. Kalau perlu dia akan melemparkan kesalahan kepada siapa pun yang bisa disalahkannya.

Kedua, rasa malu terhadap orang lain, eksternal. Rasa malu eksternal ini yang akan menentukan apakah kekuasaan yang digenggamnya ditujukan untuk diri sendiri atau untuk organisasi Jika ia pirnya rasa malu eksternal, ia akan memperlakukan kekuasaan yang dimilikinya sebagai sarana, bukan tujuan. Maka, dalam prosesnya, seorang pemimpin akan menggunakan kekuasaannya semata-mata demi kemaslahatan dan keberhasilan organisasi (pengikut warga, rakyat). Semua untuk organisasi atau negara, bahkan keluarga tak boleh sedikit pun mencicipi kekuasaan yang ada dalam tangannya

Sementara jika pemimpin tak punya rasa malu eksternal, ia akan memperlakukan kekuasaan sebagai tujuan. Akibatnya, dia akan menggunakan segala cara (termasuk yang paling memalukan sekalipun) untuk memenuhi kesenangan dirinya sendiri. Semua upaya ditujukan untuk keberhasilan diri, bukan organisasi. Kalau perlu keberhasilan orang lain, pendahulunya pun dia klaim sebagai keberhasilan dirinya Dia akan menggunakan fasilitas organisasi untuk kesenangan dirinya, termasuk keluarganya Dan, kita paham, betapa banyak pemimpin semacam ini berkeliaran setiap hari di depan mata kita.
Dua upaya
Muara dari tulisan ini sederhana, tetapi sangat esensial bagi kelangsungan hidup sebuah organisasi, termasuk (organisasi) Indonesia, (organisasi) DPR, dan seterusnya. Pemimpin yang memiliki rasa malu internal dan eksternal, ambang batas rasa malunya sangat rendah sehingga ia sangat mudah merasa malu, jengah. Ia sungkan jika tak bisa memberi manfaat bagi orang lain, pekerjaan, masyarakat, bangsanya

Sebaliknya, pemimpin tanpa rasa malu internal dan eksternal akan membabi buta dan pantang mundur meski gagal atau berbuat sesuatu yang memalukan. Mereka tak akan mundur dengan hormat karena memilih untuk bertahan meski tanpa kehormatan sekalipun. Hanya pemimpin dengan rasa malu internal dan eksternal yang bersedia mundur secara dewasa dan sportif jika gagal atau berbuat sesuatu yang memalukan.

Bangsa yang miskin akan pemimpin dengan rasa malu internal dan eksternal pada akhirnya akan jadi bangsa yang memalukan. Ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, peneladanan kepemimpinan bernuansakan rasa malu internal dan eksternal yang signifikan dari atas, dalam konteks negeri ini hal itu sudah coba dilakukan oleh sebagian pemimpin kita, meski belum sempurna. Kedua, mekanisme pemilihan pemimpin yang lebih berlandaskan meritokrasi bukan lagi didominasi oleh nuansa politik identitas. Sebab, politik identitas itu sendiri adalah sebuah proses yang tak mengenal rasa malu terhadap siapa pun, maka pemimpin yang dilahirkannya pun cenderung tak punya rasa malu kepemimpinan.

menu
menu