Sumber berita: KOMPAS, NO 037 THN JUMAT 03 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/PRIYOMBODO | Gambar valuta asing menghiasi tempat penukaran valas di pusat perbelanjaan di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu (28/7/2018). Mata uang sejumlah negara di Asian termasuk Indonesia masih melemah akibat ketidakpastian keuangan global.

Rupiah Tertahan Pembelian Valas

JAKARTA, KOMPAS–Aliran dana asing ke Surat Berharga Negara menunjukkan tren positif. Namun, aliran dana itu belum dapat memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Penyebabnya, ada pembelian valuta asing oleh korporasi dalam jumlah cukup besar.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada Kamis (2/8/2018), sebesar Rp 14.446 per dollar AS. Selama Juli 2018, nilai tukar rupiah berkisar Rp 14.000-an per dollar AS. Pelemahan rupiah terdalam tahun ini terjadi pada 20 Juli, yaitu Rp 14.520 per dollar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsyah kepada Kompas, Kamis (2/8/2018), mengatakan, per akhir Juli 2018, investor asing membukukan beli bersih Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 9,1 triliun. Adapun sejak awal tahun, beli bersih SBN mencapai Rp 3,11 triliun.

Hal itu mengindikasikan risiko ketidakpastian penempatan aset finansial rupiah mulai menurun jika dibandingkan dengan Mei dan Juni. Kendati ada di atas level Rp 14.000 per dollar AS, nilai tukar rupiah semakin stabil. Dengan demikian, risiko kerugian dari pergerakan nilai tukar semakin berkurang.

“Investor asing menganggap imbal hasil SBN sebesar 7,8 persen sangat atraktif. Mereka juga melihat biaya pendanaan rupiah untuk penempatan pada SBN kembali turun dan stabil, sehingga dapat meminimalkan risiko kerugian,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjut Nanang, seharusnya aliran dana asing itu bisa memperkuat rupiah. Namun, momentum penguatan rupiah tertahan pembelian valutas asing (valas) oleh korporasi dalam negeri.

 

“Selama Juli 2018 atau sejalan dengan dana asing yang masuk kembali ke SBN, jual bersih valas oleh investor asing mencapai 900 juta dollar AS. Pasokan valas tersebut tidak dapat menutup beli bersih valas korporasi domestik yang mencapai 1,14 miliar dollar AS,” ujar Nanang.

Lindung nilai

Nanang menambahkan, BI sedang merumuskan kebijakan untuk mengefisienkan biaya lindung nilai melalui penguatan efektivitas instrumen operasi moneter. Fokusnya, pengembangan dan efisiensi pasar swap untuk tenor 6 bulan dan 12 bulan. Swap adalah mekanisme tukar-menukar.

Selama ini, pasar instrumen lindung nilai swap untuk tenor 6 bulan dan 12 bulan belum ada. Sementara, premi swap untuk tenor 1 tahun di bank BUKU 4 sebesar 5,4 persen. “Premi swap tenor 6 bulan dan 12 bulan itu nantinya diharapkan lebih rendah dari 5,4 persen,” ujarnya.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam mengatakan, BI telah berupaya meredam dana asing keluar dari pasar keuangan dalam negeri dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin pada paruh pertama tahun ini.

Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan kepemilikan asing di SBN turun pada Juni 2018. Pada akhir 2017, persentase kepemilikan asing di SBN sebesar 39,82 persen dari keseluruhan SBN. Pada Juni 2018, kepemilikan itu turun 2,03 persen menjadi 37,79 persen.

“Proporsi kepemilikan asing yang besar di Indonesia itu berisiko bagi Indonesia karena dapat menekan nilai tukar jika ada tekanan eksternal yang membuat dana asing keluar,” kata dia. (HEN)

menu
menu