Sumber berita: KOMPAS. N0 53 THN-54 SENIN 20 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kronik Totabuan.com

Sainte Lague dan Pemilu 2019

Alokasi kursi DPR pada Pemilu 2019 dihitung dengan mekanisme baru. Penghitungan alokasi kursi DPR baru dilakukan jika parpol meraih suara minimal 4 persen dari suara sah nasional.

 

Pemilihan Umum 2019, selain bapu dari sisi keserentakan pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden, juga mengatur beberapa hal baru, termasuk di antaranya memperkenalkan Sainte Lague sebagai mekanisme penghitungan alokasi kursi. Seperti apa metode ini dan apa implikasi perubahan metode hitung Bilangan Pembagi Pemilih dari Kuota Hare menjadi Sainte Lague?

Pada Pemilu 2014, Indonesia menggunakan metode Kuota Hare atau Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Legislatif yang menjadi basis penyelenggaraan Pemilu 2014 disebutkan, alokasi kursi dihitung dengan menetapkan jumlah suara sah, lalu membagi suara sah dengan alokasi kursi untuk mendapatkan BPP. Setelah itu, baru kemudian jumlah suara sah dibandingkan dengan BPP.

Apabila suara sah partai politik sama atau lebih besar dari BPP, dalam penghitungan tahap pertama, diperoleh kursi dengan kemungkinan ada sisa suara yang akan dihitung pada tahap kedua. Apabila suara sah parpol lebih kecil dari BPP, pada penghitungan tahap pertama tidak mendapat kursi dan suara sah dikategorikan suara sisa yang akan dihitung pada penghitungan tahap kedua. Penghitungan tahap kedua dilakukan dengan membagi kursi satu per satu hingga habis dengan berdasarkan pada sisa suara terbanyak.

Penggunaan Sainte Lague baru digunakan setelah diatur dalam Pasal 420 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Di UU Pemilu disebutkan bahwa alokasi kursi dihitung dengan awalnya menetapkan suara sah setiap parpol di daerah pemilihan. Suara sah setiap parpol lalu dibagi bilangan pembagi ganjil, yakni pembagian itu lalu diurutkan berdasarkan jumlah terbanyak. Jumlah terbanyak pertama mendapat kursi pertama, begitu seterusnya hingga jumlah kursi per daerah pemilihan habis terbagi.

Namun, perhitungan ini baru bisa dimulai setelah penentuan ambang batas perolehan suara pemilu DPR minimal 4 persen’ dari suara sah nasional. Parpol yang tak lolos ketentuan itu tidak akan diikutkan dalam penghitungan alokasi kursi DPR Kendati demikian, ketentuan ambang batas minimal suara 4 persen ini tidak berlaku untuk penghitungan DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/ kota.

Ilustrasi
Sebagai ilustrasi, ada empat partai politik memperebutkan delapan kursi legislatif di satu daerah pemilihan dengan total suara sah 880.000. Partai Moderat mendapat 350.000 suara, Partai Kanan mendapat 80.000 suara, Partai Kiri 70.000 suara, dan Partai Sosial Demokrat 380.000 suara.

Dengan menggunakan penghitungan Sainte Lague, Partai Moderat mendapat tiga kursi, Sosial Demokrat tiga kursi, dan Partai Kiri serta Kanan masing-masing satu kursi (lihat tabel). Jika dibandingkan dengan metode penghitungan BPP, dengan simulasi ini, alokasi kursi yang didapat setiap partai relatif sama dengan penghitungan Sainte Lague.

Setelah alokasi jumlah kursi per parpol per dapil didapat, •baru kemudian dilakukan penentuan calon terpilih. Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Viryan Azis, di Jakarta, Selasa (14/8/2018), menuturkan, kendati dalam penentuan daftar calon menggunakan nomor urut, dalam hal penentuan calon terpilih menggunakan perolehan suara terbanyak.

’’Penghitungan perolehan kursi menggunakan Sainte Lague murni, sedangkan penetapan calon terpilih berdasarkan pada perolehan suara terbanyak di setiap partai politik,” kata Viryan dikembangkan oleh Andre Sanite Lague dari Perancis. Metode ini dinilai secara umum menguntungkan partai politik skala menengah dengan mengurangi ’’keuntungan” parpol besar dan parpol kecil.

Direktur Eksekutif Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD) August Mellaz, Selasa, menuturkan, akan menarik untuk melihat implikasi dari penerapan metode Sainte Lague dalam Pemilu 2019 terhadap partai politik di parlemen, apakah akan mendorong konsentrasi partai atau justru fragmentasi partai.

Secara teoretis, kata dia, metode ini setidaknya membantu konsentrasi partai pada saat partai-partai yang mendapat porsi kursi kecil mulai kehilangan kursi. Porsi kursi ini dihitung dari suara sah parpol tertentu dibagi dengan total suara sah daerah pemilihan dikali jumlah kursi yang diperebutkan.

Namun, dari simulasi SPD terhadap data Pemilu 2014, pergeseran alokasi kursi antara metode penghitungan BPP dan Sainte Lague relatif minim, hanya kurang dari 1 persen dari total kursi DPR, yakni lima kursi dari 560 kursi DPR di 77 daerah pemilihan yang disimulasikan. ”Ada tendensi untuk konsentrasi, tetapi konsentrasi parpol ini juga bergantung pada sejauh mana partai politik meyakinkan pemilih untuk tetap memilih partai itu,” katanya

Tetap saja, partai politik harus bekeija keras.... (ANTONY LEE)

 

 

menu
menu