Sumber berita: KOMPAS. N0 62 THN-54 KAMIS 30 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Sandiaga: Rakyat Ingin Kontestasi Menyejukkan

PILPRES 2019

JAKARTA, KOMPAS - Sandiaga Uno, bakal calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto, menyatakan, mayoritas masyarakat menginginkan situasi dan kondisi yang harmonis selama kontestasi. Oleh karena itu, pesan untuk membangun politik yang sejuk dan membangun optimisme selama proses Pemilu 2019 perlu terus digaungkan.

Kondisi ini, lanjut Sandiaga, membuat dirinya bersama Prabowo Subianto akan menghadirkan Pemilu 2019 yang sejuk. Ia berharap para pendukungnya dan pendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin tidak menjadikan kontestasi politik sebagai alasan untuk merenggangkan persatuan bangsa

’’Jadi, kami berharap semua pihak tidak baperan (bawa perasaan), santai, dan mudah-mudahan mampu mencerahkan masyarakat,” ujar Sandiaga, Rabu (29/8/2018), ketika berkunjung ke Redaksi Harian Kompas di Palmerah, Jakarta. Dalam kunjungan itu, Sandiaga antara lain didamping Sudirman Said dan Ferry Mursyidan Baldan.

’’Sangat kecil masyarakat yang seperti (baperan) itu, terpolarisasi di kanan dan kiri. Menurut saya, kalau kita tetap konsisten dan istikamah sampaikan pesan positif yang menyejukkan dan membangun optimisme, tidak ada yang tidak mungkin,” ucapnya

Sudirman menambahkan, untuk menghindari polarisasi dan perpecahan akibat Pilpres 2019, dirinya secara konsisten berkomunikasi dengan tokoh politik yang mendukung pasangan Jo- kowi-Amin. Ia mencontohkan, dirinya tetap menjaga silaturahim dengan Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan pasangannya di Pilkada Jawa Tengah 2018, Ida Fauziyah. yang mendukung Jokowi-Amin. ’’Pilihan politik berbeda, tetapi persahabatan tak pernah putus,” tuturnya

Sementara Ferry menyatakan, pemilu adalah kontestasi politik setiap lima tahun sekali. Untuk itu, siapa pun tak perlu membangun permusuhan di antara anak bangsa Pemilu 2019 sepatutnya jadi ajang para kontestan saling berlomba meyakinkan masyarakat. ’’Pemilu harus membuat kegairahan berkompetisi, bukan bangkitkan amarah,” katanya.

Segregasi
Ancaman segregasi sosial akibat pemilu kini mesti lebih serius diantisipasi. Pasalnya, berdasarkan hasil survei Polmark Research Center (PRC), sebesar 4,3 persen pemilih di Jakarta diketahui rusak hubungan pertemanannya karena Pilpres 2014. Selain itu, setidaknya 5,7 persen pemilih di Jakarta juga mengaku rusak hubungan pertemanannya karena Pilkada Jakarta 2017.

Survei dengan 1.200 responden itu memiliki margin of error 2.9 persen.
Direktur Riset Polmark Indonesia Eko Bambang Subiantoro mengatakan, hasil survei itu memang tidak bisa serta-merta di- generalisasi menjadi potensi ancaman secara nasional. Namun, segregasi sosial yang terjadi di DKI Jakarta sebagai ibu kota perlu diantisipasi agar tidak meluas ke daerah lain.

’’Angka 4,3 persen dan 5,7 persen itu, jika itu diproyeksikan ke jumlah pemilih, maka jumlahnya sangat signifikan, apalagi itu terjadi di Jakarta sebagai ibu kota,” ujar Eko.

Eko menjelaskan, ancaman itu semakin nyata seiring tingginya tingkat penyebaran berita bohong atau hoaks di media sosial. Dari hasil survei yang sama, berita bohong atau hoaks telah menjangkau 60,8 pemilih pengguna media sosial dengan intensitas berbeda-beda. Ironisnya, dari jumlah mereka yang terpapar hoaks, hanya 4,9 persen saja pemilih yang mengirimkan klarifikasi jika telanjur mengirimkan hoaks.

Siti Zuhro dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menuturkan, masyarakat dapat menangkal hoaks jika mereka mau menggali pengetahuan dan informasi yang jernih dari sumber yang tepercaya Masyarakat juga harus membangun rasa saling percaya meski beda pilihan. ’’Kita masih belum cukup lapang dada membiarkan orang lain punya pilihan beda Ini salah besar,” ujarnya (SAN/IAN/BOW)

 

menu
menu